Haul Kiai Sholeh Darat, Peziarah Sering Dipalak Juru Parkir Liar
Cari Berita

Advertisement

Haul Kiai Sholeh Darat, Peziarah Sering Dipalak Juru Parkir Liar

Duta Islam #02
Jumat, 14 Juni 2019

Kamtibmas menyampaikan pesan kepada pekerja parkir agar memungut sesuai dengan tarif yang semestinya. (Foto: istimewa)
DutaIslam.Com - Kasus pemerasan parkir kendaraan di lokasi wisata ziarah Kelenteng Sam Poo Kong yang membuat malu Kota Semarang belum lama ini, ternyata tidak menjadi pelajaran untuk menertibkan parkir liar di lokasi wisata ziarah lainnya.

Yaitu di Taman Pemakaman Umum (TPU) Bergota, yang terdapat makam waliyullah yaitu Kiai Sholeh Darat. Seorang ulama besar abad ke-19 yang setiap hari ramai diziarahi kaum muslimin.

Hari ini, Jum'at (14/6/2019) adalah peringatan Haul ke-119 Kiai Sholeh Darat. Yakni masa puncak ramainya peziarah. Hari ini bertepatan dengan 10 Syawal 1440. Haul Kiai Sholeh Darat adalah setiap 10 Syawal.

Baca: Cara Mbah Sholeh Darat Mendidik Orang Awam

Ribuan peziarah memadati makam Kiai Sholeh Darat  sejak tiga hari lalu, yaitu sejak tanggal 7 Syawal. Namun seperti tahun-tahun sebelumnya maupun di hari biasa, para peziarah diresahkan oleh ulah juru parkir liar yang suka  memalak dengan meminta uang secara tidak wajar.

Pengendara mobil pribadi sering diminta uang parkir Rp 5 ribu atau lebih. Sedangkan kendaraan umum yang mengangkut rombongan peziarah, semisal angkot atau jenis Elf, sering dimintai uang Rp 10 ribu atau lebih. Sedangkan bus besar biasa dimintai Rp 50 ribu. Bus sedang atau Elf, sering dimintai minimal Rp 20 ribu.

Adapun sepeda motor, ditarik uang parkir Rp 2 ribu atau Rp 3 ribu.  Bahkan ada yang diminta lebih bila datang malam hari. Semua itu tanpa ada karcis resmi atau karcis berlabel organisasi. Sedangkan pelaku pemalakan umumnya dikenali sebagai preman dari warga sekitar makam Bergota.

Ahmad Mustafid, peziarah dari Yogya, mengaku sedih dengan kenyataan tersebut. Dia pernah membawa rombongan santri  satu bus, berziarah di makam Kiai Sholeh Darat malam hari. Meski bus yang dia bawa sudah dijaga sendiri oleh sopir dan kernet, tapi dia dimintai uang oleh sekelompok pemuda dengan dalih uang parkir.

Mustafid memberikan selembar  uang Rp 20 ribu ke para pemuda tersebut. Tetapi mereka minta tambah. Gelagatnya  memaksa.

"Saya diminta uang parkir, saya beri Rp 20 ribu. Mereka minta tambah, sy tambahi Rp 5 ribu. Masih minta lagi. Terpaksa saya harus memberi Rp 50 ribu. Itupun masih mendapat omelan dari mereka," ujarnya menggerutu.

Pengalaman serupa dialami Atok, peziarah asal Malang, Jawa Timur. Dia pernah membawa rombongan tujuh  bus berziarah ke Bergota. Usai berdoa di malam Kiai Sholeh Darat, dia didatangi tiga orang pemuda yang mengaku warga sekitar makam.

Para pemuda itu langsung meminta uang Rp 350 ribu. Yaitu menarik uang parkir untuk 7 bus, per bus Rp 50 ribu. Atok menolak permintaan itu. Dia tak sudi memberikan uang. Terjadilah gegeran. Ramai sampai terjadi keributan dari adu mulut.

"Saya sampai ditengahi seorang anggota polisi saat itu. Para preman itu akhirnya mau menerima uang Rp 200 ribu dari saya," tuturnya bersungut-sungut ketika menceritakan pengalamannya menjadi korban pemerasan.

Di lain waktu Atok membawa mobil (roda empat), dia dipalak Rp 10 ribu ketika berziarah di makam Kiai Sholeh Darat.

"Sungguh keterlaluan pemerasan di makam Bergota. Setiap orang yang parkir  di dalam komples makam atau di pinggir Jalan Kiai Saleh, diperas para preman," kata dia bernada jengkel.

Selain Mustafid dan Atok, sangat banyak orang mengalami pemalakan bila berziarah di makam Bergota. Keresahan itu sudah lama terdengar. Namun kejadian pemalakan selalu terulang. Dan paling parah terjadi setiap Haul Kiai Sholeh Darat.

Baca: Keramat Mbah Sholeh Darat

Ketua Komunitas Pecinta Kiai Sholeh Darat (KOPISODA) Dr KH In'amuzzahidin yang setiap tahun selalu menjadi panitia Haul, serta sering sekali berziarah di makam Kiai Sholeh Darat, mengaku pernah dipalak. Padahal semua penjaga makam atau penjaga kotak amal dari ujung jalan mengenal dia.

"Saya yakin para penjaga parkir sudah hafal wajah saya. Namun nyatanya saya pernah dipalak. Jelas saya ini panitia Haul setiap tahun, kemarin diminta paksa uang Rp 5 ribu ketika parkir mobil. Sedangkan kalau saya membawa sepeda motor untuk ziarah di malam hari, saya tidak tenang akan keamanan motor saya," ungkap dia.

Laporan lisan ke pemerintah maupun ke anggota  polisi sudah banyak disampaikan. Cuitan kemarahan di media sosial juga sudah banyak bermunculan, namun sampai kini belum tampak tanda-tanda akan ditertibkan.

Poster informasi tarif parkir.
Poster Info Tarif Parkir Pun Hilang
Sebenarnya Pemerintah Kota Semarang maupun Polrestabes Semarang tidak cuek pada realita tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan. Termasuk dengan melibatkan Camat Semarang Selatan, Lurah Randusari dan Polsek Semarang Selatan untuk membina para pemuda yang tinggal di  sekitar makam Bergota.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi yang sering hadir di acara Haul Kiai Sholeh Darat tiap tahun, telah memerintahkan jajarannya untuk menangani masalah tersebut. Keluhan masyarakat telah didengar dan diperhatikan.

Baca: Perjalanan Mencari Ijazah Burdah KH Shaleh Darat

Seperti terjadi  pada Selasa (11/6/2019),  Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkot Semarang telah menggelar rapat di Balaikota untuk merespon persoalan parkir di Bergota.

Rapat menghadirkan unsur Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja, Polsek Semarang Selatan, Koramil Semarang Selatan, Camat Semarang Selatan, Lurah Randusari, serta panitia Haul Kiai Sholeh Darat.

Kabag Kesra Pemkot Semarang Ari Djoko Santoso meminta agar Haul Kiai Sholeh Darat diurus dengan baik. Yaitu para peziarah dilayani dengan maksimal, diberi kenyamanan dengan dipasang tenda tratak, disuguhi makanan dan minuman saat Haul, serta dijaga kendaraannya oleh Satpol PP, Linmas dan dibantu pengawasan keamanan dari Polri dan TNI.

"Pemkot Semarang berkomitmen melayani dengan baik. Kita upayakan agar peziarah di makam Kiai Sholeh atau umumnya di Bergota merasa nyaman. Kami akan pasang tratak agar tidak kepanasan saat berdoa. Dan kami minta agar parkir ditata yang baik. Satpol PP akan dikerahkan," paparnya dalam  rapat koordinasi (Rakor) tersebut.

Dalam  Rakor juga dibahas, apabila  ada penarikan uang jasa parkir dari peziarah, maka harus sesuai Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Retribusi Jasa Umum.

Dalam Perda tersebut tercantum, tarif parkir di jalan umum adalah Rp 2 ribu untuk kendaraan roda dua, Rp 4 ribu untuk kendaraan roda empat, dan Rp 25 ribu untuk bus besar.

"Apabila ada penarikan uang parkir melebihi ketentuan Perda, berarti tindakan kriminal alias pemerasan," simpulan hasil rapat.

Dari rapat tersebut direkomendasikan dua hal. Yaitu pertama, memberi pembinaan kepada para juru parkir. Hal ini telah dilaksanakan berkali-kali.

Kamis (13/6/2019) pagi, pejabat Kecamatan Semarang Selatan bersama pejabat Kelurahan Randusari didampingi Bhabinkamtibmas kelurahan Randusari Aipda Metrizal  memberi pembinaan dengan menyampaikan pesan Kamtibmas kepada para pemuda juru parkir parkir agar memungut jasa parkir sesuai tarif yang semestinya.

Rekomendasi kedua, memasang papan informasi tarif parkir. Tujuannya agar pengunjung mengetahui berapa rupiah yang patut dia bayarkan apabila diminta uang parkir.

Kamis (13/6/2019) siang sekira pukul 13.00 panitia menempel tujuh lembar poster berisi informasi tarif parkir sesuai Perda nomor 2 tahun 2012. Poster-poster tersebut dipasang di tempat-tempat yang mudah dilihat pengunjung makam.

Panitia mendapat protes dari sekelompok pemuda yang menjadi penjaga parkir. Seorang pemuda berkaos doreng oranye berlogo organisasi Pemuda Pancasila memprotes panitia yang sedang menempel poster.

Yudi Prasetyawan, panitia Haul Kiai Sholeh Darat yang diprotes, memberi penjelasan kepada para pemuda tersebut. Bahwa penempelan itu adalah hasil rekomendasi rapat di Balaikota Semarang.

Yudi bahkan memberi uang Rp 100 ribu ke pemuda tersebut sebagai bentuk penghargaan karena telah mau menerima penjelasan.

"Mas, tolong dimengerti. Papan informasi tarif parkir ini agar membawa nama baik Kota Semarang. Haul ini sudah difasilitasi Pemkot Semarang. Jangan sampai kejadian pemerasan parkir di Kelenteng Sam Poo Kong terulang. Yuk ikuti aturannya. Besok toh sampean akan dapat uang banyak. Wong pengunjung akan banyak sekali," tutur Yudi seraya  menyalami satu persatu pemuda tersebut.

Damai dan tenteram. Semua tersenyum dan saling mengucap terima kasih usai mereka membagi rata uang dari Yudi. Maka panitia melanjutkan menempel poster info tarif parkir tersebut. Kemudian berlanjut memasang tratak dan sound system serta generator set.

Namun malam hari ketika panitia hendak mengecek akhir peralatan teknis, poster-poster tersebut hilang. Seluruh panitia kaget dan bertanya-tanya.

Rikza Chamami, salah satu panitia, mencoba mencari tahu apa penyebab hilangnya poster-poster tersebut. Dia juga sudah melaporkan kasus itu ke anggota Polsek Semarang Selatan yang ikut mengecek lokasi Haul di siang harinya.

"Kami semua kaget dengan hilangnya poster-poster berisi informasi tarif parkir yang telah dipasang. Kasus ini langsung saya laporkan ke Pak Riza, anggota Polsek Semarang Selatan. Ini jelas perlu diselidiki sebagai perbuatan kriminal," ujarnya bernada geram.

Salah satu keturunan Kiai Sholeh Darat yang menjadi panitia Haul, Ustad Agus Taufiq, mengaku sangat kecewa dengan hilangnya poster informasi tarif parkir.

Hal itu menurutnya sangat memalukan Pemerintah Kota Semarang. Sebab Pemkot Semarang telah mengurusi Haul Kiai Sholeh Darat, sudah mengoordinasi berbagai pihak secara maksimal. Akan tetapi patut diduga dirusak oleh tangan-tangan kotor yang tidak rela persoalan parkir ditertibkan.

"Ini sungguh mengecewakan. Ini sungguh mempermalukan Pemkot Semarang. Karena diduga ada upaya menggagalkan penertiban parkir di Bergota," ucapnya kepada para panitia yang malam tadi gladi bersih lokasi. [dutaislam.com/gg]

close
Banner iklan disini