Mantan Teroris Curhat Bagaimana Kelompok Radikal Tebar Pengaruh di Kampus
Cari Berita

Advertisement

Mantan Teroris Curhat Bagaimana Kelompok Radikal Tebar Pengaruh di Kampus

Duta Islam #03
Minggu, 28 Juli 2019

HTI adalah salah satu kelompok radikal yang berbahaya bagi keutuhan NKRI. Ilustrasi: Istimewa.
DutaIslam.Com - Banyak mahasiswa mulai terpapar paham radikal.

Menurut Mantan Narapidana Teroris (Napiter) Kurnia Widodo, pihak kampus perlu mewaspadai mahasiswa yang sikapnya tiba-tiba berubah, seperti, tidak mau beribadah dengan kawan lainnya, mengkafirkan orang yang tidak sepaham, tidak mengakui negara, membatasi pergaulan secara sepihak atau bahkan meninggalkan kuliah.

"Bisa jadi mahasiswa tersebut, sudah terpapar paham radikalisme," kata Kurnia saat memberikan testomoni dalam Dialog pelibatan civitas akademika di kampus Universitas Jember, Rabu (24/07/2019) dikutip dari Liputan6.com.

Sebab, lanjut Kurnia, kelompok teroris memiliki paham garis keras, dengan jargon: "Barang siapa yang tidak mengkafirkan orang kafir, maka dia orang kafir". Kurnia meminta kampus melakukan pendekatan persuasif jika menemukan mahasiswa seperti ini.

Kurnia Widodo menceritakan pengalamannya terlibat dalam organisasi teroris. Beberapa di antara pelaku terorisme adalah sarjana lulusan kampus seperti dirinya.

"Awalnya saya mengikuti semacam pengajian atau dauroh dan mulai terpengaruh sehingga kemudian masuk ke dalam kelompok teroris," ujar pria berjenggot tipis ini.

Kurnia adalah lulusan sebuah perguruan tinggi negeri ternama, jurusan teknik kimia. Karena itu, ketika masuk dalam kelompok teroris, Kurnia Widodo diberi tugas sebagai perakit bom.

Dia pernah malang melintang di Jawa hingga Aceh, hingga akhirnya ditangkap dan divonis 6 tahun penjara. Oleh karena itu, Kurnia Widodo meminta kampus memperhatikan betul kondisi mahasiswanya agar terhindar dari pengaruh paham-paham radikal yang bisa mengarah ke aksi terorisme.

Kurnia menyarankan, kampus harus aktif memberikan pembinaan kepada mahasiswa dengan memberikan wawasan keagamaan dan sosial budaya yang benar dengan berbagai cara, mulai membina masjid hingga mengawasi kegiatan-kegiatan berkedok training, pengajian atau tablig akbar.

Bagi mahasiswa, lanjutnya, jangan mudah percaya kepada informasi yang belum jelas atau hoaks, jangan mudah kagum pada orang yang dianggap ulama, padahal, dia belum jelas latar belakangnya.

"Selalu lakukan saring sebelum sharing informasi dan aktif mencari informasi lain sebagai pembanding," katanya. [dutaislam.com/pin]

Keterangan: Data diolah dari Liputan6.com dari berita berjudul 'Paham Radikal Menyusup ke Dalam Kampus, Waspadai Perubahan Sikap Mahasiswa'.


close
Banner iklan disini