Iklan

Iklan

,

Iklan

Perempuan Itu Bernama Tjoet Nyak Dhien

18 Nov 2015, 23:58 WIB Ter-Updated 2015-11-18T16:58:06Z

HARI itu, tepat 11 Desember 1906, Bupati
Sumedang waktu itu, Pangeran Aria Suriaatmaja,
kedatangan tiga orang tamu. Ketiganya
merupakan tawanan titipan dari pemerintah
Hindia Belanda. Seorang perempuan tua, renta,
rabun serta menderita encok.
Seorang lagi lelaki tegap berumur kurang lebih
berumur 50 tahun dan remaja tanggung berusia
15 tahun. Walau tampak lelah mereka bertiga
tetap kelihatan tabah. Pakaian lusuh yang
dikenakan perempuan itu merupakan satu-
satunya pakaian yang ia punya selain sebuah
tasbih dan sebuah periuk nasi dari tanah liat.
Belakangan karena melihat perempuan tua itu
sangat taat beragama, Pangeran Aria
Suriaatmaja tidak menempatkannya di penjara.
Melainkan memilih menempatkannya disalah satu
rumah milik tokoh agama setempat.
Kepada Pangeran Suriaatmaja, Belanda tak
mengungkap siapa perempuan tua renta dan
menderita encok itu. Bahkan sampai
kematiannya, 06 November 1908 masyarakat
Sumedang tak pernah tahu siapa sebenarnya
perempuan tua itu.
Perjalanan sangat panjang telah ditempuh
perempuan tua itu sebelum akhirnya beristirahat
dengan damai dan dimakamkan di Gunung Puyuh
tak jauh dari pusat kota Sumedang. Yang mereka
tahu, karena kesehatannya yang sangat buruk,
perempuan tua nyaris tak pernah keluar rumah.
Kegiatannyapun terbatas hanya berdzikir atau
mengajari mengaji ibu-ibu dan anak-anak
setempat yang datang berkunjung.
Sesekali mereka membawakannya pakaian atau
sekadar makanan pada perempuan tua yang
santun itu yang belakangan karena
penguasaanya terhadap ilmu-ilmu agama disebut
dengan Ibu Perbu.
Waktu itu tak ada yang menyangka bila
perempuan tua yang mereka panggil Ibu Perbu
itu adalahThe Queen of Aceh Batlle dari Perang
Aceh (1873-1904) bernama Tjoet Nyak Dhien. Ya,
hari-hari terakhir Tjoet Nyak Dhien memang
dihiasi oleh kesenyapan dan sepi. Jauh dari
tanah air dan orang-orang yang dicintai.
Gadis kecil cantik dan cerdas bernama Cut Nyak
Dhien. Dilahirkan dari keluarga bangsawan yang
taat beragama di Lampadang tahun 1848.
Ayahnya adalah Uleebalang bernama Teuku
Nanta Setia yang merupakan keturunan perantau
Minang yang datang dari Sumatera Barat ke
Aceh sekitar abad 18 ketika kesultanan Aceh
diperintah oleh Sultan Jamalul Badrul Munir.
Tumbuh dalam lingkungan yang memegang
tradisi beragama yang ketat membuat gadis kecil
Cut Nyak Dhien menjadi gadis yang cerdas. Pada
usianya yang ke 12 dia kemudian dinikahkan oleh
orangtuanya dengan Teuku Ibrahim Lamnga yang
merupakan anak dari Uleebalang Lamnga XIII.
Suasana perang yang bergelanyut diatmosfir
Aceh pecah ketika 1 April 1873, F.N.
Nieuwenhuyzen memaklumatkan perang terhadap
kesultanan Aceh. Sejak saat itu gelombang demi
gelombang penyerbuan Belanda ke Aceh selalu
berhasil dipukul kembali oleh laskar Aceh. Dan
Tjoet Nyak Dhien tentu ada disana, ditengah
tebasan rencong, pekik perang dan dentuman
meriam.
Dia juga yang berteriak membakar semangat
rakyat Aceh ketika Masjid Raya jatuh dan di
bakar tentara Belanda.
“Rakyatku, sekalian mukmin orang-orang Aceh!
Lihatlah! Saksikan dengan matamu masjid kita
dibakar! tempat Ibadah kita dibinasakannya!
Mereka menentang Allah! Camkanlah itu! Jangan
pernah lupakan dan jangan pernah memaafkan
para kafir Belanda! Perlawanan Aceh tidak hanya
dalam kata-kata!” (Szekely Lulofs, 1951:59).
Perang Aceh adalah cerita tentang keberanian,
pengorbanan dan kecintaan terhadap tanah lahir,
begitu juga Tjoet Nyak Dhien. Bersama ayah dan
suaminya, setiap harinya waktu dihabiskan untuk
berperang, berperang dan berperang melawan
Kaphe Beulanda. Tetapi perang juga lah yang
mengambil satu-persatu orang yang dicintainya,
ayahnya lalu suaminya menyusul gugur dalam
pertempuran di Glee Tarom 29 Juni 1070.
Dua tahun kemudian, Tjoet Nyak Dhien menerima
pinangan Teuku Umar dengan pertimbangan
strategi perang. Belakangan Teuku Umar juga
gugur dalam serbuan mendadak yang dilakukan
Belanda di Meulaboh, 11 Februari 1899.
Tetapi bagi Tjoet, perang melawan Belanda
bukan hanya milik Teuku Umar, Teungku Ibrahim
Lamnga suaminya bukan juga monopoli Teuku Nanta Setia ayahnya atau para lelaki Aceh saja.
Perang Aceh adalah milik semesta rakyat.
Setidaknya itulah yang ditunjukan Tjoet Nyak
Dhien, dia tetap mengorganisir serangan-serang
an terhadap Belanda.
Bertahun-tahun kemudian, segala energi dan
pemikiaran putri bangsawan itu hanya dicurahkan
pada perang. Berpindah dari satu persembunyian
ke persembunyian yang lain, kurang makan dan
kurangnya rawatan kesehatan membuat
kebugarannya merosot.
Kondisi pasukannya pun tak jauh berbeda.
Pasukan itu bertambah lemah hingga ketika pada
pada 16 November 1905 sepasukan Belanda
menyerbu ke tempat persembunyiannya, Tjoet
Nyak Dhien dan pasukan kecilnya kalah telak.
Dengan usia yang telah menua, rabun dan sakit-
sakitan Tjoet memang tak bisa berbuat banyak.
Rencong pun nyaris tak berguna untuk membela
diri. Ya, Tjoet tertangkap dan dibawa ke
Koetaradja (Banda Aceh) lalu dibuang Sumedang,
Jawa Barat.
Perjuangan Tjoet Njak Dien menimbulkan rasa
takjub para pakar sejarah asing, sehingga banyak
buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita
ini. Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang
merupakan de leidster van het verzet (pemimpin
perlawanan) terhadap Belanda dalam perang
besar itu.
Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita
besar) yang memegang peranan penting dalam
berbagai sektor, Jauh sebelum dunia barat
berkoar menyamaratakan persamaan hak yang
bernama, Emansipasi.

Iklan