Senin, 12 November 2018

Gen Z Hantu Siber, Tentara Misterius Pembela NU


Oleh H Agus Sunyoto

DutaIslam.Com - NU jadi objek bullying, sasaran tembak fitnah, bidikan hoax di berbagai level karena bingung, ewuh-pakewuh, sungkan melakukan bantahan keras apalagi serangan balik. Sebab, NU sudah terkunci mati oleh citra diri sebagai organisasi para ulama yang alim, arif, bijaksana, santun, akhlakul karimah, kemuliaan pewaris Nabi Muhammad Saw.

Celakanya, citra tersebut secara umum diikuti oleh semua elemen NU dari unsur Pemuda, Mahasiswa, Pelajar, sampai murid RA dan PAUD. Akibatnya, musuh NU menyerang di berbagai level dan dimensi nyaris tanpa balas sama sekali.

Bagi kalangan awam, serangan tanpa balas itu acapkali dianggap sebagai kebenaran. Contohnya saat Banser menurunkan Khalid Basalamah, Sugik Nur dll, muncul serangan bernarasi bahwa Banser "tidak waras" karena ulama lslam ceramah dihalangi, sedang gereja kafir malah dijaga. Begitulah, warga NU awam diam-diam ikut terpengaruh kebenaran fitnah tersebut.

Serangan terhadap apa saja terkait NU, termasuk lslam Nusantara, nyaris tidak terbalas. Petuah para sepuh yang sama selalu terulang, "Wes yo, sing waras ngalah!"

Begitulah, di tengah hiruk perang media massa dan media sosial, NU yang terbatasi oleh citra dirinya ibarat Sandsack, dijadikan objek utama sasaran jab, straight, upper cut, swing dan hoax para petarung jalanan tanpa mampu menghindar.

Bahkan saat ulama-ulamanya seperti KH Mustofa Bisri, KH Maimoen Zubair, KH Said Aqil Siraj, Habib Luthfi, dll, dibully dengan kasar pun, tanpa balas. Kadang sambil pringas-pringis, cengengesan, cekikikan para pembully itu meminta maaf dan lantas dimaafkan.

Alhamdulillah, belakangan ini muncul fenomena tak terduga, lahirnya Gen Z, yang sebagian mengaku sebagai keturunan Wong NU. Generasi yang santri, anak sekolahan juga bukan, dengan potensi kemampuan yang menakjubkan di bidang cybernetic, psy war, hypnowriting, asymmetry war tiba-tiba melakukan serangan balik terhadap para Kampret, Kecoak, Kutu Kupret, Kremi yang menyerang NU, sampai mereka kalang kabut. (Baca: PKS Bubarkan “Tentara Cybernya Sendiri”. Takut Diciduk?)

Gen Z yang sebagian beridentitas anonymous, anarcho, exentric, darth evil itu bergerak bak hantu, tuyul, siluman di dunia maya menyerang sangat ganas tanpa aturan dan etika tata krama maupun akhlak.

Saat ditanya maksud dan tujuan mereka apa menyerang semua pihak yang menyerang NU, mereka hanya menjawab ringan,

"Wes wayahe lik, Wong Gendeng dikepruki supaya tambah gendeng (Sudah waktunya pak, orang edan dipukuli saja supaya tambah edan".

"Lho le, nek ngladeni wong gendeng, iku sampean iso diarani podo gendenge (Loh dik, kalau melayani orang gila sama artinya kamu bisa disebut sama gilanya)".

"Halah lek, wong diarani ae kok repot (Ah, tak apa pak, cuma disebut-sebut saja kok repot," sahut mereka sebelum akhirnya menghilang lagi di belantara dunia cyber. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini