Senin, 23 Juli 2018

Menyoal Sebutan Panglima Santri


Oleh Ahmadul Faqih Mahfudz

DutaIslam.Com - Politik tidak hanya menyuguhi muslihat dan ketegangan, tapi juga kelucuan, bahkan lebih sering kekonyolan. Selain pernyataan-pernyataan politis dengan kata-kata aneh dan struktur kalimat yang babak belur, dari para politikus pula kita dapatkan berbagai frasa atau idiom-idiom baru yang lucu dan konyol.

Di antara frasa atau idiom yang lucu dan konyol itu, yang sering kita lihat sejak tahun lalu hingga hari-hari ini pada baliho-baliho di pinggir jalan, adalah panglima santri.

Dalam bahasa Indonesia, lema panglima bermakna pemimpin kesatuan tentara pada suatu negara, atau pemimpin pasukan pada sebuah peperangan. Adapun santri, ia—atau mereka—adalah orang yang belajar agama Islam di pesantren, yang memiliki mata rantai ilmu keislaman sampai kepada Nabi Muhammad. Lema santri inilah yang saya kira tepat, bukan yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang memaknai lema santri hanya sebagai “orang yang mendalami agama Islam; orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang saleh.”

Dengan demikian, frasa panglima santri memiliki makna pemimpin pasukan santri, atau pemimpin orang-orang yang belajar agama Islam di pesantren yang memiliki sanad ilmu keislaman hingga Nabi Muhammad. Heroik sekali, bukan?

Panglima Santri


Namun, bila kita amati, ada yang janggal pada frasa panglima santri. Kenapa harus panglima? Apakah pesantren sudah menjadi barak militer sehingga muncul frasa idiomatis ini? Dunia politik menyukai kata-kata yang gawat, heroik, dan meledak-ledak. Seolah-olah iya, padahal tidak. Seolah-olah begitu, padahal begini. Seolah-olah bijaksana, padahal bijaksini.

Dulu, pada masa Orde Lama, ada istilah “politik adalah panglima”. Dengan kata panglima, tercitra suatu heroisme. Dalam benak pembuatnya, orang yang digelari panglima santri mungkin dianggap pahlawan, atau diharap heroismenya untuk membawa santri dan pesantren ke sebuah pertempuran (politik?), sehingga gelar prestisius itu perlu ditahbiskan kepadanya.

Tapi, heroisme dalam hal apa? Ukurannya apa? Apakah jutaan santri yang tinggal pada ribuan pondok pesantren di Indonesia rela dipimpin oleh orang yang di mana-mana, dan ke mana-mana, digadang-gadang sebagai panglima santri itu? Kalau pun rela, untuk apa sih gelar yang genit dan sok gawat ini?

Artikel ini harus dilanjut baca sampai akhir. Klik Menyoal Sebutan Panglima Santri

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini