Berkah Sayyidina Umar Ngeyel
Cari Berita

Advertisement

Berkah Sayyidina Umar Ngeyel

Duta Islam #01
Jumat, 25 Desember 2015
Download Ngaji Gus Baha

Flashdisk Ebook Islami

DutaIslam.Com - "Hadza wallahi khoirun" [Demi Allah ini adalah kebaikan]," demikian alasan Sayyidina Umar ra ketika Khalifah Abu Bakar ra tidak setuju dengan rencana beliau menhimpun kalam kalam ilahi (baca: Al-Qur'an), yang saat itu terpatri dengan kuat di dada dada para Sahabat.

"Kaifa naf'alu sya'an lam Yaf'alhu Rasulullah [Bagaimana kita melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah]," demikian Sayyidina Abu Bakar ra, Khalifah pertama pengganti Rosulullah Saw, mempertahankan pendapat, tanda kurang setuju.

Namun, (alhamdulillah) setelah diskusi panjang, Sayyidina Abu Bakar ra pun merestui usulan daan "ngeyel"nya Sahabat Nabi (Saw), yang jangankan kaum kafir, Setan pun segan berhadapan dengannya ini. Abu Bakar pun memerintahkan Sahabat Zaid Bin Tsabit ra. untuk memimpin tim penghimpunan Al-Qur'an saat itu.

Kemudian terus berlanjut ketika Khalifah berganti ke Sayyidina Umar ra, dan ketika masuk ke zaman kekhalifaan Sayyidina Utsman ra, diterbitkanlah perintah penerbitan Mushaf secara besar besaran jumlahnya hingga disebarkan pula secara masif ke luar tanah Hijaz.

Namun saat itu Mushaf masih benar benar gundul, lebih gundul daripada kitab kitab kuning yang menggunakan arab gundul, tanpa titik dan kharakat. Sekilas bagi non arab saat itu, akan sangat susah, bahkan tidak bisa dibedakan antara ta', ba', dan tsa'. Begitu juga huruf shad dan dlad tidak terlihat bedanya, karena hanya berupa cengkok cengkokan tanpa titik.

Sampailah pada saatya Abu Aswad ad Du'ali (generasi tabiin 62H) menambahkan titik pada huruf, sehingga beliau di beri gelar awallu man wadhoan nuqo' alal huruf: orang pertama yang menciptakan titik atas huruf.

Seratus dua puluhan tahun kemudian, Ahmad Al Farahidi (185H) melengkapiya dengan harakat, sehingga sampai sekarang kita mengenali fathah, kasrah, dhommah, sukun, tanwin, dan lainnya.
Karena lidah yang berbeda-beda antar bangsa ketika mengucapkan ayat-ayat, empat puluhan tahun kemudian Abu Ubaid Qossim Ibn Salam (224H) mengenalkan Ilmu Tajwid sehingga bacaan Qur'an terdengar begitu indah saat dibaca.

Hasilnya, kita yang bukan orang arab, bahkan termasuk awam, bisa membaca Al-Qur'an dengan sangat mudah, indah dan menyenangkan, bahkan saat ini yang masuk ke saku saku kita, sudah bukan dalam bentuk buku atau mushaf alias lembaran lembaran kertas lagi, dimana smartphone kita kini (kebanyakan) sudah terinstall Al-Qur'an.

Alhamdulillah Sayyidina Umar saat itu "ngeyel", Alhamdulillah Sayyidina Abu Bakar (akhirnya) menyetujui "ngeyel" nya Sayyidina Umar dan Alhamdulillah Sayyidina Utsman melakukan kodifikasi mushaf besar besaran, plus Alhamdulillah ketiga ulama selanjutnya, mampu mencurahkan dan membagi nikmat ilmu, anugerah dari Allah SWT sehingga memudahkan kita mengenal dan membaca Al-Qur'an, sampai saat ini. [dutaislam.com/ ab]

Keterangan:
Dinukil dengan sedikit modifikasi dari sebagian tulisan sekjen PP ISNU
Jual Kitab Kuning Pethuk

close
Iklan Flashdisk Kitab 32 GB