Mbah Ndero, Seorang Sayyid Pendatang di Desa Tedunan Jepara
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Mbah Ndero, Seorang Sayyid Pendatang di Desa Tedunan Jepara

Duta Islam #01
Minggu, 14 Juli 2019
Loading...

Makam Mbah Ndero - Sayyid Abdurrahman Abdus-Somad, Tedunan, Kedung, Jepara saat haul tiap Jumat Wage Bulan Rajab. Sumber: Google Maps.

Dutaislam.com - Tedunan adalah sebuah nama desa di Kecamatan Kedung, Jepara. Dinamakan Tedunan karena dulunya, desa tersebut adalah tempat udun-udunan (menurunkan barang dari kapal/bongkar-muat) muatan kapal dari para pedagang dan pelancong dari pesisir Semarang.

Sejak perjalanan darat Jepara-Semarang mudah lebih mudah ditempuh, Tedunan tidak lagi digunakan sebagai udun-udunan, meski masih banyak pula profesi nelayan yang digeluti oleh warga sekitar.

Ceritanya, saat terjadi Geger Pecinan di Kudus tahun 1918, Tedunan pernah menjadi tempat menyeberang korban konflik untuk melarikan diri ke Semarang, dari Jepara. Karena itulah, di Tedunan terdapat bekas kompleks makam kuburan Cina.

Baca: Gus Dur Menemukan Makam Syeikh Abdullah Qutbuddin Wonosobo

Keturunan warga Cina dari Geger Pecinan Kudus yang tidak melarikan diri, hingga kini masih dijumpai di daerah Kecamatan Welahan. Klentheng tertua juga terdapat di daerah ini.

Di Tedunan, ada makam keramat yang setiap Jumat Wage Bulan Rajab, selalu diperingati haul-nya. Nama pemilik makam tersebut adalah Mbah Dero (Ndero), yang letaknya ada di salah satu komplek khusus dekat sawah di Tedunan. Beliau adalah seorang sayyid yang dikenal warga dengan nama sebagai Mbah Abdurrahman.

Ada yang menyebut, ndero adalah panggilan spontan orang Jawa untuk nama singkatan Durrohman, menjadi Derohman, dan akhirnya (secara pelat) populer dengan Mbah Nderrohman (Ndero).

Ada pula yang mengatakan, asal mula kata Ndero adalah "Ndoro" yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai "Tuan" untuk para keturunana Rasulullah Saw. secara umum. Lengkapnya adalah Ndoro Abdurrahman, dipanggil "ndoro" saja. Oleh Habib Luthfi bin Yahya, sekitar 12an tahun yang lalu nama Mbah Ndero disebut sebagai Abdus-Somad.

Baca: Ini yang Tidak Boleh Dilakukan Saat Ziarah ke Makam KH Ahmad Dahlan

Warga Tedunan akhirnya menambahnya menjadi Ndoro Abdurrahman Abdus-Somad. Nama itu dikenalkan Abah Lutfhi ketika rombongan petinggi Tedunan saat itu sowan ke Pekalongan untuk memberikan petunjuk tentang siapa sejatinya Mbah Ndero Tedunan.

Menurut warga sekitar, ditemukannya makam Mbah Ndero bermula dari munculnya cahaya putih yang menjulang tinggi ke langit. Dilihat oleh mata kassyaf, hal itu adalah petanda waliyullah. Banyak sumber menyebut Mbah Ndero bukan asli Tedunan, melainkan pendatang.

Hanya sebatas itu saja informasi yang diterima Dutaislam.com dari beberapa warga yang ditemui, antara lain H. Nasrun dan Kiai Nashirin. [dutaislam.com/ab]
Loading...