Kiai Mathori Surodadi: Wali Allah yang Dikenal "Tak Berpuasa Ramadhan"
Cari Berita

Advertisement

Kiai Mathori Surodadi: Wali Allah yang Dikenal "Tak Berpuasa Ramadhan"

Duta Islam #01
Jumat, 08 Maret 2019

Ilustrasi wali Allah. Foto: istimewa
Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Kiai Mathori salah satu ulama pendatang yang juga dikenal auliya di Desa Surodadi. Kiai Mathori memiliki saudara bernama Kiai Hamim Disebutkan, saat wafat, beliau masih dalam kondisi muthâla’ah kitab.

Tentang kewalian Kiai Mathori ini, guru terekatnya, Mbah KH. Ismail Sulaiman, Bugel, Kedung, pernah mengatakannya.

“Di Surodadi, ada seorang wali,” kata Mbah Ismail kala itu.

Mbah Ismail menyebut Kiai Mathori sebagai wali Allah konon karena saat haji, beliau bertemu Kiai Mathori di Makkah, padahal Kiai Mathori tidak sedang berangkat haji tahun itu.

Putra Kiai Isma’il, yakni Kiai Sulaiman bin Isma’il Bugel, juga disebut-sebut sangat mengagumi dan segan dengan Kiai Mathori.

Selain dikenal warga sering tidak terlihat berpuasa Ramadhan, Kiai Mathori juga dikenal memiliki murid dari bangsa jin.

Di sebuah warung wedang, Kiai Mathori pernah berujar, “aku tidak puasa nak,” terangnya sambil minum, “aku ya ikut tidak puasa kalau begitu, mbah, haha,” jawab warga.

Karena tidak berpuasa, ada seorang warga yang mempertanyakan kekiaiannya. “Kiai kok tidak puasa,” tukasnya.

Oleh Kiai Mathori, ia diminta melihat mulutnya yang dibuka. Apa yang dilihat? Ternyata laut. Artinya, apapun yang dikunyah, halal maupun haram, ya tidak berpengaruh. Laut adalah muara akhir dari semua kotoran sungai yang mengalir ke sana.

Menurut cerita orang-orang yang pernah hidup sezaman, Kiai Mathori ini kalau berak tidak ada bekas kotorannya seperti cerita tentang keramat Amangkurat yang bekas kotorannya juga hilang, dan malah menjadi jimat —seperti pernah dituturkan KH. Abdul Bashir, Jekulo, Kudus.

Meski sama-sama wali Allah, menurut Kiai Dawam (Kalianyar, Jepara), wali yang digandeng dengan syariat lebih utama daripada wali Allah yang tidak digandeng dengan syariat. Ada memang wali Allah yang secara lahiriah lâ wa lâ (tidak tampak beribadah kepada Allah). Tapi banyak yang tidak demikian juga. Itu urusan Allah Swt.

Wali Tanpa Syariat

Hanya karena tidak nampak bersyariat, kita tidak dibenarkan menuduh seseorang bukan wali Allah. Semua atas kehendak Allah. Yang mengetahui seseorang adalah wali ya memang sesama wali Allah. Demikian juga dengan Kiai Mathori Surodadi.

Seperti halnya Kiai Malik (dipanggil Maliki), asli Kedungmutih (Demak). Beliau adalah murid KH. Thosin yang pernah khatam ngaji Alfiyah dan hapal Al-Qur’an. Tapi beliau dikenal nyentrik karena tidak pernah tampak melaksanakan shalat dalam —pengertian syariat dan fiqih. Oleh Habib Luthfi, Kiai Maliki justru dikenalkan sebagai wali abdâl.

“Surodadi hari ini ada wali abdâl,” terang Habib Luthfi kala itu.

Menurut Kiai Thosin, muridnya bernama Maliki itu kalau terjaga (melék) matanya, ya terjaga pula lisannya. Setelah memiliki dua anak (Asiroh dan Kiai Nafi’, yang kini mukim di Kedungmalang, Jepara), Kiai Maliki ini mulai ngédan cinta kepada Allah Swt., sepulangnya dari Madura.

Lahir di Kedungmutih Demak, Kiai Maliki berkeluarga di Babalan, Demak. Istrinya adalah kakak kandung dari KH. Abdurrozaq alhâfidz (murid KH. Arwani Amin Kudus), bernama Dakhola.

Kiai Maliki memiliki kebiasaan nongkrong di warung-warung kopi, berdiam, dan pakaiannya selalu tampil jelek di hadapan umum, ber-jas, celana kumut-kumut seperti tak pernah dicuci dan berkalung sarung lusuh. Rambutnya Gondrong seperti rambutnya Mbah Malik Purwokerto, guru Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan.

Saat jam’iyahan Qur’an bersama Kiai Nur Huda, Kiai Shobari dan kiai lainnya suatu kali, Kiai Maliki pernah dipanggil gurunya, Kiai Thosin,

“Maliki mana Maliki? Suruh ke sini dia, bilang yang perintah saya”. Para murid lainnya pun menghadirkan Kiai Maliki di hadapan Kiai Thosin.

“Kamu kenapa sekarang tidak pernah lagi sembayang Maliki?”

Pertanyaan Kiai Thosin tersebut hanya direspon dengan senyum oleh Kiai Maliki.

“Monggo shalat, saya ikut jadi makmum jenengan kiai,” demikian jawab Kiai Maliki. 

Meski baru diketahui luas sebagai waliyullâh setelah wafat, Kiai Maliki sebetulnya sudah disegani sejak beliau masih hidup, dan memang sudah khâriqul âdah sejak lama.

Misalnya, Kiai Maliki ini diketahui memiliki keramat di mana saat ia berak di rumah warga, pemilik rumah yang diberaki, katanya, dijamin mendapatkan limpahan rezeki yang MasyâAllah besar. Tapi begitu, kadang-kadang, cobaan yang diterima pemilik rumah juga tak kalah besar.

Saat cobaan diterima oleh pemilik rumah tersebut, misal ia kemudian mengalami kebangkrutan, gantian Kiai Maliki yang sangat sulit dicari keberadaannya. Padahal sangat dibutuhkan.

Lama tidak ditemukan, tiba-tiba ada kabar yang mengatakan Kiai Maliki ada di Jakarta. Laku Kiai Maliki yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba muncul di beberapa daerah, menjadi misteri tersendiri bagi Kiai Maliki hingga wafatnya di Semarang.

Kiai Maliki memang suka mulodhoro (berkelana). Jangan sampai kebaikannya diketahui oleh banyak orang. Begitulah karakter waliyullâh abdâl di mana-mana, seperti Mbah Abdullah Fanani di dataran Dieng, Wonosobo, yang juga ceritanya mirip-mirip dengan Kiai Mathori Surodadi dan Kiai Maliki Kedungmutih. Wallâhu a’lam. [dutaislam.com/ab]

close
Banner iklan disini