Tidak Dianjurkannya Pembelajaran Ilmu Otodidak di Era Milenial Google
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Tidak Dianjurkannya Pembelajaran Ilmu Otodidak di Era Milenial Google

Duta Islam #07
Senin, 03 Juni 2019
Loading...

pentingnya guru harus memiliki kedudukan yang terhormat dan bermartabat
Penjelasan pentingnya guru. Foto: istimewa
Salah satu hal penting diperhatikan seorang murid adalah adab kepada guru. Adab menjadi salah satu kunci mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah.

DutaIslam.Com - Seseorang yang belajar ilmu tanpa mempunyai adab, apalagi sampai durhaka kepada guru, akan menjadi penghalang barokah dan manfaatnya ilmu. Karena pentingnya adab tersebut. Para ulama telah banyak mewanti-wanti agar jangan sampai durhaka kepada guru.

Dalam kitab Ta’limul Muataalim, Syeikh Al-Zarnuji mengatakan bahwa prasyarat yang harus dipenuhi oleh seorang dalam menuntut ilmu terbagai menjadi enam unsur: kecerdasan, kesungguhan, kesabaran, mau berkorban finansial, adanya pentunjuk guru, dan ditempuh dengan waktu yang relatif lama.

Keenam syarat tersebut adalah piranti  utama yang bisa dilakukan atau dipenuhi oleh seseorang jika ia ingin merengkuh sebuah kesuksesan dalam belajar dan dalam pendidikan. Patut untuk dicatat dan digaris bawahi bahwa unsur guru masuk sebagai salah satu prasayarat kesuksesan dalam menempuh pendidikan.

Baca; Silsilah, Mursyid dan Murid

Dewasa ini, kita sering mendengar istilah "Santri Google". Istilah ini sesungguhnya merupakan istilah sindiran yang bernada mengejek kepada siapa saja yang cenderung mencari ilmu dan belajar dengan jalan instan tanpa mencari seorang guru. Belajar di dunia virtual dan dunia maya melalui kanal informasi yang tidak terhitung jumlahnya memang kemudahan zaman digital ini. Namun patut disayangkan bahwa keadaan yang demikian itu malah tidak semakin mendewasakan cara belajar kita, justru sebaliknya semakin membuat perilaku kita menjadi kekanak-kanakan.

Banyak orang pintar baru yang tiba-tiba secara psikologis selalu menempatkan dirinya sebagai orang pintar atau ingin dirinya selalu dianggap pintar. Orang lain, selain dirinya adalah orang bodoh.

Ilmu agama tidak bisa diperoleh dengan hanya membaca buku atau kitab. Akan tetapi harus talaqqi, belajar secara langsung kepada para ulama yang dipercaya. Hal ini seperti yang menjadi tradisi di dunia pesantren.

Pentingnya Guru Harus Memiliki Kedudukan yang Terhormat dan Bermartabat


Al-Hafizh Abu Bakar al-Khathib al-Baghdadi berkata:

لا يؤخذ العلم إلا من أفواه العلماء

Artinya:
Ilmu tidak dapat diperoleh kecuali dari lidah para ulama.

Sebagian ulama salaf berkata:

الذي يأخذ الحديث من الكتب يسمى صحفيا، والذي يأخذ القرآن من المصحف يسمى مصحفيا ولا يسمى قارئا

Artinya:
Orang yang memperoleh hadits dari buku (tanpa berguru) disebut Shahafi (pembuka buku). Orang yang mengambil Al-Quran dari mushaf, disebut Mushafi (pembuka mushaf), dan tidak disebut qari' (pembaca Al-Quran).

Mengapa dalam ilmu agama harus belajar melalui seorang guru, dan tidak cukup secara otodidak? Hal ini didasarkan pada hadits-hadits berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda:

يا أيها الناس تعلموا فإنما العلم بالتعلم والفقه بالتفقه

Artinya:
Wahai manusia, belajarlah ilmu. Karena sesungguhnya ilmu hanya diperoleh dengan belajar dan pengetahuan agama hanya diperoleh dengan belajar melalui guru. (Hadits Hasan).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

Artinya:
Barangsiapa berpendapat mengenai Al-Quran dengan pendapatnya sendiri, lalu pendapat itu benar, maka ia telah benar-benar keliru.

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda:

من قال في القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار

Artinya:
Barangsiapa yang berpendapat mengenai Al-Quran dengan pendapatnya, maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka. (Hadits shahih).

Baca: Riwayat-Riwayat Tentang Pentingnya Sanad Ilmu

Hadits-hadits di atas memberikan pengertian keharusan berguru dalam ilmu agama. Bukan dipelajari secara otodidak dari buku dan Google.

Berdasarkan paparan di atas, orang yang belajar ilmu agama secara otodidak atau belajar kepada kaum orientalis tidak bisa dikatakan sebagai orang yang alim, akan tetapi disebut sebagai bahits, peneliti dan pengkaji. Orang semacam ini tidak boleh menjadi rujukan dalam agama. [dutaislam/ka]
Loading...