Iklan

Iklan

,

Iklan

Alasan-Alasan Warga Cirebon Menolak Buya Yahya dari NUGL

26 Agu 2016, 20:35 WIB Ter-Updated 2017-10-17T09:34:37Z

DutaIslam.Com – Kelimpungan atas terbongkarnya jati diri Yahya Zainul Muarif oleh Duta Islam, situs pemecah belah NU yang beralamat di nugarislurus.com membela Rais Syuriahnya itu dengan menurunkan berita “karomah” Buya Yahya (selanjutnya kami sebut Yahya karena warga Cirebon banyak yang keberatan atas julukan Buya padanya).

Dalam situs tersebut, harusnya Yahya sudah meninggal, tapi berkat karomahnya, kata berita pembelaan di NUGL, ia selamat. Duta Islam yang disebut situs liberal oleh kelompok pendendam NU tersebut tidak pernah mengadu antar pihak manapun. Laporan editorial berjudul “Dosa-Dosa Buya Yahya” adalah hasil wawancara dengan orang Cirebon sendiri dan bukan karangan.

Kalau boleh menyebutkan inisial sumber, dia adalah UAI. Ialah yang mengijinkan publikasi data kepada Duta Islam. Ia bertanggungjawab atas semua isi yang tertulis karena sebelum naik posting, sudah dihantarkan ke sumber informasi langsung. Hingga kini, narasumber tidak meminta Duta Islam menarik kembali ucapannya.

Setelah viral di media sosial, tim Duta Islam menemukan testimoni mengejutkan di beberapa akun Facebook yang menyebar link laporan “Dosa-DosaBuya Yahya”. Diantaranya adalah akun bernama Iik Fikri Mubarok. Baru dishare 64 kali dan dilike 300 kali, namun komentarnya mencapai ratusan. Tentu ada yang pro dan kontra. Yang kontra sepertinya bukan orang yang bersinggungan dengan Yahya secara langsung.

Di postingan Iik, banyak orang Cirebon yang memberikan komentar miring terkait Yahya. “Kami sebagai warga Cirebon banyak sakit hatinya sama si Yahya ini,” tulis Fikri. Faktor yang dijadikan alasan Iik menolak adalah laku pembid’ahan Yahya atas tradisi bagi-bagi kue apem (cimplok) di Bulan Shafar.

Iik juga mengungkapkan bahwa Yahya sudah tiga kali mangkir ketika ditantang debat one by one oleh salah satu putra Kyai Cirebon yang berumur 36 tahun. Itu terpaksa dilakukan karena Yahya, menurut Iik, bukan hanya mengkritik, tapi sudah pada taraf melakukan penghinaan kepada tradisi warisan Sunan Gunung Jati itu. Karena sarkasme Yahya inilah, Iik menyebut ustadz asal Blitar yang mencari hidup (pengikut, red) di Cirebon ini sebagai bukan ulama.

Sejak di Universitas al-Ahqaff Yaman, Yahya sudah tidak disukai oleh teman-temannya. “Memang aku juga banyak punya konco dari Al-Ahqaf dan mereka semua tidak pernah setuju sama sepak terbang Yahya,” komentar Iik. Itu juga yang diungkapkan oleh Muhammad Adhika Nandiwardhana dengan mengatakan, “banyak alumni yang tidak suka Pak Yahya karena sepak terjangnya”.



Nandiwardhana menggarisbawahi bahwa ia tidak membenci Yahya, namun perbuatannya, yakni menghina ulama. “Lisannya selalu menghina Ulama NU,” ujarnya, “Ya monggo kalau mau ikut ikutan Pak Yahya menghina para ulama,” lanjut Nadhiwardhana mengingatkan akhlaq para santri.

Dalam deretan komentar tersebut, Gus Fa Qih juga menimpali status lainnya. Ia menyebut tiga faktor terkait akhlaq: “Ada kemungkinan Buya Yahya itu tidak ta'dzim dengan para kiai-kiai NU dan para pendiri Kota Cirebon yang pendiri dan sesepuhnya para waliyullah,” ini faktor pertama yang disebut Gus Fa qih.

Yang kedua, lanjutnya, Buya Yahya itu bukan keturunan kiai-kiai Cirebon yang sepanjang sejarah lebih akrab dipanggil kang, bukan pakai nama buya. Panggil saja nama aslinya ustad Zainul Ma'arif. Jadi panggilan Buya Yahya itu siapa sih yang memberi gelar? Ponpes salaf Cirebon seluruhnya mengedepankan ajaran salaf dengan memelihara utuh bahasa kitab kuning ala kiai kiai sepuh khususnya di bumi nusantara. “Al-Bahjah yang didirikan ustad Zainul Maarif itu tidak mendapat restu dari kiai-kiai Cirebon,” tulis Gus Fa Qih.

Sementara yang ketiga, imbuh Gus Fa Qih, ustad Zainul Maarif itu mengesampingkan Jamiyyah NU. “Ini fakta. Maaf, jangan ujub dengan pendidikan dari Universitas di Yaman. Cirebon itu banyak orang alim tapi lazim panggilannya tetap kang, bukan buya. Ini fakta yang saya dengar dari para kyai NU yang masih keturunan ulama dan wali-wali Cirebon. Yaa semoga sadar sembuh sehat kembali buat ustad Zainul Maarif dan mau kembali merapat pada ajaran salafunas solih ala Jawi, bukan Arab Yaman,” tulisnya panjang dikutip Duta Islam.

H Sopyan yang memantau diskusi membenarkan hal di atas. “Kabar diatas memang bener adanya. Saya sudah lama mendengar,” tuturnya, “bisa dibilang beliau merusak tatanan jamiyyah di Cirebon yang dulu begitu harmonis,” tambahnya sambil meminta kepada pembaca menonton Cirebon TV agar mengetahui bagaimana cara Yahya mengkritik kiai-kiai yang tidak pernah memusuhinya.

Danny Mahendra menimpali H Sopyan dengen menyimpulkan kalau Yahya adalah orang aneh. “Yahya ini orang aneh, beda jauh dengan adab para kiai ahlusunnah wal jamaah kebanyakan, yang melihat aneh ternyata bukan saya saja, tapi orang lain kebanyakan juga,” komentarnya.  

Salah satu keanehan Yahya diungkap oleh Amar Fir. Dalam siaran radio, Yahya pernah menyebut goblok kepada penanya. “Saya pernah dengar di radio, jamaahnya nanya karena tidak tahu tapi buya jawabnya ‘kamu itu tolol apa goblok sih’,” tulisnya.

Ada kemudian yang membela kalau hanya wahabi saja yang tidak senang dengan Yahya. Akun anonim bernama Kosong menyebut kalau kaum wahabi selalu membenci pada Yahya. “Ulama-ulama besar wahabi selalu kalah debat dengan Buya. Contohnya Prof. Salim Bajri, jadi ya wajar kalau mereka selalu membenci Buya,” ulas Kosong.


Tak lama berkomentar, Danny Angkara menimpali akun Kosong dengan pertanyaan “kenapa hanya Yahya setempat yang hanya maju debat sama wahabi? Skanerio bro itu mah, layaknye drus gadebrus ramli yang debat mulu sama wahabi,” balasnya ke Kosong.

Sa'dulloh Yunus menambahkan kalau debat yang dirancang dan dipublikasikan di Youtube itu adalah agenda Yahya mencari massa. “Supaya masyarakat percaya,” tambahnya.

Untuk memberikan keyakinan kepada para komentator, pemilik Ridhuan El-Mouhammady, mengingatkan bagi yang tidak mengetahui seluk beluk nya jangan asal komentar, “silahkan datang ke tiap pesantren di Cirebon,” timpalnya.

Mendengar penjelasan panjang di atas, Agus AlMuslim, salah satu Facebooker lain mengaku kaget jika kenyataannya seperti yang ditulis oleh Duta Islam dan komentator dari Cirebon itu. “Mudah-mudahan diluruskan kembali,” harapnya.

Dede Sukaryana yang sedang mencari kebenaran informasi tentang Yahya, kembali teringat pesan gurunya dan bertanya-tanya. “Apakah ini jawaban atas keraguan bathinku, guruku pun pernah melontarkan perkataan yang membuat keraguan bathinku. SubhanaAllah, semoga benar adanya. Hanya milik-Nya kesempurnaan dan kebenaran. Amin ya mujibbas sa'iliin,” kenang Dede.

Deni Muwardi, salah satu komentator di status Iik, mendukung pengungkapan kebenaran polemik Yahya ini. Menurutnya, kebenaran harus dikabarkan karena kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tetapi karena diamnya orang-orang baik. “Lanjut Kang,” pintanya.

Melihat fakta-fakta yang diungkap oleh banyak Facebooker, Muhammad Ole pun berani bersumpah, “demi docang koci atas nama Syekh Jati Purba, susuhunan Caruban Nagari, siapapun yang dengan kesengajaan dan dari kesadaran diri telah menghina serta merusak nama baik NU dan kewibawaan Cirebon, maka atas usahanya itu akan kembali setiap akibatnya pada pribadinya," itu isi sumpah Ole yang kemudian ditimpali komentar Adinda Qu: “kena azab Allah, semoga cepat sadar. Hikzzz.”



R. Aji Zainuri Nata Atmaja pun merapal mantra “ya jabbar ya jabbar ya jabbar ya qahhar, ya qahhar ya qahhar, yahya buaya setempet jalok disunat,” ia lumayan berang atas cerita Yahya. “Smoga NU tetep kuat meski serangan penyusup bertubi tubi untuk memecah belah NU,” imbuh Atmaja.

Yang lucu adalah, komentar komentator yang menuding Duta Islam milik admin orang Kristen radikal. Syahrial Rasul namnya. Ia mengaku mengetahui identitas admin dari searching di Google.

“Admin sebenarnya kristen radikal, tadinya saya juga tertarik dengan Islam 'rasional' yang sering diposting. Tapi dalam perjalanannya, sering sekali analisa dangkal dan menunjukkan admin bukan muslim. Indikasinya, dulu pas buka Duta Islam ada iklan kecil yang larinya ke link tentang kebenaran Injil. Link itu kadang muncul, kadang hilang,” tulis orang yang tidak paham iklan Adsense ini.

Iwan Joe menimpali bahwa penyamaan Duta Islam dengan Islam Toleran oleh Syahrial adalah analisa dangkal, “apalagi dikait-kaitkan dengan Kristen, tambah guoblog,” terang Iwan Joe.

Menuduh tanpa bukti itu sifat wahabi. NU yang sering jadi sasaran orang macam Yahya di Cirebon itu. Karena itulah, Deni Murwadi melihat bahwa apa yang diungkap Duta Islam bukan isu yang hanya mencari sensasi. ”Saya yakin isu ini sudah terkonfirmasi secara utuh,” komen Deni.

Yang pasti, Duta Islam tidak menulis tanpa sumber. UAI adalah narasumber yang pertama kali mau bicara ke media karena semakin resah dengan kehadiran Yahya yang terbukti dalam laporan berita ini dianggap sosok angkuh dan sombong.

Bukankah mengungguli orang yang merasa diri unggul dari yang lain adalah sedekah? Duta Islam mengikuti dawuh “attakabbur lil mutakbbir shodaqoh,” itu. Hanya satu, nahi mungkar. Tentu pro kontra akan terjadi. NUGL pasti meradang Rais “haram” NU nya itu diungkap sejati dan jati dirinya. Itu bagian dari risiko mengungkapkan kebenaran tanpa teror bom. [dutaislam.com/ rete

Setali tiga uang dengan Yahya, NUGL pun pernah menyebut tanya Habb Luthfi sebagai Mufsid

Iklan