Iklan

Iklan

,

Iklan

Menjawab Kritik Ihya Ghazali

16 Nov 2015, 20:51 WIB Ter-Updated 2015-11-16T16:39:08Z
Kitab Ihyâ’ Ulumuddin di tengah-tengah tradisi keilmuan Islam posisinya sangat tinggi. Namun, bukan berarti kitab ini terlepas sepenuhnya dari koreksi dan kritik. Ada komentar negatif dan bantahan yang ditujukan kepada Imâm Ghazali atas karya momumentalnya ini, utamanya dalam studi hadist yang disajikan. 

Hadis-hadis Ihyâ’ Ulumuddin ditengarai banyak bermasalah oleh beberapa kritikus hadist. Keberadaannya menjadi sorotan utama dan sebagai bahan pokok kritikan para rival al-Ghâzali, semisal al-Hâfizh Abûl Faraj Abdurrahmân Ibnu al-Jauzi. Ibnul Jauzi yang dikenal anti Kitab Ihyâ’ Ulumudddin, banyak memvonis palsu (dhoif) pada hadist-hadist yang ditulis Imâm Ghâzali dalam kitab tersebut.

Dinamika inilah yang selanjutnya diangkat kepermukaan oleh kelompok ekstrimis dan orientalis untuk menolak sepenuhnya isi kitab Ihyâ’ Ulûmuddîn. Lebih-lebih, kelompok ini tanpa malu-malu menyebut al-Ghâzali sebagai pemalsu hadist. Pemalsuan tersebut, dalam pandangan mereka, merupakan hal wajar karena Imâm Ghâzali tidak membidangi studi hadist dalam kajian keislamannya.

Disamping karena cakupan materi yang tersaji di dalamnya, kitab ini juga ditopang oleh sistem kepenulisan yang sistematis. Itulah yang menjadikan Ihyâ’ lebih menarik dan mudah dibaca oleh berbagai kalangan; sederhana, berbobot, dan tidak terlalu meluas dalam penyajian. Lagi pula istilah-istilah rumit juga jarang ditemui dalam pembendaharaan kata yang terpakai.

Imâm Ghâzali telah mengkonsep materi yang ditulisnya dalam empat klasifikasi kajian pokok. Dari masing-masing klasifikasi tersebut terdapat sepuluh entri pembahasan utama (kitab). Secara global, isi keseluruhan kitabnya telah mencakup tiga sendi utama pengetahuan Ajaran Islam, yakni Syariat, Thariqat (Tasawuf), dan Haqiqat (Hakikat). Imâm Ghâzali juga telah mengoneksikan ketiganya dengan praktis dan mudah ditangkap oleh nalar pembaca. Sehingga, as-Sayyid Abdullâh al-`Aydrus memberikan sebuah kesimpulan bahwa dengan memahami kitab Ihyâ’ seseorang telah cukup untuk meraih tiga sendi agama Islam tersebut.

Inilah beberapa alasan kenapa kitab ini sangat digemari oleh banyak kalangan. Oleh fuqoha, Ihyâ’ dijadikan sebagai rujukan standar dalam bidang Fiqh. Oleh para Sufi, kitab ini menjadi materi pokok yang tidak boleh ditinggalkan. Kedua studi ilmu tersebut telah tercover dalam karya momumental Imâm Ghâzali ini. Karenanya al-Habîb Muhammad Luthfy bin Yahya, pimpinan Jam`iyah Tharîqah Mu`tabarah Nahdiyah yang sekaligus mursyid Tharîqah Naqsabandi, menyebut Ihyâ’ sebagai panduan utama tasawuf bagi pemula, atau dalam dunia tasawuf dikenal dengan istilah tasawwuful-fuqahâ’.

Sebenarnya, tidak hanya dua kelompok ini yang banyak mereferensi Ihyâ’, para teolog Islam juga menganggap penting untuk menempatkan Ihyâ’ sebagai bahan dasar kajian. Paradigma bertauhid yang disajikan Imâm Ghâzali di awal pembahasan kitab Ihyâ’ sangat membantu pada pencerahan akal dalam proses peng-Esaan Allah Swt. Imâm Ghâzali mampu mengarahkan logika pembaca pada sebuah kesimpulan yang benar dalam bertauhid dengan nalar berfikir yang tepat dan berdiri kokoh di atas dalil-dalil Aqli dan Naqli.

“Hampir saja posisi Ihyâ’ menandingi al-Qur’an”. Kalimat sanjungan tersebut disampaikan oleh tokoh karismatik `Ulamâ’ul-islâm al-Imâm al-Faqîh al-Hâfizh Abû Zakariya Muhyiddîn an-Nawawi atau lebih dikenal dengan sebutan Imâm Nawawi Shâhibul-majmû`, yang hidup dua abad pasca Imâm Ghâzali. Dan, seringkali melihat bagaimana temen-teman (Salafi-Wahabi) menjelek-jelekan IMAM AL-GHOZALI dengan kitab Ihya Ulumuddin-nya dengan berbagai tuduhan yang sama sekali tidak pantas ditujukan kepada ulama sekaliber beliau. Padahal betapa banyak sanjungan yang diberikan kepada beliau dan kepada kitab fenomenalnya Ihya’ Ulumuddin dan ini terekam jelas dari ucapan-ucapan para ulama tentangnya.

Walhasil, sebesar apapun kritikan terhadap kitab Ihyâ’ Ulûmuddîn secara khusus dan literatur-literatur salafi-wahabi yang lain secara umum tidak akan mengurangi nilai kebesaran yang telah diraihnya. Pembuktian secara ilmiyah dan obyektif telah memberikan bantahan nyata terhadap kritik dan tuduhan yang tidak berdasar itu. Sejarah juga turut menjadi Bukti akan kebesaran mereka. Mereka telah memberikan sumbangsih yang tiada ternilai untuk Islam. Lalu apa yang telah kita berikan kepada Islam?

Wallâhu a`lam

[Red]

Iklan