Kamis, 29 November 2018

Mengapa Saya Tidak Mengidolakan Habib Luthfi?

Foto Habib Luthfi
Oleh Zainal Wongwongan

DutaIslam.Com - Makanya saya itu lebih memilih dan menikmati ketidakjelasan saya karena demi anak keturunan saya kelak. Bayangkan jika sekarang ini saya menjadi Kiai besar, tentu saja anak anak saya otomatis menjadi gus atau Ning besar pula.

Sebagai Gus besar tentunya mereka harus menempati jabatan tinggi dalam kepengurusan NU, apalagi anakku itu orang yang sudah terkenal alim dan punya banyak pengikut, gila pangkat pulak? Mau ditaruh di PCNU nggak pantes, mau ditaruh di PWNU menjadi ranting saja tidak pernah, akhirnya ia hanya menjadi kiai biasa, sakitnya tuh disini.

Karena merasa tidak dihormati dan tidak dimuliyakan, iapun patah hati lalu bertingkah aneh aneh, tiba-tiba mesra dengan gerakan gerakan kanan.

Dasar memang agak cerdas dan hanya punya satu guru bapaknya sendiri, sementara bapaknya sudah mati, akhirnya tidak ada yang ditokohkan olehnya, ia kemudian mau menokohkan dirinya sendiri. Mengagumi diri sendiri dan ingin dikagumi.

Inilah gambaran orang orang yang cerdas, hubbul jah (suka jabatan) dan dirusak oleh kecerdasannya sendiri. Dikira apa yang telah dibaca dari ratusan kitab koleksinya itu sudah menjadi ilmu, sehingga ia pun mengambil apa saja yang ia dapat dari bacaannya itu untuk ditampilkan di depan umum dan mengkritik hal hal yang menurut otaknya tidak sesuai tanpa mempertimbangkan apakah pernyataannya itu justru akan menimbulkan fitnah yang lebih besar apa tidak.

Oleh karena itu, secerdas apapun dan sealim apapun seseorang ia harus berani mengambil orang lain sebagai figuran dalam dirinya, harus berani mengambil satu atau dua orang yang membuat ia akan berpikir seribu kali untuk melontarkan pikiran pikiran nakalnya, kalau tidak, ia hanya akan membuat guncangan guncangan di tengah tengah masyarakat.

Tidak berarti merendahkan kiai yang lain, tetapi saya harus berani mengambil satu atau dua idola yang saya yakini ketidaksempurnaannya namun tsiqoh dalam ilmu dan amaliyahnya. Yaitu Mbah Moen dan Mbah Mus. Beliau berdualah yang saya kenal, yang saya melihat dan mendengar langsung pernyataan dan tingkah polahnya.

Jika saya ditanya, apakah saya mengidooakan Bib Luthfi? Saya jawab tidak.

Apa saya tidak mengidolakan Habib Umar Alhafidh? Saya jawab tidak.

Apakah saya mengidolakan Syaikh Syaikh Al-Azhar? Tidak!!!

Apakah saya mengidolakan Sayyid Muhammad al Maliki Makkah? Juga tidak!!!

Apakah saya mengakui kealiman dan kesalehan beliau beliau? Iya.

Yang saya idolakan cuma Mbah Moen dan Gus Mus dengan alasan beliau berdua menjadi saksi atas apa yang telah terjadi di Indonesia dan ilmu beliau beliau yang tidak diragukan oleh setan sekalipun, saya meyakini beliau beliau tentu lebih bijak dalam berucap dan bertindak.

Dalam hal spiritualitas, saya mengambil satu figuran saja, karena kalau lebih dari satu tokoh bisa membingungkan. [dutaislam.com/ab]

Sumber: Zainal

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini