Sabtu, 18 Agustus 2018

Manuggaling Santri dan NKRI

Foto: ilustrasi istimewa
Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Sejarah membuktikan, tanpa peran dan perang para santri dengan penjajah, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak akan pernah ada. Setidaknya, testimoni tersebut pernah diutarakan oleh seorang pelukis keturunan Cina kepada KH Musthofa Bisri di OHD Magelang, saat dia menunjuk lukisan indah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU) dan pencetus Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945, yang kemudian diresmikan sebagai Hari Santri sejak tahun 2015.

Manunggal itu artinya menjadi satu dalam sikap dan tingkah laku; luluh (bercampur, berpadu) sehingga tidak terpisahkan. Sebagaimana manunggalnya santri atas berdirinya NKRI ini. Sebagaimana pula manunggalnya santri dengan ajaran para kiai yang, sekali lagi, tak terpisahkan dari perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan demikian, menjadi santri adalah menjadi pecinta NKRI. Menghianati NKRI sama saja dengan menghianati perjuangan para ulama, yang rela berkorban nyawa dan raga untuk mempertahankan kedaulatan hingga sekarang. Salah satu bukti nyata peran para santri dan kiai adalah lahirnya para ulama bergelar pahlawan nasional (Sumber: www.nu.or.id), antara lain:

  1. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari (Pendiri NU)
  2. KH Abdul Wahid Hasyim (Anggota BPUPKI)
  3. KH Zainul Arifin (Tapanuli, Sumatra, Wakil Perdana Menteri 1962-1963)
  4. KH Zainal Mustofa (Singaparna, Tasikmalaya)
  5. KH Idham Chalid (Ketum PBNU 1956-1984)
  6. KH Abdul Wahab Chasbullah (Pendiri Tashwirul Afkar)
  7. KH As’ad Syamsul Arifin (Kiai Peneguh Pancasila)

Ini belum menghitung kiprah para kiai dan santri di beberapa daerah, yang namanya tidak terpublikasi sebagai pahlawan nasional. Di daerah Jawa Timur misalnya, nama Kiai Saleh Lateng dikenal sebagai kiai pejuang yang di masa hidupnya tidak pernah surut mengoptimasi semangat para santri menentang penjajahan.

Demikian pula dengan nama Kiai Syamsuri Singonegaran dan Kiai Abdul Wahab Penataban, yang dikenal masyarakat memiliki kemampuan kanuragan yang luar biasa. Bagaimana tidak, Kiai Abdul Wahab ini ditakuti Belanda karena beliau bisa menonaktifkan bom-bom yang dijatuhkan.

Koran “Kedaulatan Rakjat” edisi 26 November 1945 menulis kesaktian Kiai Abdul Wahab tersebut. Berikut tulis koran itu: “Kesaktian kijai2 di medan pertempoeran, ternyata boekan hanja berita lagi, tapi kita saksikan sendiri. Banjak mortier jang melempem, bom tidak meledak dsbnja lagi.”

Banyaknya nama kiai pejuang dan santri-santrinya itu lahir dari wadah perlawanan bernama Laskar Hizbullah. Beberapa tokoh NU yang pernah menjadi komandan perang antara lain; KH Masjkur (Malang), yang menjabat sebagai Ketua Markas Tertinggi Sabilillah (1945-1947). Di masa pemerintahan Mr Amir Syarifuddinm, murid Syaikhona Cholil Bangkalan tersebut diberikan amanah masuk sebagai anggota Badan Pembela Pertahanan Negara.

Di Mojokerto, KH Munasir Ali juga diketahui pernah menjadi Komandan Batalyon Condromowo dan turut andil dalam mendirikan Hizbullah Cabang Mojokerto. Ketika Hizbullah melebur dengan TNI, Kiai Munasir juga terdaftar sebagai anggota aktif, hingga dirinya diangkat menjadi Komandan Batalyon 39 TNI AD.

Di Malang, KH Sullam Syamsun juga tercatat sebagai tokoh kiai yang pernah aktif di dunia militer dengan jabatan tinggi di antara nama besar lain dari kalangan santri. Ia pernah menjadi Komandan Kompi I sekaligus merangkap Wakil Batalyon I Brigade IV Brawijaya, Komandan keamanan Malang Kota, Komandan Batalyon 523, 514, Pa Teritorium V/Brawijaya dan pensiun pada tahun 1977 dengan pangkat Brigadir Jenderal TNI.

Ini belum menyebut nama KH Iskandar Sulaiman, santri Tebuireng yang aktif di militer dengan pangkat kolonel, KH Hasyim Latief (Jombang) yang pernah jadi Komandan Kompi I Yon Munasir serta H Abdul Mannan Wijaya (Batu), santri Tebuireng yang berpangkat terakhir sebagai Brigadir Jenderal.

Hamid Roesdi juga tercatat sebagai pejuang santri yang pada awal tahun 1947, pernah diangkat sebagai Komandan Resimen Infantri 38 Divisi VII Untung Suropati dan Komandan Pertahanan Daerah Malang, yang berkedudukan di Pandaan Pasuruan.

Pada waktu penumpasan PKI Muso (Madiun Affair), Mayor Roesdi juga menjabat Komandan Komando Penumpasan PKI Muso di daerah Malang Selatan (Turen-Donomulyo). (Data diambil dari Majalah AULA edisi November 2012, hlm: 58-59)

Begitu meleburnya jiwa para santri dengan perjuangan meraih kemerdekaan itu, hingga dinyatakan oleh para kiai dan gawagis di Jepara, bahwa tidak ada kiai dan santri yang hidup di masa kemerdekaan yang tidak terlepas dari gerakan perlawanan melawan penjajah Belanda maupun Jepang di wilayahnya.

Saking menunggalnya santri dengan NKRI, seorang penulis berkebangsaan Arab bernama Sayyid Muhammad Hasan Syihab menyebut KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU sebagai peletak dasar kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Mengapa? Karena Kiai Hasyim terbukti dalam sejarah ingin menyatukan Islam dan Nasionalisme sejak pulang dari Arab tahun 1914. Mendirikan NU, jargon hubbul withon minal iman dipilih sebagai garis perjuangan agar NKRI tetap tidak terpecah.

Untuk lebih menekankan pentingnya nasionalisme di kalangan santri, Muktamar NU tahun 1936 di Banjarmasin juga memutuskan bahwa jika Indonesia merdeka, maka bentuk negaranya adalah Darus Salam (negara damai), bukan Darul Islam (negara Islam).

Sejak 1914, Kiai Hasyim menyebut faktor gejolaknya negara-negara di Timur Tengah adalah karena tidak memiliki konsep penyatuan Islam dan Nasionalisme. Puncak meleburnya Islam dan Nasionalisme KH Hasyim Ays’ari adalah ketika mencetuskan hukum fardlu ain (wajib tiap-tiap muslim) untuk melawan segala bentuk penjajahan.

Itulah yang kemudian dikenal dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 hingga mencetuskan perang sengit 4 hari sampai 10 November 1945. Presiden Jokowi menetapkan hari itu sebagai Hari Santri sejak 2015 lalu. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini