Dipandang Efektif, Pelibatan Perempuan dalam Aksi Teror Makin Marak

Dipandang Efektif, Pelibatan Perempuan dalam Aksi Teror Makin Marak

Rabu, 20 Maret 2019 | x dibaca
Dua siska ditangkap saat akan masuk ke Brimob untuk memberi makan tahanan teroris. Foto: Istimewa.
DutaIslam.Com - Identitas pelaku bom bunuh diri di Sibolga, Sumatera Utara, Rabu (13/03/2019) lalu adalah seorang perempuan. Dia bernama Solimah, dari Kota Padangsidimpuan. Solimah menambah daftar panjang pelibatan kaum perempuan untuk menjadi pelaku aksi terorisme.

Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Siti Musdah Mulia menarik beberapa benang merah, keterlibatan kaum wanita dalam aksi terorisme merupakan fenomena global. Dari pengamatannya terhadap kelompok Radikal Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS) sejak tiga tahun terakhir, penggunaan kelompok perempuan semakin banyak dan efektif. Musdah melihat, cara ini diduplikasi dan dan dikembangkan di seluruh dunia termasuk di Indonesia.

"Kaum perempuan itu kalau dicekokin dengan urusan agama itu paling cepat masuk. Lalu disebutkan hadistnya 'Kalau laki-laki dapat surga dan ketemu bidadari di surga. Sementara kalau perempuan itu bisa membawa 70 keluarganya ke surga'," kata Musdah, Selasa (19/03/2019) dilansir dari NU Online.

"Pandangan-pandangan keagamaan yang sesat seperti itu tentunya memberikan kemudahan bagi perempuan. Apalagi kalau sudah ada istilah ‘Sami’na Wa Atho’na’ (Kami Mendengar dan Kami Taat), itu perempuan jauh lebih loyalitas ketimbang laki-laki,” sambungnya.

Selain itu, Musdah melanjutkan, perekrutan dan melibatkan perempuan dalam aksi terorisme dinilai lebih ‘murah’. Pasalnya. kelompok teroris memakai modus operandi dinikahi, dipacari dan sebagainya.

“Kalau sudah seperti itu tentunya ‘habis’ dan kasihan kaum perempuan itu. Apalagi sejak kecil kaum perempuan lebih banyak dididik untuk mengebangkan emosinya, bukan mengembangkan intelektualitasnya. Tentunya hal tersebut juga menjadi problem bagi pendidikan di kita selama ini,” paparanya.

Padahal, lanjut Musdah, peran perempuan di sisi lain bisa dimanfaatkan sebagai agen pembangun perdamaian. Hal ini bisa dibangun jika ada sinergi program, antara lembaga dan kementerian. Untuk itu, Musdah meminta kepada lembaga-lembaga pemerintah seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) atau Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk melibatkan perempuan dalam sosialisasi bahaya radikal terorisme yang melibatkan kaum perempuan.

“Tentunya harus menggunakan perspektif kesetaraan Gender juga. Kaum perempuan juga harus dilibatkan dari awal. Dia juga harus menjadi aktor penyebar perdamaian. Kalau kaum perempuan itu bisa direkrut untuk jadi aktor teroris maka seharusnya perempuan lebih bisa untuk direkrut menjadi aktor dalam membawa pesan damai,” imbuhnya. [dutaislam.com/rozali/pin]

TerPopuler