Hanya Untuk Mendapat Barokah Kyai, Bisyaroh Cuma Dapat di Lakukan Pesantren
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Hanya Untuk Mendapat Barokah Kyai, Bisyaroh Cuma Dapat di Lakukan Pesantren

Duta Islam #07
Jumat, 05 Juli 2019
Loading...

Tradisi pesantren di nusantara
Tradisi pesantren di nusantara. Foto: istimewa
Pada awalnya, masyarakat Indonesia juga memiliki tradisi yang menyerupai system bisyaroh, yang kita kenal dengan gotongroyong.

DutaIslam.Com - Umumnya dalam masyarakat Indonesia, istilah bisyaroh merupakan tanda terima kasih atas jasa yang telah dilakukan seseorang yang diminta untuk melakukan sesuatu dalam hal ibadah. Istilah bisyaroh, lebih sering kita dengar dalam dunia pondok pesantren, dibandingkan dengan yang ada di masyarakat.

Makna bisyaroh dalam pondok pesantren adalah pesangon atau insentif. Pergeseran makna bisyaroh dari “kabar gembira” menjadi “pesangon atau insentif”, tidak terlepas dari tradisi dan kebudayaan yang ada di dalam pondok pesantren.

Pada saat ini, kususnya di kalangan pesantren, istilah bisyaroh (pesangon) digunakan untuk sebutan gaji atau bayaran terhadap para pengurus atau ustad atas dasar jasa layanan, atau jasa pengajaran di podok pesantren. Pemahaman ini, bisa anda jumpai dalam pondok pesantren salaf, seperti; Pondok pesantren Kempek, Babakan, Pesantren Lirboyo, Pesantren Al Anwar Sarang, dan sebagainya.

Secara keumuman dalam pesantren, jumlah bisyaroh itu tidak besar, tidak seperti gaji atau honor yang biasa diterima oleh para pekerja atau pejabat pada umumnya. Hal ini di karenakan, mereka tidak bertujuan untuk berkerja, melainkan untuk tujuan mulia, yaitu mengharap barokah (berkah) dan khidmah (pengabdian) terhadap kiai.

Baca: Anggap Korupsi Tradisi Pesantren, Kader Demokrat Zara Zettira Dinilai Sangat Kurangajar

Bisyaroh dalam dunia pesantren, lebih pada sikap penghargaan kiai terhadap para pembantunya (pengajar dan pegawai yang lain) atas sesuatu yang mereka kerjakan, walaupun, mereka tidak menghapkannya, dalam arti, tanpa bisyaroh pun mereka akan tetap melakukan hal tersebut.

Bentuk Bisyaroh 

Jenis dari Bisyaroh yang diberikan kepada seseorang sangat beragam, sesuai dengan apa yang dimiliki dan kegiatannya. Bisyaroh tersebut, ada yang berbentuk barang kebutuhan sehari-hari, (besar, pakaian, peralatan mandi, dan lain-lain) dan ada juga yang berbentuk uang, sesuai dengan kebiasaan dari masing-masing daerah.

Biasanya bentuk bisyaroh di pondok pesantren yang diberikan kepada para pegawainya, berupa: beras, peralatan mandi, dan uang, yang cukup dalam waktu satu bulan dengan hidup yang sederhana. Hal ini berbeda, dengan bisyaroh yang di terima oleh para mubalig (penceramah). Para mubalig menerima bisyaroh dalam bentuk makanan dan uang.

Tradisi Bisyaroh

Kita sepakat bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang mandiri, baik dari segi materi (kebutuhan keluarga dan operasional pesantren), maupun non materi (kurikulum pesantren). Hal ini, dapat dilihat dari segi masih tetap eksisnya lembaga tersebut dalam kurun waktu yang panjang.

Pondok pesantren dengan sosok figure besar seorang kiai akan terus mengelola pondok pesantrennya agar tetap eksis, baik dari segi kurikulum, perekonomian dan lulusan yang diinginkan, serta mempertahankan pesantrennya agar tetap menjadi pilihan ditengah-tengah lembaga-lembaga pendidikan yang lain.

Salah satu kontrol kiai dalam memenuhi kebutuhan materi, baik untuk kepentingan keluarga ataupun pesantrennya, dengan cara membuat usaha. Usaha yang biasa digeluti oleh para kiai adalah pertanian dan perdagangan. Dalam manajemen usaha, kiai butuh  para pegawai yang umunya adalah para santrinya, yang dianggap memiliki kapasitas atau dengan pertimbangan-pertimbangan lain.

Tradisi Pesantren di Nusantara


Disisi lain, kedewasaan santri dan kemauan mereka untuk mandiri (tidak bergantung lagi pada orang tua) serta keinginan mereka untuk meringankan beban orang tua, ada beberapa santri yang ikut serta mengabdi di pesantren sebagai dewan asatidz dan khodim. Hal ini, akan terjadinya komunikasi antara kiai dan santri lebih intens.

Menurut Mansur Hidayat dalam penelitiannya tentang, model komunikasi kiai dengan santri di Pesantren Raudhatul Qur'an Annasimiyyah, menyatakan bahwa komunikasi antara kiai dengan santri terjadi sangat intens, baik melalui lembaga yaitu pesantren, maupun secara langsung. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa sifat komunikasi kiai ke santri adalah intruksi yang mutlak, sedangkan model komunikasi santri kepada kiai adalah terbatas dalam lingkup persoalan tertentu.

Menurutnya komunikasi seperti ini, akan melahirkan sikap keseganan santri kepada kiai, dan model komunikasi ini, akan lebih mudah dalam proses transfer of knowledge, serta dipandang cukup ideal dalam pendidikan akhlak.

Penjelasan di atas, menunjukkan adanya hubungan (komunikasi) timbal-balik antara kiai dan santri dalam mengembangkan pendidikan dan perekonomian pesantren, yang bersifat kelembagaan dan personal. Hubungan ini, bukan hanya hubungan antara guru dan murid, tetapi juga hubungan kemitraan dalam membangun dan mengembangkan pondok pesantren.

Penulis berpendapat bahwa hubungan kemitraan dan kebaikan kiai ini, yang memunculkan sejarah adanya istilah bisyaroh dalam pondok pesantren. Manajemen unik yang ada di pondok pesantren, akan susah bahkan mustahil untuk di praktikkan ke dalam lembaga-lembaga pendidikan yang lain, di luar pondok pesantren.

Lembaga pendidikan di luar pesantren akan kesusahan dalam menjaring tenaga handal, bila menggunakan system bisyaroh dalam memberikan upah karyawannya. Ada beberapa penelitian bahwa system bisyaroh adalah salah satu dari kelemahan pondok pesantren, dengan alasan minimnya bisyaroh yang diterima pegawai. Hal ini akan berdampak pada sebagian pegawai yang kurang puas dengan minimnya insentif, atas dasar tesebut, kemudian pegawai akan bercabang dengan mencari pekerjaan lain agar dapat mencukupi kebutuhan hidupnya.

Penulis tidak sependapat dengan kesimpulan tersebut. Hemat penulis, hal tersebut, kemungkinan besar ada dilembaga pendidikan yang lain, bukan pondok pesantren, dengan alasan, tujuan para pegawai di pondok pesantren bukan untuk bekerja, berbeda dari lembaga-lembaga yang lain.

Baca: Geram, Hashtag #ZarazettiraHinaPesantren di Puncak Trending Topic Twitter

Model gajian bisyaroh (pesangon) hanya dapat di praktikkan dalam dunia pesantren, dan akan kesulitan jika dipraktikkan pada lembaga-lembaga yang lain. Hal yang membedakan hal tersebut yaitu:

Tujuan pegawai (khodim) di pondok pesantren bukan untuk bekerja, tetapi pengabdian (mencari berkah/barokah), berbeda dari tujuan para pegawai pada lembaga-lembaga lain, di luar pondok pesantren. Para pegawai di pondok pesantren umumnya adalah para santri (murid) pondok tersebut.

Semoga senantiasa kita di berikan rahmat dan hidayah sehingga kita bisa menerima apa yang sudah di berikan oleh Allah SWT, begitupun tulisan ini semoga bermanfaat dan lebih bisa diambil manfaatnya. [dutaislam/ka]

close
Banner iklan disini