Iklan

Iklan

,

Iklan

Surat Cinta Untuk Para Habib: yang Terkasih!

17 Jan 2017, 08:03 WIB Ter-Updated 2017-01-17T01:03:28Z

DutaIslam.Com - Habaib yang mufradnya habib (حبيب) berarti tercinta, disenangi, kekasih, yang dikasihi dan dihormati. Jika didahului huruf alif dan lam (al-habib/الحبيب) maka dinisbatkan kepada Nabi saw. Ini sebagai sapaan (laqab) yang dikhususkan untuk intern keturunan Nabi Saw.

Habaib sebagai turunan biologis yang silsilah nasabnya antara 37-39 melekat pada mereka fam/vam/marga keluarga, yakni Assaqqaf/Assegaf, al-Attas, al-Kaf, Bafagih/Balfaqih, Bajned, al-Aidrus, al-Habsyi, Ba’bud, bin Yahya, bin Syihab/Shihab, al-Aidid, al-Ahdal dan al-Mahdali. (Baca: Teguran Untuk NUGL dari Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan)

Habib-habib tersebut di Jawa lazimnya dipanggil Sayyid dan Syarif. Di Sulawesi Selatan untuk sayyid lazimnya disebut tuang Sayyid, Puang Sayye atau karaeng Sayyed. Turunan mereka berhak/ wajib mencantumkan fam di belakang namanya, kecuali seorang perempuan (sayyidah/syarifah) bersuamikan non sayyid, maka turunannya tidak berhak menggunakan fam tersebut dari ibunya.

Sebagai kluarga besar turunan Nabi, sudah seharusnya saling meghormati, bukan saling mencela. Kenyatannya, Quraish Shihab misalnya justru dari fam Shihab pula yang mencelanya. Pakar dan ahli tafsir seperti Quraish Shihab, siapa yang meragukan keilmuan dan ketawadhu’annya? Namun tiba-tiba dari fam yang sama malah menjelek-jelekkannya dengan tuduhan miring. Kalo begini, apa kata dunia?

Sesama fam saja dijelek-jelekkan, apalagi yang selainnya. Masih teringat tokoh NU yang diidolakan, Abdurrahman Wahid. Gusdur dikatai buta mata dan buta hati, nau’zubillah. Ini sebuah penghinaan, sementara datuknya, selain tidak pernah menghina, juga melarang umatnya menghina, apalagi turunannya.

Selain menghina sesama habib, menghina pula Gusdur dan ulama lainnya. Lebih riskan karena ada habib menyudutkan pemerintah, padahal yang bersangkutan hidup di sini, pemerintahan negara ini, yang di sinilah ia dilahirkan, belajar, makan dan minum serta memenuhi segala kebutuhan hidup dan kehidupannya. Jika Negara ini dikacaukannya, maka injakan kehidupannya pun akan runtuh, bahkan bisa ditenggelamkan oleh tanah kelahirannya sendiri. [dutaislam.com/ ab]

Ditulis Pecinta Habaib, Mahmud Suyuti, Makassar, Sulsel

Iklan