Biografi Lengkap KH. Sholeh Darat dan Sejarah Pondok Pesantren Darat
Cari Berita

Advertisement

Biografi Lengkap KH. Sholeh Darat dan Sejarah Pondok Pesantren Darat

Duta Islam #01
Selasa, 02 April 2019

Masjid KH. Sholeh Darat di Semarang. Foto: Detikcom
Oleh KH. Anasom (Dosen UIN Semarang)

DutaIslam.Com - Statmen seorang santri yang pernah nyantri di berbagai pondok pesantren termasuk Ponpes Darat, saya kutip lengkap1: “Saya, Raden Sosrosaputro alias Raden Muhammad Salim, Ajung Penghulu Landrad Banyuwangi, waktu saya masih kecil, kira-kira umur 6 tahun, ayah saya yang bernama Raden Haji Muhammad Hadi, mufti Kendal yang sudah meninggal menyuruh saya belajar membaca Quran menurut perjanjian kepada Kiai Haji Umar, guru agama di kampung Pakauman daerah Kendal, sekarang sudah wafat.

Saya belajar tata bahasa Arab, ilmu-ilmu bantu, dan bahasa dari kitab-kitab bahasa Arab. Kitab Fath Al-Qarib, Fath al-Muin, Sulam al Taufiq, saya pelajari untuk menerangkan hukum Islam. Saya juga belajar sopan santun dari ayah, ibu, dan orang-orang tua lainnya. Pada tahun 1893 oleh ayah saya, saya dimasukkan ke sekolah Jawa di Kendal sampai selesai. Pada waktu saya sekolah, pada malam hari saya mempelajari kitab dari al-Kafrawi (kemungkinan besar komentar al-Kafrawi atas Ajurumiyah) dan Fath al-Muin.

Setelah sekolah saya selesai, saya masih meneruskan pelajaran agama saya: saya tinggal di pesantren di kampung Darat Semarang, belajar pada Kiai Salih dari Kampung Darat. Di situ saya mempelajari Kitab al-Bajuri, Fath al-Muin, I’anat al-Talibin dan kitab Mughni al-Muhtaj selama dua tahun. Kemudian saya pindah ke pesantren Jamsaren di Surakarta dan belajar pada Kiai Haji Idris: Kitab Tafsir al-Jalalayn, Kitab Al-Fiya, Kitab Taqrir dan kitab al-Minhaj al-Qowim.

Pada tahun 1905 saya ada di Masjid Kendal dan bekerja sementara sebagai pegawai magang di kantor Kabupaten Kendal selama lima tahun. Selama saya bekerja, saya meneruskan pelajaran agama saya: Kitab al-Bajuri, Fath al-Muin dan Kitab Mughni al-Muhtaj. Dengan surat keputusan Residen Semarang tanggal 24 Maret 1911, saya diangkat menjadi pengawas sementara gudang kopi di Pekatan daerah Kendal. Pada tanggal 29 Maret 1912 saya menjadi pembantu pengawas di Rapah, daerah Demak, kemudian saya minta pindah menjadi pembantu pengawas dari asistent Collecteur di Kendal.

Setelah selesai bekerja saya meneruskan pelajaran saya tentang kitab-kitab yang tersebut di atas pada guru-guru agama yaitu Kiai Haji Abdul Mannan dan Kiai Imam. Begitulah seterusnya, saya mempelajari agama dan tetap menjalankan hukum Islam, karena saya adalah keturunan ahli agama: kakek saya Raden Haji Muhammad Ilyas dan paman saya Raden Haji Muhammad Sosro adalah penghulu Kendal. Pada tahun 1925 saya mohon berhenti sebagai pengawas atas permintaan sendiri,karena saya ingin mencari pekerjaan lain. Dengan surat keputusan Residen Semarang, saya diberhentikan dengan hormat"2.

Nama dan Tempat Kelahiran3
Nama yang diberikan oleh orang tuanya sebenarnya adalah Muhammad Saleh. Ayahnya bernama K.H. Umar. Tempat kelahirannya di desa Kedung Cumpleng, kecamatan Mayong, Jepara. Kapan kelahirannya yang tepat sulit diketahui, tetapi menurut perkiraan sekitar tahun 1820 M.

Hari dan kelahiran beliau yang pasti tidak didapatkan. Keterangan tempat lahir beliau ini berdasarkan keterangan dari KH. Fakhruzzi yang mendapat informasinya dari K. Abdullah yang sedaerah dengan Kiai Saleh di desa Kedung Cumpleng.

Meskipun nama beliau yang biasa tertulis pada kitab-­kitabnya "Haji Muhammad Shaleh bin Umar" namun di kalangan para kiai dan orang awam beliau dikenal dengan nama sebutan "Kiai Saleh Darat".

Disebut demikian karena beliau tinggal di daerah Darat kawasan Semarang dekat pantai. Jika beliau menuliskan namanya sendiri juga memakai tambahan 'Darat', hal ini terdapat pada berbagai kitabnya seperti kitab “Hadits Al­-Ghoity lan Syarah Barzanji”, Kitab “Lathoifut Toharoh Wa asroru al­-Shalat4 dan juga surat balasan beliau yang ditujukan kepada penghulu Keraton Surakarta.5

  • KH. Hasan Bashori, ajudan Pangeran Diponegoro, pernah mendapat tugas merebut daerah Kedu. Akhirnya ditangkap dan dibuang ke Menado. Cucu KH. Hasan Bashori bernama KH. M. Munawir, pendiri pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Beliau pernah menjadi murid Kiai Sholeh.
  • Kiai Syafi’i' dan Kiai Abu Darda' adalah dua orang prajurit Diponegoro. Kiai Darda' yang berasal dari Kudus dan menetap di Mangkang, beliau pernah menjadi guru Kiai Sholeh.
  • Kiai Jamsari juga seperjuangan dengan Diponegoro yang berada di Solo, pendiri Pesantren Jamsaren. Ketika Kiai Jamsari ditangkap oleh Belanda, pesantrennya ditutup. Pesantren dihidupkan kembali oleh Kiai Idris, salah seorang santri Kiai Sholeh yang pernah menggantikan Kiai Sholeh selama beliau sakit sampai wafatnya6.

Keluarga Kiai Saleh
Kiai Saleh pernah menikah tiga kali:

  1. Menikah pertama ketika beliau masih di Makkah, dari pernikahan ini beliau dikaruniai seorang anak laki-­laki yang diberi nama "Ibrahim". Ketika beliau pulang ke Jawa, putranya tetap berada di Makkah, sedang istrinya telah wafat dan Ibrahim tidak mempunyai keturunan.
  2. Setelah berada di Semarang, beliau diambil menantu Kiai Murtadlo, teman karib ayahnya. Dijodohkan dengan Shofiyah. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai dua orang putra anak laki­-laki yaitu: Yahya dan Cholil, kedua putra ini, Cholil yang mempunyai keturunan.
  3. Menikah yang ketiga kalinya dengan Aminah, putri Bupati Bulus Purwarejo ­keturunan Arab. Di antara keturunannya Siti Zahrah, dinikahkan dengan seorang santrinya Kiai Dahlan dari Termas. Dari pernikahan ini Dahlan dikaruniai dua anak yaitu Rahmat dan Aisyah. Kiai Dahlan meninggal di Makkah ketika menunaikan ibadah haji. Kemudian Siti Zahroh dinikahkan dengan Kiai Amir, juga santrinya. Pernikahannya dengan Kiai Amir tidak mempunyai keturunan.

Masa Pendidikan
Sebagaimana umumnya anak seorang kiai, masa kanak-­kanak dan remajanya dilewati dengan belajar mengaji Al-­Qur'an dan mempelajari berbagai macam ilmu agama. Pendidikannya diperoleh dari Kiai Haji Syahid ­ulama besar di Waturoyo, Kajen Margoyoso Pati Jawa Tengah. Pesantren Kiai Syahid sampai saat ini masih berdiri. Konon kabarnya KH. Syahid adalah cucu KH. Ahmad Mutamakin yang hidup semasa dengan Paku Buana II (1727­-1749).

Setelah berguru kepada Kiai Syahid, beliau diajak oleh ayahnya ke Semarang. Di kota ini tampaknya beliau masih terus melanjutkan memperdalam ilmu agama kepada para ulama di Semarang. Hanya saja sulit di lacak siapa saja guru-­guru beliau di kota ini.

Menurut sumber dari keluarga di Semarang, beliau berguru pada KH. Ishaq Damaran, Kiai Abdullah Muhammad Hadi Banguni Mufti Semarang, Kyai Ahmad Bafaqih Ba'Alawi dan berguru pada Kiai Abdulghani Bima. Nama yang terakhir ini adalah teman Syeikh Kholil Bangkalan waktu belajar di Makkah. Juga berguru pada KH. R. Muhammad Saleh Asnawi Kudus.

Beliau juga 'nyantri' di pondok pesantren Dondong Mangkang Wetan dalam asuhan Kiai Abu Darda', dengan Kiai Murtadlo di Darat Semarang yang akhirnya diambil menantu. Tampaknya sebelum akhirnya tinggal dan menetap di Semarang beliau diajak ayahnya ke Singapura, kurang jelas kepentingannya apa, tetapi menurut berbagai arsip abad 19, Singapura tampaknya memiliki hubungan yang sangat erat dengan Hindia Belanda.

Hal ini dapat dilihat misalnya agen­-agen haji Indonesia banyak di dirikan di negeri itu7. Singapura juga menjadi transit para jama'ah haji Indonesia. Di masa KH. Saleh Darat telah mengarang berbagai kitabnya, banyak karyanya yang diterbitkan di Singapura. Dari Singapura beliau langsung berangkat mendalami ilmu agama ke Makkah.

Di pusat agama Islam ini beliau mengkaji ilmu agama pada beberapa orang guru antara lain Syeikh Muhammad Al­-Muqry, Syeikh Muhammad Sulaeman Hasbullah, Syeikh Sayid Muhammad Zaini Dahlan, Syeikh Ahmad Nahrowi, Syeikh Sayid Muhammad Shaleh Zawawi, Syeikh Syahid, Syeikh Sayid Umar Asy­Syani, Syeikh Yusuf Al­-Misri, dan Syeikh Jamal Mufti Al­-Hanafi.

Ketika belajar di Makkah banyak teman-­temannya dari Indonesia juga tengah menimba ilmu di sana. Kawan-­kawan beliau di sana antara lain K.H Muhammad Nawawi Banten, KH. Kholil Bangkalan Madura. Sedangkan KH. Hasyim Asy'ari Tebuireng pernah menjadi muridnya waktu di Makkah, dan menurut informasi KH. Abdurrahman Wahid8, beliau berguru ke KH. Saleh Darat di pondok pesantren di Semarang.

Kapan beliau menetap dan mendirikan pondok pesantren di Semarang, agak sulit dipastikan. Tetapi dalam salah satu arsip di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) daerah di Semarang, waktu kepulangannya dari Singapura, beliau dipanggil menghadap Regent (Bupati) pada tanggal 16 Maret 1883. Menurut dugaan penulis kepulangan beliau dari Singapura tersebut mungkin sudah dengan keperluan lain, bukan kepulangan dari belajar di Makkah atau haji, tetapi mungkin sudah dalam keperluan mengajar mengaji di Singapura, atau urusan terhadap karya kitabnya yang diterbitkan di Singapura.

Mengasuh Pesantren Darat Semarang
Sulit mendapatkan data secara tepat kapan berdirinya pondok pesantren Darat. Kesulitan ini terjadi karena memang tidak adanya bukti otentik tentang masalah ini. Walaupun banyak karya-­karya tulis Kiai Sholeh darat, tidak ada yang mengungkap perihal pesantrennya.

Namun ada beberapa hal perlu dipertimbangkan dalam rangka mencari kapan berdirinya pesantren Kiai Sholeh Darat. Pertama, dapat dianalisis dari masa akhir pendidikan Kiai Sholeh Darat. Kedua, dari karya­karya Kiai Saleh Darat.

Abdullah Salim menduga bahwa pondok pesantrennya didirikan sekitar tahun 1880­an. Tahun ini hanya suatu dugaan dari salah seorang keturunan Kiai Sholeh Darat, karena pada tahun sekitar itu ia berada di Semarang dan memilih daerah Darat sebagai tempat tinggalnya. Jika dugaan ini benar, maka pondok pesantren Darat adalah pondok pesantren yang cukup tua di kota Semarang9.

Letak pondok pesantren darat di Semarang utara dekat pantai, lebih kurang 2 km dari jantung kota Jl. Bojong. Pada waktu itu ciri­-ciri pesatrennya tidak jauh berbeda dengan pondok pesantren pada umumnya. Sebuah surau besar papan kayu jati dan sebuah asrama untuk para santri serta rumah Kiai. Sekarang ini bangunan asramanya sudah diubah dan dijadikan tempat tinggal biasa.

Para santri yang menuntuk ilmu di pesantren sebagian dari dalam kota dan sebagian dari luar kota. Dari dalam kota antara lain dari Kampung Pencikan (Ali Barkan), Kampung terboyo (Kiai Sya’ban), Kampung Kauman (Kiai Sahli), dll. Sedang dari luar kota antara lain dari Kendal, Pekalongan, Sayung Demak, Bareng, Rembang, Salatiga, Yogyakarta, Tremas, dll.

Usia pondok pesantren ini berakhir sampai dengan wafat Kiai Sholeh darat 1903. Setelah Kiai Saleh Darat wafat, salah seorang santrinnya yang senior, Kiai Idris dari Sala, telah memboyong sejumlah santri pesantren darat ini dan di bawa ke Sala. Di Sala inilah Kiai Idris menghidupkan kembali pondok pesantren Jamsaren, Sala10.

Menurut Abdullah Salim, pada tahun terakhir dari kehidupan pondok pesantren Kiai Saleh Darat, jumlah santri lebih dari seratus orang. Salim mengidentifikasi 19 santri. Setelah saya melakukan wawancara dan menggali sumber-­sumber, saya mendapat beberapa tambahan yang ternyata para santri yang memiliki pengaruh sangat luas pada masanya. Adapun dari beberapa santri yang nama mereka cukup terkenal, khususnya di kalangan santri Jawa Tengah, dan beberapa di antara mereka dikenal di tingkat Nasional, antara lain:

  1. K.H. Hasyim Asy`ari, pendiri N.U. (w. 1366 H/1947)11
  2. K.H. Mahfud Tremas (w. 1338 H/1920 M)
  3. K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah (w. 1329 H/1919)12
  4. K.H.R. Dahlan Tremas, ahli falak ia di ambil menantu Kiai Saleh Darat,13 (w. 1357 H / 1939 H) Karya beliau antara lain kalender waktu solat abadi, di Masjid As­Sajad Sendangguwo kalender tersebut masih ada sampai sekarang, saya kutip di bawah.
  5. KHM. Moenawir,14 pendiri pondok pesantren Krapyak Yogyakarta.
  6. Kiai Dahlan, Sarang Rembang.15
  7. KH. Abdus Syakur al-­Sauda’i bin KH. Muhsin, Sarang, Rembang.16
  8. Kiai Amir (w. 1357 H/1939) Pekalongan, menantu Kiai Saleh Darat.
  9. Kiai Idris, Sala. Nama aslinya Slamet (w. 1341 H/1927  M)  yang  menghidupkan  kembali  Pondok Pesantren Jamsaren yang didirikan Kiai Jamsari. 
  10. Kiai Abdullah, Bandungrejo, Mranggen  ayah Kiai Haji Fadzil, saat saya temui beliau berumur 106, kelahiran 1894 M, sekarang telah wafat .
  11. KH. Abdullah Sajad (w. 1917 M) pendiri Psantren Sendangguwo, sekarang, pesantren ini sekarang telah berkembang menjadi banyak dibawah asuhan para cucunya.
  12. KH. Sya’ban bin Hasan (w. 1364 H/1946 M), kampung Wot Prau Semarang, termasuk ahli falaq pada zamannya.
  13. KH. Abdul Hamid (w. 1348 H/1930 M), Kendal. Sebuah kitab karangannya “Al-Jawahir al­Asami fi Manaqibi Syeikh Abdul Qadir Jailani”.17
  14. KH. Tohir, putra Kiai Bulqin penerus Pondok Pesantren Mangkang Wetan, Semarang Barat.
  15. KH. Sahli, Kauman Semarang.
  16. KH. Dimyati, Tremas, kakak kandung Kiai Dahlan.18
  17. Kiai Khalil Rembang.
  18. KH. Ridwan bin Mujahid Semarang, karyanya “I’anatul ‘Awa fi Mufhimmati Syara’ Al­Islam”.
  19. Kiai  Abdussamad, Surakarta, ayah dari Kiai Muhab Arifin.
  20. Bapak Ali Barkan, Semarang.
  21. Kiai Penghulu Tafsir Anom, penghulu Kraton Surakarta ayah KHR. Muhammad Adnan.
  22. Kiai Yasir, Bareng, Rembang.
  23. Raden Sosro Saputro alias Muhammad Salim, Ajung Penghulu Landrad Banyuwangi. Beliau menjadi santri Kiai Sholeh dan belajar beberapa kitab antara lain Kitab al-­Bajuri, Fath al-Mu’in, I’anat Tholibin, dan Mughni al­-Muhtaj selama dua tahun.19
  24. Kiai  Abdurrahman bin Qasidil  Haq, Pendiri Pondok Pesantren Mranggen, sekarang Futuhiyah.20

Silsilah KH. Sholeh Darat dari KH. Abu Darda'

Silsilah keturunan KH. Sholeh Darat ke bawah. 

Silsilah guru-murid dan kawan KH. Sholeh Darat.
Silsilah KH. Sholeh Darat dan KH. Abdullah Sajad
Silsilah lanjutan KH. Abdullah Sajad. 
Karya-karya KH. Sholeh Darat
Kiai Saleh Darat sendiri juga termasuk pengarang yang produktif. Karya-karyanya yang ditulis dalam tulisan Jawi (Arab Pegon), berhuruf Arab namun bahasa Jawa, beredar luas di Jawa, bahkan mengingat karya-karyanya banyak diterbitkan di Singapura dan Bombay maka kemungkinan beredar meluas ke dunia Islam. Namun yang jelas di Jawa beredar, baik di Jawa Tengah, Jawa Barat maupun Jawa Timur. Peredaran tersebut ada yang melalui para santrinya yang banyak, maupun lewat pasar.

Para kiai di Jawa Tengah yang sempat saya temui entah satu atau beberapa kitab memiliki karya Kiai Saleh Darat.21 Bahkan untuk keperluan penelitian ini saya mendapatkan naskah-naskah seperti Tafsir Faidurrahman, Kitab Fasholatan, Kitab Barzanji, yang sudah tidak terbitkan lagi. Sedangkan kitab-kitab karya Kiai Saleh yang lain masih diterbitkan oleh penerbit Toha Putra Semarang, meskipun terjadi perubahan-perubahan pada teks-teks tersebut.

Secara keseluruhan kitab karya Kiai Saleh belum diketahui dengan pasti berapa jumlahnya. Namun menurut perkiraan Abdullah Salim ada 12 kitab yang semuanya ditulis dalam bahasa Jawa. Namun jika antara Kitab Syarah Barjanji dengan Maulid Burdah berbeda, maka kitab karya Kiai Saleh ada 13 kitab. Setelah mencari kepada berbagai kiai, ada beberapa copy dan kitabnya yang saya miliki, yaitu:

  1. Kitab Tafsir Faidurrahman, selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram 1311 H/1893/94 M dan dicetak pada tanggal 29 Jumadi Al-Akhir tahun 1311 H oleh percetakan Haji Muhammad Amin Singapura.22
  2. Kitab Lathoif al-Thoharoh Wa Asrori al-Solat, yang selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram 1314 H/1896/97 M.23 Kitab yang saya miliki adalah cetakan Syeikh Abdullah Afif Cirebon, percetakan Al-Mishriyah, tanggal 22 April 1959.
  3. Kitab Jauharot al-Tauhid,24 tidak jelas ditulis tahun berapa. Dicetak oleh percetakan Al-Mishriyah Cirebon, tanpa tahun.
  4. Kitab “Iki Kitab Fasholatan Wong ‘Awam….hak cetak oleh Haji Muhammad Amin, Singapura, Kampung Melayu Lorong Pahang pada tahun 1315H/ 1897/98 M.25
  5. Kitab “Puniko Hadits al-Ghoythy lan Syarah Barzanji tuwin Nazhatul Majaalis” karya Kiai Saleh Darat selesai ditulis pada Malam Ahad jam 10 bulan Rajab pada tahun 1314 H/ 1896/97 M dan ditulis oleh Raden Atmo Suwongso Manteri Teykenar. Dicetak penerbit Haji Muhammad Amin Singapura tahun 1316 H.26
  6. Kitab “Hadza al-Kitab Matn al-Hikam” yang selesai ditulis pada tahun 1289 H/1870/1 M.27 Kitab yang saya miliki cetakan Toha Putra Semarang tanpa tahun tulisan tangan KH. Mahdum Zein Mranggen.
  7. Kitab “Hadzihi Kitab Munjiyat…” selesai ditulis 1307 H/1889/90 M. Cetakan ketiga percetakan Al-Mishriyah, Syeikh Abdullah Afif Cirebon, cetak ulang Toha Putra Semarang.28
  8. Kitab “Hadza Kitab Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah Li al-‘Awam…” kitab ini selesai ditulis pada tahun 1309 H dengan kode angka hitungan Arab “Ghusthi” yang terdiri dari huruf ghin=1000, syin=300 dan nun=9 tepatnya 1309 H tahun Masehi 1891/2.29

    Adapun beberapa kitab lain yang disebutkan oleh Abdullah Salim adalah:
  9. Kitab Manasik al-Hajj
  10. Kitab Minhaj al-Atqiya’, cetakan pertama di cetak di Bombay tahun 1325 H/1905 M oleh penerbit Al-Karimi.
  11. Kitab Al-Mursyid al-Wajiz, berisi tentang ulum al-Qur’an dan ilmu Tajwid.
  12. Kitab Hadis al-Mi’raj.
  13. Kitab Syarah al-Maulid al-Burdah.

Kitab “Hadza al-Kitab Matn al-Hikam”
Kitab ini selesai ditulis pada tahun 1289 H/1870/1 M. Kitab yang saya miliki cetakan Toha Putra Semarang30 tanpa tahun, tulisan tangan31 KH. Mahdum Zein Mranggen.

Matn al-Hikam ini merupakan karya terjemahan dari kitab karya Syeikh Ahmad Ibn Athoillah al-Sakandary. Untuk lebih jelasnya akan saya kutip bagian awal dari kitab ini:

“Bismillahial-Rahmanial-Rahimi. Al-hamdu lillahi Rabbil ‘Alamin Wa al-Shalatu wa al-Salamu ‘Ala Sayyidina wa Maulana Muhammadin Sayyidi al-Anbiyaa’ I wa al-Mursaliin wa ‘Ala alihi wa ashaabihi ajma’iin amma ba’du: utawi iki kitab ringkesan saking matan al-Hikam karangane al-‘Alamah al-arifi Billah Syeikh Ahmad bin ‘Athaa’illah, ingsun ringkes naming sak pertelone asal. Supoyo gampango ingatase wong ‘awam amtsal ingsun, kelawan sun tarjamah kelawan coro Jowo supoyo inggal faham wong kang podo ngaji, awit ingsun tarjamahaken kolo sanah 1279. Mugo-mugo dadiyo manfaat ‘alal mu’minin”.32

Dari muqoddimah di atas sangat jelas bahwa kitab ini merupakan kitab terjemahan dari kitab asli “Al-Hikam”. Tidak seluruhnya diterjemah tetapi diringkas hanya sepertiga dari kitab naskah aslinya. Isi kitab ini sebagaimana judulnya, berkaitan dengan masalah tasawwuf. Al-Hikam yang artinya hikmah, tercermin misalnya dalam beberapa katerangan setelah muqoddimah.

"I’lam weruho hai salik setuhune kelakuan, wajib ingatase wong mu’min ingkang shodiq arep gegiyungan gandulan marang Allah SWT beloko. Tegese ojo pisan siro cecekelan marang liyane Allah SWT. ‘Ilmuniro atowo ‘ibadah iro iku ora keno kok andelaken, tegese ojo neqodaken siro setuhune ‘amal iro iku dadi manjingaken marang suwargo lan nyelametaken saking neroko iku ora, atowo dadi biso nekaaken maring Allah SWT iyo ora. Onoto ora weruh siro, ing ceritane pandito Bal’am bin Ba’uro lan Qorun sartane karone iku podo ahli ‘ibadah lan Qorun iku ulama’e wong bani Israil, inghale ono karone iku matine kafir. Lan opo to ora weruh siro ing ceritane Dewi Asiyah binti Muzahim, sartane Dewi Asiyah iku dadi bojone Fir’aun. Mongko ono Dewi Asiyah iku dadi kasihane pengeran Allah SWT, hinggo bakal dadi garwane njeng Rasulullah SAW besuk ono ing dalem suwargo. Mongko ono lah iman lan kufur atowo manjing suwargo atowo manjing neroko iku kabeh kelawan fadzole Allah beloko lan adile Allah. Ora kelawan sawiji-wiji saking to’at lan ma’siyat. Balik to’at lan ma’siyat iku dadi sabab lan dadi alamat kaduwe wong kang bakal manjing suwargo atowo neroko tetapi ora aweh labet lan malih ngalapo ‘ibarat siro murid, ing ceritane anak lanange Nabi Nuh AS lan ceritane bojone Nabi Luth AS, mongko karone iku mati kafir. Ora biso nyugihaken bopo marang anake ora biso nulungi bojo marang wadone saking siksane Allah……”.33

Tidak seperti kitab-kitab yang lainnya dalam karya awalnya ini Kiai Saleh Darat tidak membuat pengelompokan materi bab per bab atau yang lazim dalam kitab-kitabnya fasal perfasal dan bab yang lazim menggunakan kata “faslun” atau “babun”. Sehingga agak sulit menentukan batas-batas masalah yang di kaji. Kitab Matn Al-Hikam seluruhnya terdiri dari 152 halaman, tulisan Jawi (Arab Pegon) berbahasa Jawa dengan huruf Arab. Namun ada hal-hal khusus dalam penulisan kalimat-kalimat yang dipandang penting dengan menggunakan garis bawah.

Kitab “Hadzihi Kitab Munjiyat…”
Selesai ditulis 1307 H/ 1889/90 M. Kitab yang saya miliki cetakan ketiga percetakan Al-Mishriyah, Syeikh Abdullah Afif Cirebon, cetak ulang Toha Putra Semarang.34 Kitab ini telah diteliti dengan metode filologi oleh Abdullah Salim. Dari sejarah perbandingan naskah Munjiyat, kitab yang saya miliki tampaknya merupakan cetakan yang tidak berubah dari cetakan ketiga tahun 1930.

Cetakan ke tiga ini merupakan kelanjutan dari cetakan yang pertama dan kedua yang diterbitkan oleh Penerbit Al-Karimi Bombay pada tahun 1324 H/1906 M.35 Hanya ada perubahan halaman yang semula 224 halaman pada cetakan pertama dan kedua menjadi 196 halaman pada cetakan ketiga, namun isinya tetap sama.36

Berbeda dengan “Matn al-Hikam”, kitab ini telah menggunakan judul-judul dalam uraiannya. Secara umum terdiri dari tiga bagian:

Pertama, Bagian pertama berisi 10 bab dari halaman 1-65. Kesepuluh bab ini membahas sifat-sifat tercela yang merusakkan atau menyesatkan jiwa seseorang. Bagian ini diakhiri dengan kata “Tammat”, yang maksudnya selesai penjelasan tentang sifat-sifat yang tercela yang harus dijauhi oleh manusia.

Kedua, bagian kedua juga 10 bab yang menerangkan tentang sifat Munjiyat yang artinya lepas atau selamat, berarti sepuluh sifat-sifat yang menyelamatkan manusia. Masalah ini diuraikan dari halaman 65 – 157.

Ketiga, pada bagian ketiga ini diuraikan beberapa tema lepas, namun masih tetap berkaitan dengan persoalan akhlak, lebih khusus lagi berkaitan dengan seluk beluk kematian manusia, diuraikan dari halaman 157-196 . Ada beberapa masalah antara lain:

  • Fadhilah dzikrul maut37
  • Bab hakikat dzikrul maut38
  • Bab sakaratul maut39
  • Bab Bayan (keterangan) makna su’u al-khotimah40
  • Bab alamat muhtadzor bil khatimatil husna (orang yang akan meninggal dengan baik)41
  • Adabe ngiring janazah42
  • Hadza munajatul maridl (munajat orang sakit)43
  • Khatimat44

Agar dapat memhami keseluruhan isinya, perlu kiranya bagian pembukaan saya kutipkan disini:

"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdu lillahilladzitatahayyaru duuna idraakijalaalihial-qulubu …amma ba’du: utawi anapun angaweruhi sifat madzmumah lan sifat mahmudah kang bongso batin karone iku ferdlu ‘ain. Lan ora sampurno angaweruhi sifat madzmumah lan mahmudah anging arep weruh sifate ati dingin. Maka ono angaweruhi ati lan hakikote ati iku asal agomo lan pandemene (pondasi) thoriqote wong kang podo salikin kabeh. Utawi ma’nane lafadz qalb iku rong perkoro. Kang dingin den ma’nani jantung kang ono ing dalem kiwone dadane anak adam, lan njerone iku jantung ono bolongan lan njerone iku bolongan ono getih ireng lan iyo iku thukule ruh. Lan kapindone, maknane lathifah rabbaniyah ruhaniyah, lan iyo iku hakiqotu al-insan lan kang nemu sekehe perkoro kang samar, wallahu a’lam. Utawi maknane lafadz roh iku rong perkoro, kang dingin maknane jisim lathif tegese jisim ingkang alus. Utawi thukule ono ing bolongane ati jismani lan iyo iku jantung kang wus kasebut dingin, kapindone, maknane lathifah rabbaniyah lan iyo iku maknane qolb kang kapindo….."45

Dari pembukaan yang saya kutip singkat di atas, tampak jelas sekali bahwa kitab ini akan menjelaskan tentang persoalan tasawwuf, khususnya berkaiatan dengan sifat baik (mahmudah) yang harus diikuti, dan sifat buruk (madzmumah) yang harus di jauhi oleh manusia.

Kitab “Hadza Kitab Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah Li al-‘Awam…” 
Kitab ini selesai ditulis pada tahun 1309 H dengan kode angka hitungan Arab “Ghusthi” yang terdiri dari huruf ghin=1000, syin=300 dan nun=9 tepatnya 1309 H tahun Masehi 1891/2. Kitab ini selanjutnya terkenal dengan sebutan “Kitab Majmuk”, telah diteliti dalam sebuah disertasi oleh Abdullah Salim.46

Isi kitab ini sesuai dengan judulnya merupakan rangkuman dari syariat yang diperuntukkan bagi orang awam. Syariat Islam menurut para ulama fiqih adalah apa yang disyariatkan Allah kepada hamba-hambaNya meliputi aqidah, ibadah, akhlaq dan muamalah.

Definisi ini yang menjadi acuan penulisan kitab Majmuk, sehingga kalau kalau dibuat sebuah rincian isi kitab tersebut akan ditemukan bagian yang berisi aqidah, ibadah, dan mu’amalah. Dari Majmu’ yang saya miliki isinya sebagai berikut:

  • Bagian aqidah47
  • Bagian ibadah48
  • Bagian muamalah49
  • Bagian pernikahan 50
  • Bab penyembelihan 51
  • Fasal tentang makanan 52
  • Fasal tentang udhiyah (qurban)53
  • Fasal tentang ‘aqiqah54
  • Kitab i’taq (memerdekakan budak)55
  • Khatimatul bab56

Dari daftar isi di atas meskipun kitab ini mengungkap masalah aqidah, namun lebih terkenal sebagai kitab fiqih. Namun berbeda dengan kitab-kitab fiqh lain, kitab Majmu’ banyak memberikan respon situasi kondisi masyarakat Jawa.

Alam pikiran, tradisi Jawa, dan suasana pergaulan dengan masyarakat non muslim yang menurutnya bertentangan dengan Islam, secara halus namun tegas diluruskan. Ada baiknya saya kutip di sini beberapa contoh pada fasal tentang hal-hal yang merusakkan agama:

"Wajib atas mukalaf kabeh arep ngrekso ing agamane lan Islame supoyo ojo kasi rusak. Utawi ingkang ngerusakaken agama iku tinggal salah sawiji saking rukune agama kang patang perkoro kang wus tinutur. Utawi kang ngerusakaken agama Islam iku murtad. Utawi wernane murtad iku telung perkoro:

Kang dingin (Pertama), bongso I’tiqad koyo neqodaken qodime ‘alam, atowo neqodaken sawiji hawadits aweh labet kelawan quwate atawa wateke. Koyo sego aweh labet warek, lan geni awh labet gosong, atawa sawiji-wiji biso gawe kelawan kuasane dewe,iku kabeh dadi murtad rusak Islame…

Lan kaping pindone, wernane mustad bongso pengucap. Kelawan yen to ngucap kalimat kufur koyo ngucap pengeran telu, utowo ngucap Nabi Muhammad iku dudu nabi,utowo ngucap Nabi Muhammad iku goroh ora bener ingdalem khobare, utowo ngucap Qur’an iku gaweane manungs o…..

Lan kaping telune, iku bongso penggawe lan panganggo koyo lamun sujud maring braholo,utowo memuli maring danyang merkayangan kelawan najeni panganan ono ing pawon, utowo ono ing sawah-sawah, utowo ono ing endi-endi panggonan kang den nyono ono jine nuli den sajeni supoyo aweh manfaat, utowo nulak madlorot, iku kabeh dadi kufur. Utawi kaprahe wong ahli pedesan iku podo gawe sodaqoh bumi nejo hurmat danyange deso kono iku haram, balik lamun neqodaken olehe hormat maring danyang kerono iku danyang ingkang ngrekso deso kene lan kang aweh manfaat maring wong deso kene lan kang mbahu rekso sawah-sawah utowo liyane. Mongko lamun mangkono I’tiqode kufur, kerono wajib ingatase mukalaf neqodaken setuhune makhluq kabeh, jin, manungso, syaiton, malaikat, iblis, lan kabeh hewan iku apes ora biso gawe opo-opo yen ora kelawan qudrate Allah…..

Lan dadi kufur malih wong kang nganggo penganggone liyane ahli Islam, penganggo kang wis tertentu maring liyane ahli Islam kabeh sarto atine neqodaken baguse iki penganggo lan sarto demen atine maring iki penganggo. Lan haram ingatase wong Islam nyerupani penganggone wong liyo agama Islam, senajan atine ora demen. Angendiko setengahe poro ulama muhaqiqin “sopo wonge nganggo penganggone liyane ahli Islam koyo klambi, jas, utowo topi, utowo dasi mongko dadi murtad rusak Islame senajan atine ora demen”. Alhasil haram dosa gede ingatase wong Islam tiru tingkah polahe liyane ahli Islam ingdalem perkorone penganggo utowo tingkah polahe mangan senajan atine ora demen. Anapun lamun demen mongko sak hal dadi murtas senajan ora manganggo penganggone kerono wong kang demen kufur iyo dadi kufur. Lan wong kang demen ma’siyat iyo dadi maksiyat senajan ora ngelakoni. Mongko ati-atiyo siro".57

Sebenarnya masih banyak lagi penjelasan-penjelasan lain yang mencerminkan respon terhadap persoalan tradisi, seperti larangan ke dukun, larangan menyamai tradisi salam golongan non muslim dan sebagainya. Namun akan saya kaji lebih mendalam pada bab berikutnya.

Kitab Tafsir Faidlu al-Rahman.
Kitab ini mulai ditulis pada tanggal 20 Rajab 1309 H, selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram 1311 H/ 1893/94 M dan dicetak pada tanggal 29 Jumadi Al-Akhir tahun 1311 H oleh percetakan Haji Muhammad Amin Singapura.58

Kitab ini meskipun baru selesai pada jilid pertama Surat Al-Fatihah dan Al-Baqarah, namun cukup tebal. Ada 577 halaman, ditulis dengan huruf Arab Pegon. Saya mendapatkan kitab ini dari Kiai Muzayyin di Sendangguwo, Tembalang, salah satu cucu Kiai Abdullah Sajad.

Menurut beliau kitab tersebut diwarisi dari bapaknya Kiai Haji Muhammad Dimyati, yang berasal dari bapaknya Kiai Haji Abdullah Sajad yang telah saya uraikan didepan. Bagaimana kitab tafsir ini ditulis, dasar-dasarnya seperti disampaikan oleh pengarang dalam muqadimahnya sebagai berikut:

"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdu lihhi rabbil ‘Alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala sayiidina Muhammadin Nabiyyil Ummiyyi……amma ba’du: Moongko tatkalane aningali ingsun ingdalem piro-piro ayat Kalamullah ingdalem Qur’an, setuhune Kalamullah den turunaken marang rasul iku supoyo podo angen-angena manungsa kabeh ing maknane. Kalmullah Qola Allahu Ta’ala:Afala yatadabbaruuna al-Qur’an, anzalnaahu liyatadabbaru aayatihi… al-ayah: tegese ono to ora podo angen-angen manungsa kabeh ing maknane Qur’an wus anurunaken ingsun ing Qur’an supoyo podo angen-angeno manungsa kabeh ing ayate Qur’an inghale aningali ingsun ghalibe wong ‘ajam ora podo angen-angen maknane Qur’an kerono arah ora ngerti carane lan ora ngerti maknane kerono Qur’an temurune kelawan boso Arab. Mongko arah mangkono dadi nejo ingsun gawe terjemahe maknane Qur’an sangking kang wus den ‘ibarataken poro Ulama koyo kitabe Imam Jalal al-Mahalli lan Imam Jalal As-Suyuti, lan liyo-liyane koyo Tafsir Al-Kabir li Imam Ar-Rozi. Lan Lubabu al-Ta’wil li Imam al-Khozin,lan tafsir Al-Ghozali. Lan ora pisan-pisan gawe tarjamah ingsun kelawan ijtihade ingsun dewe, balik nukil sangking tafsire poro ulama kang Mujtahidin kelawan asale tafsir kang dzohire, mongko nukil tafsir kelawan isyari saking Imam Ghazali. Mongko lamun ningali siro ya ikhwan ono ingkang salah atowo ora muwafaqoh suloyo poro ulama salaf mongko iku sangking salahe paham ingsun. Mongko yen muwafaqoh kalayan kalam Ulama,mongko iku saking kalamu al-a’immah….."59

Dari keterangan singkat kutipan muqaddimah di atas jelas sekali metodolgi penggarapan Tafsir Faidurrahman. Ia tidak merupakan tafsir yang mandiri, tetapi nukilan dari berbagai kitab tafsir seperti tersebut di atas. Namun ada justifikasi dalam hal ini kitab tafsir Imam Ghazali tampaknya menjadi rujukan utama untuk segala persoalan perbedaan pandangan dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an.

Kitab Lathoif al-Thoharoh Wa Asrori al-Solat
Kitab ini selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram 1314 H/ 1896/97 M.60 Kitab yang saya miliki adalah cetakan Syeikh Abdullah Afif Cirebon, percetakan Al-Mishriyah, tanggal 22 April 1959. Judul panjang yang tertulis di depan adalah Hadza Kitabu Lathoifi al-Toharoh wa Asrori al-Solati fi Kaifiyati Solat al-‘Abidin wa al-‘Arifin tsumma yaliihi Kitabu Asrori al-Soum tsumma kitabu Fadzilati al-Muharrom wa Rajab wa Sya’ban li al-‘Abdi Al-Dzalili Muhammad Solih bin Umar al-Samarani Ghofarallah lahu waliwalidaihiwalijami’I al-Muslimina Amin.

Judul panjang tersebut di atas mungkin dari penerbit, karena penulisnya sendiri manamai kitab ini. “Kitab Lathoif al-Thoharoh Wa Asrori al-Solat” seperti yang di uraikan dalam muqaddimah kitab.

Lathoif dan Asror yang dipakai pada judul tersebut berarti rahasia. Dengan demikian kitab ini menguraikan berbagai cara melaksanakan solat, tetapi tidak sebagaimana dalam Fasholatan yang singkat padat, dalam kitab ini rahasia-rahasia solat dan hakekat solat dijelaskan secara panjang lebar. Demikian juga dalam masalah-masalah yang lainnya rahasia berwudlu, puasa, fadzilah bulan Muharram, Rajab dan Sya’ban.

Kitab “Puniko Hadits al-Ghoythy lan Syarah Barzanji tuwin Nazhatul Majaalis”
Kitab ini selesai ditulis pada Malam Ahad jam 10 bulan Rajab pada tahun 1314 H/ 1896/97 M dan ditulis oleh Raden Atmo Suwongso Manteri Teykenar. Dicetak penerbit Haji Muhammad Amin Singapura tahun 1316 H.61

Kitab ini sepenuhnya berisi penjelasan panjang lebar tentang Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Jika mengingat isinya, apakah ini yang dimaksud oleh Abdullah Salim tentang Kitab Mi’raj? Saya sendiri belum dapat menentukan. Karena jika mengingat judulnya tentang hadis dan syarah Barzanji. Namun ternyata isinya tentang isra’ dan mi’raj. Ada petunjuk pada bagian belakang kitab ini yang menyebut “Iki Mi’raj” maksudnya kitab Mi’raj sebagai berikut:

“Telah selesai pada mengcap kitab ini pada 26 Rabi’u Tsani 1315 H. Ba’dane iki Mi’raj bakal mengcap Kitab Fasolatan lan Jauharotut Tauhid”. 

Dengan petunjuk tersebut tampaknya antara “Puniko Hadits al-Ghoythy lan Syarah Barzanji tuwin Nazhatul Majaalis” dan “Hadits Mi’raj” adalah satu kitab, ya kitab yang saya miliki ini. Tebal kitab ini 115 halaman, bagian belakang ada do’a panjang, mungkin ini yang di maksud Nazhatul Majalis dalam judul.

Kitab Sabil al-‘Abid ‘ala Jauharot al-Tauhid
Kitab ini tidak jelas ditulis tahun berapa. Namun yang jelas setelah Kiai Saleh mengarang kitab “Puniko Hadits al-Ghoythy lan Syarah Barzanji tuwin Nazhatul Majaalis”. Dalam kitab tersebut di halaman akhir ada informasi seperti telah saya sebut di atas berbunyi, “telah selesai pada mengcap kitab ini pada 26 Rabi’u Tsani 1315 H. Ba’dane iki Mi’raj bakal mengcap Kitab Fasolatan lan Jauharotut Tauhid".62

Memang informasi ini tampaknya tidak dari pengarang, namun jika mengingat bahwa ternyata kitab Mi’raj terbit lebih dulu maka kemungkinan besar memang menunjukan urutan mengarangnya. Kitab Jauharotut Tauhid yang saya miliki di cetak oleh percetakan Al-Mishriyah Cirebon, tanpa tahun. Tebalnya 400 halaman, pada bagian akhir ada Syair (Nadzom) berbahasa Jawa karya Syeikh Muhammad Irsyad Luwano Bagelen Purworejo, isinya tentang bab ilmu dan bab mawa’idzoh (nasehat-nasehat).63

Kitab ini merupakan terjemahan dari kitab bersyair karya Al-Allamah Syeikh Ibrahim Al-Laqoni yang aslinya berjudul “Jauharotut Tauhid”. Walaupun demikian, tidak sekedar menerjemahkan kitab tersebut. Saya lebih menyebut sebagai kitab Syarah Jauharotut Tauhid. Tentang bagaimana pengarang mengarang kitab ini dan apa maksud, tujuan dan isinya akan tampak pada muqaddimahnya sebagai berikut:

"Alhamdulillahi rabbil ‘Alamin…..Amma  ba’du: mongko  tatkalane ningali ingsun ing kitab Jauharotut Tauhid karangane Sayyidi Syeikh al-‘Allamah Syeikh Ibrahim al-Laqoni ingdalem bab tauhid lan liyo-liyane sangking piro-piro wajibe ingatase wong Islam,mongko dadi karep ingsun lan demen ingsun ing yento terjemahaken ingsun kelawan boso Jawa kelawan sebab nuruti karepe ba’dlul ikhwan. Supyo dadiyo manfaat ingatase wong ‘awam ingkang bodo-bodo ora ngerti kalam Arab koyo amtsal ingsun. Kerono ingkang aran ilmu nafi’ ingkang keno den gowo matiiku ora kok kudu kalam ‘Arab bae ora. Karono piro-piro tafsir al-Qur’an ingkang kelawan kalam al-‘Ajam. Koyo kalam al-Farsi lan kalam al-Turkiy koyo tafsire Syeikh al-‘Allamah Abu Bakr bin Muhammad al-Harwiy. Lan Tafsire Syeikh al-‘Allamah Husain bin ‘Aliy al-Kasyifi, lan tafsire Syeikh al-‘Allamah Khowajah Muhammad bin Mahmudi al-Hafidzi al-Bukhori iku telu-telu kabeh kelawan boso Parsi. Lan koyo tafsire Syeikh Abu Laits Nahs bin Muhammad al-Faqih al-Samarqandy kelawan boso Turki lan Imam Muhammad bin ‘Ali al-Asbahani gawe tafsir telu. Sawijine kelawan kalam al-Asbahani.

Alhasil hasile ilmu nafi’ iku ora kudu wong kang ngerti kalam Arab bae ora. Mulane dadi ingsun nejo gawe terjemahe iki kitab Jauharotut Tauhid kelawan ingsun terjemahaken kelawan boso Jawa, tetapine kelawan ingsun ijihaken lafadz-e Nadzom. Ingsun gawe terjemahe minongko syarah kaduwe matan. Mugo-mugo dadiyo manfaat marang wong awam ingkang amtsal ingsun. Lan ingsun methik sangking Hasyiyah Syeikh al-Allamah Ibrahim Bajuri lan liyo-liyane kelawan ingsun namani “Sabilal-‘abid ‘ala Jauharot al-Tauhid”,wallahu waliyu al-Taufiq".64

Kitab “Iki Kitab Fasholatan Wong ‘Awam
Kitab ini hak cetaknya oleh Haji Muhammad Amin, Singapura, Kampung Melayu Lorong Pahang pada tahun 1315H/ 1897/98 M.65 Tampaknya selesai ditulis pada tahun tersebut. Isi kitab ini sesuai dengan judulnya memang hanya berisi tentang hal ihwal solat, mungkin tambahan sedikit adalah terjemahan beberapa surat-surat pendek dari Al-Qur’an.

Namun ayat-ayat tersebut diterjemah dalam kerangka kepentingan menjalankan salat. Penjelasan salat secara detail dari takbir sampai salam, secara runtut dijelaskan dan semuanya diterjemahkan. Sebagaimana judulnya kitab ini ditujukan untuk orang-orang awam, sehingga dibuat sangat praktis, bahkan seakan Kiai Saleh menganjurkan bahwa bacaan surat dalam salat cukup dengan bacaan ayat-ayat pendek yang telah diterjemah dalam kitab ini. [dutaislam.com/ab]

[1] Tulisan ini petikan dari tesis S2 Prodi Ilmu Sejarah FIB UGM karya penulis tahun 2003, “Dakwah Islam di Semarang Akhir Abad”. Untuk pelacakan biografi Kiai Saleh Darat, saya banyak menyandarkan pada karya tulis Abdullah Salim karena beliau ini telah meneliti "Majmu’at al-Syari’at al-Kafiyat li al-‘Awam” karya Syeikh Muhammad Shalih Ibn Umar al-Samarani, suatu kajian terhadap kitab Fiqih berbahasa Jawa akhir abad 19, (Jakarta: Fak. Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, 1991). Jadi dengan demikian mungkin khusus biografi Kiai Saleh saya melengkapi dari karya Abdullah Salim.

[2] Pijper, G.F. Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, Jakarta: Pn. UI-Press, 1985, hlm. 96.

[3] Biografi Kiai Saleh yang ada pada Kiai Kholil cucunya yang tinggal di bekas rumah dan pondok Kiai Saleh di Darat Lasimin Semarang.

[4] Saleh Darat, Lathoifut Toharoh Wa Asror al-Solat…, (Cirebon: Haji Muhammad Afif, Pnerbit Al-Mishriyah TT), hlm. 48.

[5] PP. Thoriqoh Mu’tabaroh, Dokumentasi dan Keputusan Konggres ke V, (Semarang: Jam’iyah Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh di Madiun, 1975), hlm. 87.

[6] Biografi, Ibid.

[7] Dua agen yang sangat terkenal di Indonesia adalah agen Herklots dan Firma Al-Segof.

[8] Mantan Presiden RI, bertemu di Ciganjur, Jakarta Selatan.

[9] Abdullah Salim, Majmu’at al-Syari’at al-Kafiyat lial-‘Awam…, hlm. 37-39.

[10] Abdullah Salim, Ibid, hlm. 40.

[11] Afton Ilman Huda, Biografi Mbah Sidiq, (Jember: Pon Pes Al-Fatah, TT), hlm. 10.

[12] Ahmad Adaby Darban, Sejarah Kauman, menguak identitas Kampung Muhammadiyah,(Yogyakarta: Tarawang, 2000), hlm. 40.

[13] Muhammad SH, Mengenal Pondok Tremas dan Perkembangannya, (Tremas: Perguruan Islam Pondok, 1986), hlm. 34.

[14] Team Research Ponpes Al-Munawir, KHM. Moenawir, pendiri pondok pesantren Krapyak,(Yogyakarta: PP. Krapyak, 1975), hlm. 5.

[15] Maemun Zubeir, KH. Biografi Pendiri Pesantren Sarang Rembang dan Sekitarnya, (Rembang: Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, TT), hlm. 21.

[16] Ibid, hlm. 34-35.

[17] Siradjuddin Abbas, KH, Thobaqatu al-Syafi’iyah dan Kitab-kitabnya dari Abad ke Abad, (Jakarta: Pn. Pustaka Tarbiyah, 1975).

[18] Muhammad SH, Ibid, hlm. 33.

[19] Pijper, G.F., Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, (Jakarta: Pn. UI-Press, , 1985), hlm. 96-97.

[20] Wawancara dengan putranya, KH. Ahmad Mutohar, 9 September 2001. Beliau adik Kiai Muslih Abdurrahman.

[21] Tafsir Faidurrahman saya dapatkan pada K. Muzayyin, Semarang.

[22] Saleh Darat, KH., Kitab Tafsir Faidurrahman, selesai Muharram 1311 H/1893/94 M dan dicetak pada tanggal 29 Jumadi Al-Akhir.

[23] Saleh Darat KH, Kitab Lathoif al-Thoharoh Wa Asrori al-Solat, selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram 1314 H/1896/97 M.

[24] Saleh Darat, Kitab Jauharot al-Tauhid, (Cirebon: Percetakan Al-Mishriyah, TT).

[25] Saleh Darat, KH, “Iki Kitab Fasholatan Wong ‘Awam….(Singapura: Hak cetak oleh Haji Muhammad Amin, Kampung Melayu Lorong Pahang pada tahun 1315 H/ 1897/98 M), hlm. 48.

[26] Saleh Darat KH, “Puniko Hadits al-Ghoythy lan Syarah Barzanji tuwin Nazhatul Majaalis” (Singapura: Dicetak penerbit Haji Muhammad Amin Singapura).

[27] Saleh Darat, “Hadza al-Kitab Matn al-Hikam” yang selesai ditulis pada tahun 1289 H/1870/1 M. (Semarang: Toha Putra, TT), hlm.

[28] Saleh Darat, “Hadzihi Kitab Munjiyat…” selesai ditulis 1307 H/ 1889/90 M. (Cirebon: Cetakan ketiga percetakan Al-Mishriyah).

[29] Saleh Darat, Hadza Kitab Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah Lial-‘Awam…, (Cirebon: Maktabah Al-Misriyah, cetakan ulang Toha Putra.

[30]Hadza al-Kitab Matn al-Hikam”, hlm. 2.

[31] Tulisan tangan tetapi tercetak, jadi termasuk teks bukan naskah.

[32] Ibid, hlm. 2.

[33] Ibid, hlm. 2-3.

[34]Hadzihi Kitab Munjiyat…” selesai ditulis 1307 H/ 1889/90 M. (Cirebon: Cetakan ketiga percetakan Al-Mishriyah, cetak ulang Toha Putra Semarang.

[35] Abdullah Salim, As Sabru wa sy-syukru (sabar dan sukur) dalam Kitab Munjiyat…...oleh Syeikh Muhammad Salih bin Umar As-Samarani, (Semarang: Universitas Islam Sultan Agung, 1979/80), hlm. 14-15.

[36] Ibid. hlm. 15.

[37] Ibid. hlm. 157.

[38] Ibid. hlm. 158.

[39] Ibid. hlm. 162.

[40] Ibid. hlm. 173.

[41] Ibid. hlm. 183.

[42] Ibid. hlm. 185.

[43] Ibid. hlm. 190.

[44] Ibid. hlm. 195

[45] Ibid. hlm. 2-3

[46] Abdullah Salim, “Tradisi Jawa Dalam Majmu’, Kitab Fiqih Berbahasa Jawa Akhir Abad 19 Karya Kiai Saleh Darat”, Jurnal Dewaruci.

[47] Saleh Darat, Hadza Kitab Majmu’at al-Syari’ah al-Kafiyah Li al-‘Awam…, hlm. 2-21.

[48] Ibid, hlm. 21-126.

[49] Ibid, hlm. 125-174.

[50] Ibid, hlm. 174-258.

[51] Ibid, hlm. 258-261.

[52] Ibid, hlm. 261-264.

[53] Ibid, hlm. 265-270.

[54] Ibid, hlm. 270-273.

[55] Ibid, hlm. 273-275.

[56] Ibid, hlm. 276-277.

[57] Fatwa tentang haramnya meniru pakaian, celana, sepatu, topi, dasi selanjutnya pernah pula dibahas dalam Muktamar NU.

[58] Saleh Darat, KH., Kitab Tafsir Faidurrahman, selesai Muharram 1311 H/ 1893/94 M dan dicetak pada tanggal 29 Jumadi Al-Akhir.

[59] Saleh Darat, Tafsir Faidlu al-Rahman…, hlm. 1.

[60] Saleh Darat KH, Kitab Lathoif al-Thoharoh Wa Asrori al-Solat, selesai ditulis pada tanggal 7 Muharram 1314 H/ 1896/97 M.

[61] Saleh Darat KH, Puniko Hadits al-Ghoythy lan Syarah Barzanji tuwin Nazhatul Majaalis, (Singapura: penerbit Haji Muhammad Ami

[62] Saleh Darat, Kitab Jauharot al-Tauhid, (Cirebon: percetakan Al-Mishriyah, TT).

[63] Ibid, hlm. 393-399.

[64] Ibid, hlm. 2-3.

[65] Saleh Darat, KH, “Iki Kitab Fasholatan Wong ‘Awam….(Singapura: Haji Muhammad Amin, Kampung Melayu Lorong Pahang pada tahun 1315H/1897/98 M), hlm. 48.

close
Download Aplikasi Berkah Sahabat Beribadah