Minggu, 01 Juli 2018

Siapa Ayah Kandung Islam Nusantara?

Ilustrasi sejarah Islam Nusantara
Oleh Fuad Zaenudin

DutaIslam.Com - Sejak muktamar ke 33 NU (Jombang, 1-5 Agustus 2015) mengusung tema seputar lslam Nusantara "Meneguhkan lslam NUsantara Untuk Peradaban lndonesia dan Dunia", sampai saat ini masih terjadi pro dan kontra yang luar biasa. Bahkan tidak sedikit yang mengecam dan mencacinya.

Fakta proses penyiaran Islam di lndonesia (lslam NUsantara) memang sangat berbeda dari belahan dunia lslam lainnya, seperti Timur Tengah, Afrika, Eropa dan sebagainya, yang banyak diwarnai kekerasan, bahkan peperangan yang silih berganti dan berkepanjangan.

Proses penyiaran lslam NUsantara berlangsung dengan damai dan sukarela. Kedamaian dan kesukarelaan inilah yang menyebabkan lslam di lndonesia menemukan wajahnya kembali secara utuh sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, karena dalam sejarah lndonesia, tidak terjadi konflik berarti atau peperangan yang benar-benar atas nama agama.

Kembali pada lslam NUsantara. Dulu pada masa Walisongo (abad ke-9 H), sudah ada istilah lslam Jawa. Artinya pemahaman lslam yang secara verbal berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, dan pengamalannya pun secara moderat dapat menganalogikan dengan amalan amalan orang Jawa, seperti dalam penghayatannya, yang juga dapat mengimbangi ‘laku’ orang orang Jawa.

Dari situ, orang orang muslim dapat memberi pencerahan tanpa terseret pada kepercayaan kepercayaan lokal, sampai pada generasi berikutnya, sebutan al-Jawi menjadi semacam sebutan resmi bagi NUsantara di Timur Tengah, yang biasa ditambahkan di belakang nama nama ulama besar dari NUsantara.

Baru setelah itu ada sebutan yang merinci daerah asalnya seperti al-bantani, at-turmusi, al-palimbani dan seterusnya. Jadi, kongkritnya, kala itu lslam Jawa yang kajawi, artinya bukan Jawa lslam yang kajawen/kejawen.

Kini dengan diangkatnya lslam NUsantara oleh NU itu semata untuk membedakan dengan yang mana? Kalau mau nyatakan bukan seperti lslam Timur Tengah yang wahabi, lalu lslam NUsantara itu yang bagaimana? Kalau mau menyatakan bukan seperti lslam radikal, maka lslam NUsantara itu moderat dst.

Maka hendaknya wacana dan pengamalan lslam NUsantara itu menapak tilas pada lslam al-Jawi hingga pada lslam di masa kewalian itu. Tanpa arahan itu lslam NUsantara hanya wacana tanpa makna, sekaligus menjadikan alternatif tafsir tunggal yang selama ini lslam itu identik dengan timur tengah.

Baca: Islam Nusantara Bukan Aliran Baru


Islam NUsantara inilah adalah lslam yang khas ala lndonesia, gabungan nilai lslam teologis dangan nilai nilai tradisi lokal, budaya, adat istiadat di tanah air, pertemuan lslam dengan adat dan tradisi NUsantara itu kemudian membentuk sistem sosial, lembaga pendidikan seperti pondok pesantren serta sistem kesultanan.

Tradisi itulah yang telah menyatu disebut dengan lslam NUsantara. Dengan meminjam definisi lslam NUsantara oleh ketua umum PBNU Pfof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA bahwasanya Islam NUsantara bukanlah suatu madzhab, aliran, tapi sebuah tipologi, mumayyizaat, khashais, lslam yang santun, berbudaya, ramah, toleran, berakhlaq dan berperadaban.

Sebab bagi Gus Dur lslam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya arab, bukan untuk 'aku' jadi 'ana', 'sampeyan' jadi 'antum', sedulur jadi 'akhi', kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya tapi bukan budayanya.

Oleh karena itu, sudah selayaknya lslam NUsantara dijadikan alternatif untuk membangun peradaban dunia yang damai dan penuh harmoni di negara manapun. Perlu ditegaskan di sini bahwa lslam NUsantara tidaklah anti budaya arab, akan tetapi untuk melindungi lslam dari Arabisasi dengan memahami secara kontekstual, adapun salah satu masterpiece lslam NUsantara adalah garansi tegaknya NKRI dan Pancasila.

KH. Hasyim Asy’ari lah pemberi status teologis dan fiqih bumi lndonesia sebagai negeri damai. Sementara KH. Wahid Hasyim yang mengkonkretkannya dalam rumusan ideologi dan konstitusi negara: Pancasila dan UUD 1945.

Dengan saham yang demikian besar, sudah menjadi hak NU untuk ikut terlibat mengelola negara, sekaligus untuk menjaga agar saham itu tidak “diprivatisasi” atau dijual baik oleh kelompok fundamentalis agama maupun kelompok sekuler dan liberal.

Amanah wathaniyah (kebangsaan) bagi warga NU bukan sekedar merawat dan meneruskan apa yang sudah dirintis oleh KH. Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim dan para ulama besar NU terdahulu, tetapi juga memastikan agar NKRI tetap berdiri kokoh seperti yang dicita-citakan para ulama dan pendiri bangsa ini, lslam NUsantara inilah pengusung, penjaga dan pelestari nilai nilai:

1. Konsisten menjaga NKRI dan Pancasila,
2. Mengedepankan maqasidus syariah,
3. Mengedepankan lslam yang terbuka dan universal,
4. Menawarkan lslam sebagai etika sosial,
5. Menegakkan lslam yang moderat,
6. Menyatukan keberagaman dan kebudayaan,
7. Mengawinkan  agama, tradisi dan kemodernan,
8. Mampu menyatukan lslam dengan nasionalisme,
9. Penebar toleransi,
10. Sangat anti kekerasan,
11. Menolak Arabisasi, mengusung pribumisasi lslam,
12. Islam yang humanis.

Dengan demikian ayah kandung dari lslam NUsantara adalah lslam ahlussunnah wal jama’ah dan ibu kandungnya adalah bumi pertiwi, NKRI. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini