Minggu, 18 November 2018

Tiap Bulan, Miliaran Duit PKS Hilang Sejak Kadernya Pindah ke GARBI


DutaIslam.Com - Gelombang mundurnya para kader PKS ke Garbi (Gerakan Arah Baru Indonesia) cukup membuat jajaran DPP PKS kelimpungan. Diakui atau tidak, para kader yang menyeberang ke Garbi bukan kader sembarangan.

Banyak dari mereka adalah assabiqunal awwalun (perintis yang membangun PKS ketika masih miskin dan tertatih) seperti Fahri Hamzah, Hammy Wahyudianto (mantan Ketua DPW PKS Jatim) dan masih banyak lagi.

Para assabiqunal awwalun yang menyeberang ke Garbi tersebut tentu telah menyumbangkan banyak aset sejak merintis PKS. Sehingga bisa saja mereka ingin menarik kembali aset-aset karena telah berseberangan sikap politik dngan para elite PKS sekarang.

Elite PKS era sekarang tampak panik sekali hingga meminta para pengurus DPP keliling seluruh Indonesia guna mengamankan apa yang mereka sebut sebagai "aset jamaah". Tindakan ini untuk memastikan surat-surat gedung, tanah dan aset lainnya agar tak pindah tangan ke pihak Garbi. Bukan tak mungkin peristiwa perebutan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996 akan terulang menimpa PKS.

PKS punya lembaga otonom "Lajnah Munakahat" di bawah ketua PKS Kabupaten/Kota atau Provinsi, tapi tak terlihat dalam struktur resmi. Lembaga ini mengelola perjodohan para kader PKS.

Prinsip pernikahan kader PKS harus mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan jamaah dan jangan sampai jadi beban jamaah PKS. Setelah Garbi deklarasi, Lajnah Munakahat segera menyerukan kepada kader PKS agar tak memilih calon pasangan dari Garbi.

Pernikahan di PKS

PKS berkeyakinan, bila keluarga kadernya berafiliasi ke Garbi akan sulit untuk dikendalikan. Kalau mereka tidak terang-terangan menyatakan sebagai Garbi, militansinya terhadap PKS akan makin meluntur. Ini yang ditakutkan PKS. Faktanya, secara umum kader PKS yang pindah ke Garbi jauh lebih matang dari sisi keilmuan.

Bagaimana para kader PKS dan Garbi memperjuangkan cerita cinta mereka? Sanggupkah dogma qiyadah PKS yang dikeluarkan "Lajnah Munakahat" akan mampu membunuh cinta mereka? Biarkan saja panggung dunia nyata bercerita sendiri.

Yang pasti, "Power of Love" konon bisa meluluhkan baja-baja keangkuhan, bukan tak mungkin termasuk dogma qiyadah PKS. Bukan begitu?\

Tiap bulan miliaran uang PKS hilang karena pengaruh Garbi. "Sunduquna juyubuna" (uang kami berasal dari kantong kami), kata kader PKS. Sehingga uang kader menjadi tulang punggung PKS dalam menghidupi operasional partainya. Tapi apa jadinya jika para kader PKS banyak pindah haluan ke rumah baru mereka, Garbi?

Menurut Ahmad Hasan Bashori, mantan DPW PKS Jawa Timur, sekitar 20-30 persen kader PKS di setiap daerah kini sudah membelot pindah ke rumah barunya, yakni Garbi.

Di seluruh Indonesia, ada sekitar 1 juta kader inti PKS. Bila 20 persen pindah ke Garbi, maka ada 200 ribu kader inti yang pergi meninggalkan PKS. Padahal, tiap bulan mereka iuran minimal Rp. 100.000 per kader dan 10 persen hasilnya ditarik ke DPP PKS. Artinya, Garbi membuat PKS kehilangan uang miliaran rupiah tiap bulan.

Bisa dibayangkan, betapa marah dan kalutnya elite PKS. Sebab, dari 20 persen kader intinya yang pindah ke Garbi, mereka bisa mendapatkan uang iuran 10 miliar tiap bulan. Celakanya, uang itu tiba-tiba pindah ke Garbi saat PKS ingin mengikuti Pemilu 2019. Pendek kata, DPP PKS kini sedang pening kepala karena bokek akibat pengaruh Garbi.

PKS adalah bagian dari gerakan Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Ketua Majelis Syuro (KMS) PKS disebut juga sebagai Muraqib Aam. Sedangkan ketua IM disebut Mursyid Aam. Lantas, bagaimana jika PKS pecah dan melahirkan Garbi?

Seperti diketahui, usai menjabat presiden PKS, Anis Matta ganti menjabat Badan Kerjasama Internasional dengan jaringan PKS. Artinya, Anis Matta bisa lebih bebas berkomunikasi dengan jaringan PKS di luar negeri dan jaringan IM di Mesir demi mencari dukungan internasional untuk membesarkan Garbi.

Ketika Ikhwanul Muslimin di Mesir memberikan restu pada Garbi, maka dampaknya bisa ditebak; derita PKS akan semakin lengkap. Di dalam negeri Indonesia, PKS makin kehilangan pengakuan dari para kader intinya, sedang di dunia internasional juga kehilangan pengakuan dari IM Mesir.

Patut dicatat bahwa manuver para aktor Garbi dalam mencari dukungan politik jauh lebih berkelas jika dibandingkan dengan manuver para elite PKS sekarang.

Sejak pengaruh Garbi makin membesar, PKS mulai bertindak keras terhadap kadernya. Mungkin mirip ungkapan Bush, "Either you are with us, or you are with the terrorist". Keberadaan Garbi seolah dianggap seperti teroris yang mengancam keberlangsungan PKS.

PKS mengadakan Tajdidul Bai'ah (Pembaharuan Sumpah Setia) yang wajib diikuti semua kader inti di seluruh Indonesia. Prosesnya cukup ketat dan cenderung menekan kader.

Pasalnya, para kader diundang dengan cover acara berbeda-beda. Selanjutnya, panitia menyita perangkat komunikasi semua peserta. Tapi akhirnya para kader diminta menandatangani sumpah setia dengan materai Rp. 6000. Kader cuma dikasi dua pilihan; bersama PKS atau Garbi?

Saking takutnya PKS atas loyalitas kadernya, jika kader berhalangan hadir dalam acara Tajdidul Bai'ah di kabupaten domisilinya, maka diwajibkan ikut di kabupaten lain.

Celakanya, di antara kader PKS ternyata banyakyang berpura-pura tanda tangan, tapi hatinya mendukung Garbi. Mereka menganggap prosesi Tajdidul Bai'ah sebagai lucu-lucuan saja. [dutaislam.com/ab]


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini