Senin, 17 September 2018

Ulama Bingung Menyesuaikan Keinginan 'tuhan' dan Keinginan Prabowo

Ijtima GNPF II. Foto: Istimewa.
Oleh Eko Kuntadhi

DutaIslam.Com - Orang-orang yang mengaku ulama ngumpul, Juli 2018. Di Balroom Hotel Peninsula Slipi, mereka salah satunya merumuskan siapa Capres dan Cawapres yang dianggap sesuai keinginan 'tuhan'. Maklum. Mereka yang berkumpul itu semua ngaku ulama. Jadi kalau dari kumpal-kumpul itu keluar sebuah kesimpulan, sudah dapat dipastikan kesimpulan itu adalah dekat-dekat dengan kemauan 'tuhan'

Coba perhatikan rekomendasi mereka. Disana sini mengutip hadist dan ayat Al Quran. Disana sini bertebaran hujjah agama. Luar biasa.

Salah satu kesimpulannya, mendukung Prabowo sebagai Capres. Kedua, mendukung Salim Segaf dan Somad sebagai Cawapres. Inilah kesimpulan yang dekat dengan keinginan 'tuhan' menurut mereka. Soalnya untuk memutuskan hal itu mereka yang mengaku ulama harus berembug, berfikir, bertafakur, berdoa gak putus-putus. Gimana gak hebat?

Tapi rupanya Prabowo gak sreg dengan hasil itu. Dia lebih memilih Sandiaga Uno sebagai Cawapres. Somad dam Salim Segaf hasil perenungan ulama dianggap angin lalu.

Ulama 212 boleh merumuskan kenginan 'tuhan' dengan menggelar Ijtima. Mereka boleh yakin bahwa kesimpulan tersebut mereka ambil dengan dengan susah payah. Wong, semua daya upaya itu tujuannya mau merumuskan keinginan 'tuhan' tentang siapa yang yang harus didukung sebagai Capres dan Cawapres.

Tapi sehebat-hebatnya keinginan 'tuhan' yang sudah dirumuskan dalam Ijtima Ulama itu, ternyata harus mengalah dengan keputusan Prabowo. Entah bagaimana sikap 'tuhan' sesungguhnya. Yang pasti posisi Prabowo lebih menentukan.

Ulama bingung. Bagaimana cara mereka menyesuaikan keinginan 'tuhan' dengan keinginan Prabowo. Siapa yang harus dikalahkan jika keduanya bertentangan?

Gampang. Bikin saja Ijitma Ulama revisi. Tujuannya agar para ulama itu bisa menundukan keinginan 'tuhan' sehingga bisa sesuai dengan keinginan Prabowo.

Lalu mereka menggelar Ijtima Ulama kedua. Lalu 'tuhan' dipaksa mengalah. Maka salah satu hasil Ijtima Ulama II adalah mendukung Sandiaga Uno sebagai Cawapres. Nama Somad dan Salim Segaf tidak disebut lagi. Beres. Para ulama itu yakin, keinginan 'tuhan' gampang direvisi. Yang susah itu merevisi keinginan Prabowo.

Maka untuk mendukung Prabowo dan Sandi sebagai Capres dan Cawapres, dicarilah hadist dan ayat yang mendukung. Hadist dan ayat yang dulu digunakan untuk mendukung Somad dan Salim Segaf dianggap kurang sesuai dengan kepentingan politik Prabowo. Hujjah kitab suci harus mengikuti Capres, bukan sebaliknya.

Yang menjengkelkan di tengah acara Ijtima Ulama II, ada spanduk HTI yang mendukung Prabowo sebagai Capres. Padahal kita tahu, HTI ini sudah resmi jadi organisasi terlarang. Derajatnya sama seperti PKI. Sama-sama bertujuan merombak Pancasila.

Katakanlah hasil Ijtima Ulama I gak sesuai dengan kemauan Prabowo. Dia gak milih Somad atau Salim Segaf. Pilihannya malah Sandiaga.

Kalau tetiba Prabowo berubah lagi gimana? Misalnya gak jadi milih Sandi sebagai Cawapres?

"Ya, bikin Ijtima Ulama lagi. Kok, repot amat. Kalau soal 'tuhan' mah, bisa cingcai-lah," celetuk Abu Kumkum. [dutaislam.com/pin]

source: ekokuntadhi.com

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini