Kiai Said: Agama Harus Jadi Simpul Peradaban dan Perdamain
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Kiai Said: Agama Harus Jadi Simpul Peradaban dan Perdamain

Duta Islam #04
Selasa, 30 Juli 2019
Loading...

KH. Said Aqil Siraj (sumber:khaskempek.com)
Agama hadir di tengah-tengah umat manusia sebagai simpul peradaban dan perdamain. Pasalnya, agama menjadi pedoman nilai persatuan antar umat manusia dalam membangun kehidupan bermasyarakat.

Dilansir nuonline.com, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa sangat keliru jika agama digunakan sebagai alat pemecah belah umat serta dipakai untuk menebarkan kebencian dan fitnah. Agama justru hadir untuk melawan segala bentuk kerusakan, seperti membuat hoaks dan sebagainya.

"Agama harus digunakan untuk membangun peradaban. Bukan sebaliknya," tegas Kiai Said.

Demikian disampaikan Kiai Said pada acara Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara PBNU dan Nusantara TV, di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (29/7).

Kiai Said melihat fakta tersebut terkadang dilakukan oleh orang-orang berpendidikan. Tentunya, ini sangat memperhatikan dan menjadi PR besar umat Islam. Fakta itu dibuktikan dengan banyak mahasiswa terpapar radikalisme melalui doktrinasi di kampusnya.

Oleh karena itu, lanjut putra kedua KH. Aqil SIraj Kempek ini, santri atau mahasiswa yang berada di lingkungan NU terseret paham radikalisme agar dikeluarkan. Sebab, hal itu sangat membahayakan persatuan.

“Kalau ada usir aja, Pak Bukhori (Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU), kalau ada (di) UNU atau pesantren yang radikal, usir saja,” ucapnya.

Menurutnya, NU sejak 1936 telah berkomitmen menjadikan Indonesia sebagai negara damai sekali pun tidak menggunakan negara agama Islam. Kemudian di Muktamar NU yang diselenggarakan di Situbondo pada 1984, NU menegaskan komitmennya dengan menerima empat pilar, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-undang Dasar 1945.

“(Jadi) Tidak boleh warga NU ada yang bermimpi menjadikan Indonesia sebagai negara Islam (formal),” ujarnya.

Ia mempersilakan kelompok yang tidak mau menerima Pancasila dan tiga pilar lainnya untuk tinggal di negara lain. Sebab, warga negara Indonesia dalam menjalani kehidupan harus sesuai dengan konstitusi yang berlaku.

“Satu-satunya yang kita anggap konstitusional adalah yang berdasarkan Pancasila. Kalau tidak (mau Pancasila), silakan pilih pindah ke Afghanistan,” ucapnya diikuti tawa hadirin.

Hadir sejumlah Ketua PBNU, yaitu KH Abdul Manan Ghani, KH Hasib Wahab, H Robikin Emhas, H Aizzuddin Abdurrahman, Juri Ardiantoro, Sekjen PBNU H Ahmad Helmy Faishal Zaini, Presiden Komisaris Nusantara TV Nurdin Tampubolon, Ketua LTM PBNU Ustadz H Mansur Syaerozi, dan Sekretaris LD PBNU Ustadz H Bukhori Muslim. [dutaislam.com/in]

Source: NU Online
Loading...