Berhijab Kok Dianggap "Hijrah". Hijrah Gundulmu
Cari Berita

Advertisement

Loading...

Berhijab Kok Dianggap "Hijrah". Hijrah Gundulmu

Duta Islam #02
Selasa, 09 April 2019
Loading...

Ilustrasi Hijab Syar'i. (Foto: jabar.tribunnews.com)
Oleh Sumanto Al Qurtuby

DutaIslam.Com - Sebagian kelompok Islam unyu-unyu di Indonesia sering kali mengaitkan hijab dengan "hijrah". Kata "hijrah" disini bukan berarti "migrasi fisik" dari Makah ke Madinah atau dari tempat yang kurang menguntungkan ke daerah yang lebih aman, sebagaimana makna asalnya. Tetapi, menurut mereka, "migrasi non-fisik" dari suatu keadaan atau perbuatan yang mereka anggap "tidak Islami" ke suatu keadaan atau perbuatan yang mereka imajinasikan sebagai "Islami" atau "syar'i".

Implementasi kata "hijrah" ini cukup beragam di masyarakat. Di India dan Pakistan, kata "hijrah" itu merujuk ke kaum wadam, waria, bencong, dan transgender, yaitu kaum yang penampilan fisik luarnya tampak bak "perempuan sejati" tetapi kalau kencing mereka berdiri karena punya titit.

Bagaimana bisa berhijab bisa dikatakan sebagai "hijrah iman" (dari non-Muslim ke Muslim) atau dianggap atau dijadikan sebagai ukuran kualitas keimanan, keislaman, dan kesyar'ian seseorang sementara orang berhijab itu motivasinya banyak sekali, dan banyak pula kelompok non-Muslimah yang berhijab karena menganggap sebagai bagian dari identitas keagamaan dan kebudayaan mereka?

Seperti yang sudah sering kali saya jelaskan, yang berhijab itu bukan hanya Muslimah saja tetapi juga berbagai kelompok etno-agama lain. Banyak sekali perempuan Yahudi ortodoks, Kristen ortodoks, Yazidi, Druze, Maronite, Koptik, Assyro-Chaldean, Aramean, Armenia, dlsb, di Timur Tengah yang juga mengenakan hijab karena menganggapnya sebagai bagian dari "identitas kultural-tradisional" mereka, meskipun tentu saja ada juga yang tidak memakainya karena itu pilihan masing-masing individu.

Menariknya, banyak kaum Muslimah Alawi di Suriah malah tidak berhijab karena menganggapnya tidak wajib. Foto di bawah ini adalah salah satu contoh kecil perempuan Kristen Arab di Bethlehem dengan pakaian tradisional mereka.

Foto: Fb Sumato Al Qurtuby
Bukan hanya itu saja. Orang berhijab itu motivasinya cem-macem: ada yang karena sungkan atau malu dengan saudara, teman, tetangga, mertua, menantu; ada juga yang terpaksa memakai karena ikut-ikutan rombongan di klub pengajian; yang lain memakai hijab karena mengikuti tren zaman saja; yang lain lagi memakai hijab karena ingin pamer desain hijab modis teranyar; ada pula yang berhijab sebagai "kamuflase" untuk menutupi dan mengelabui "perilaku yang sebenarnya". Misalnya, banyak tuh perempuan tlembuk atau begenggek yang berhijab. Banyak juga perempuan-perempuan koruptor busuk yang berhijab. Terus hijrah kemana mereka?

Jadi, mau berhijab silakan saja bebas merdeka karena itu hak berbusana masing-masing individu tetapi tak perlu berimajinasi atau berkhayal yang aneh-aneh: supaya lebih Islami-lah, lebih syar'i-lah, "lebih hijri"-lah, "lebih hidayati"-lah, dlsb.

Kualitas keberimanan dan keberagamaan seseorang itu bukan diukur dari pakaian tetapi dari hati serta perilaku individual dan sosial mereka. Saya sendiri berpendapat, di ruang publik, menutup rambut kepala itu penting-nggak penting. Kalau menutup jembut baru penting. [dutaislam.com/gg]

Source: Sumanto Al Qurtuby

Loading...