Rabu, 14 November 2018

Sejarah Pahlawan dari NU yang "Dihabisi" A.H Nasution di Bukunya


Oleh Ahmad Baso

DutaIslam.Com - Setelah Mbah KH Wahab Chasbullah, KH As'ad Syamsul Arifin Situbondo, KH. Idham Chalid, dan kini barusan, KH Syam'un Banten ditetapkan sebagai pahlawan nasional, lalu apa?

Orang-orang militer (terutama sayap kader tentara Belanda/Amerika) merasa dirinya yang paling absah menjadi pembela negara, yang paling berjasa untuk membela NKRI, dan mengklaim paling banyak pahlawannya.

Mereka membuktikan itu dengan menulis buku sejarah perang di Republik ini dalam versi mereka. Salah seorang sejarawan tentara itu adalah Jend. A.H. Nasution, yang menulis 11 jilid Sejarah Perang Kemerdekaan RI 1945-1949. 

Dalam buku ini dipastikan tidak ada kontribusi laskar rakyat, seperti Laskar Sabilillah/Hizbullah. Tidak ada pula pahlawan yang paling berjasa dari kiai atau orang-orang pesantren, apalagi, -jangan harap,- ada nama KH. Wahab Chasbullah dan kiai-kiai NU itu disebut.

Itulah alasan mengapa Seoharto dulu tidak mengakui Mbah Wahab misalnya, sebagai pahlawan. Mengapa? Ya karena Mbah Wahab dan generasi pesantren tidak punya bukti tertulis. Sementara para tentara punya bukti sebagai pahlawan, terutama dari buku Nasution ini.

Padahal salah satu kekuatan terbesar pada diri Mbah Wahab dan para kiai kita komandan laskar revolusioner adalah posisi mereka sebagai pimpinan nasional tentara rakyat Sabillah/Hizbullah dalam perang gerilya melawan tentara Sekutu/Nica-Belanda. Ini yang mau diingkari oleh versi resmi tentara dalam Sejarah Perang Kemerdekaan itu.

Tentara Rakyat 

Tentara atau laskar rakyat ini dihina oleh sejarawan Orde Baru maupun orientalis sebagai "tentara kampungan", "milisi-penjegal yang tangannya berlumuran darah", atau "laskar preman yang amburadul". Bisa saja dianggap preman atau tukang pembunuh, seperti dituduhkan banyak sejarawan bule.

Tapi kalau mereka diorgansiasikan di bawah satu komando barisan kiai, di bawah kendali Mbah Wahab, ceritanya akan lain. Mereka bersatu di bawah panji-panji NU untuk NKRI. Efeknya sangat dahsyat: kompeni ketakutan, dan kontribusinya melebihi tentara berseragam seperti disanjung sanjung Nasution atau Soeharto.

Nah tugas anak-anak pesantren kini menulis buku berjilid-jilid tentang kiprah Mbah Wahab dan kiai-kiai NU pahlawan nasional itu sebagai komandan nasional tentara rakyat itu ntuk mengimbangi versi sesat-menyesatkan dari bukunya Nasution dan para sejarawan bule itu.

Jangan hanya anak-anak santri tahunya main Facebook/Twitter melulu atau ngaji Ushul Fiqih tapi tidak tahu bagaimana menerapkan Ushul Fiqih dalam historiografi nasional Mbah Wahab Chasbullah dan kiai kiai NU untuk khittah kebangsaan kita. Anda siap? [dutaislam.com/ab]

Ahmad Baso, penulis buku Pesantren Studies

Sumber:
Ahmad Baso

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini