Kamis, 21 Juni 2018

Gus Yahya Melawan Stigma Agama Sebagai Sumber Konflik dengan Prinsip Rahmah

KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Foto: Istimewa
Oleh Holilur Rohman

DutaIslam.Com - Agama telah ada di muka bumi ini sejak sekian lama. Agama juga menjadi salah satu sumber peradaban dan kebudayaan dunia. Agama juga menjadi salah satu harapan umat manusia ketika mereka merasakan kegelisahaan dan kesedihan yang amat mendalam ketika dilanda musibah yang tiada henti.

Akan tetapi di sisi lain, jika melihat fakta sejarah masa lalu sampai sekarang, agama seakan menjadi salah satu sumber perpecahan manusia dan sumber konflik berkepanjangan yang mengatasnamakan agama sampai pada pertumparan darah yang tiada henti.

Menurut Gus Yahya Cholil Staquf, salah satu faktor konflik agama adalah berdasarkan klaim universal bahwa peperangan-peperangan dan penaklukan-penaklukan merupakan misi agama yang harus diemban dan dilaksnakan, sebagaimana yang dilakukan oleh ISIS, Al Qaida, dll.

Menurut Gus Yahya Cholil Staquf, ada banyak fakta sejarah yang bisa membuktikan hal tersebut, di antaranya adalah:

~ Islam sejak 1300 yang lalu, melakukan ekspansi (perang) ke berbagai negara seperti Eropa, dll. Hal itu berdasar klaim misi agama.

~ Iskandar the great, tidak pernah berhenti perang sampai wafat, berdasar klaim misi agama.

~ Imperium romawi, bergantian pemimpin selama ratusan tahun tidak pernah berhenti ekspansi, berdasar klaim misi agama.

~ Jengis Khan melakukan penaklukan-penaklukan berdasar klaim agama.

~ Turki Usmani, 500 tahun, tidak pernah berhenti kampanye ekspansi ke segala arah, melawan Kristen Eropa Barat, Hindu, Albania, Maroko, Afrika Tengah, India Barat, dan lain-lain. Semua itu dilakukan berdasar klaim misi agama.

~ Yahudi menduduki tanah Israil, karena klaim agama. Islam juga begitu, ingin mengusir Israil dengan keyakinan agama

Karena saling adanya klaim yang menyebabkan peperangan itulah wajar kalau masih ada mindset permusuhan di antara umat beragama. Menurut pengakuan Gus Yahya, "Jangankan orang lain yang tidak mau datang ke Yarussalem, Saya sendiri yang sudah datang, benci Yahudi."

Sampai sekarang, mindset permusuhan itu tetap ada dan tambah subur. Gus Yahya memberikan beberpa contoh:

~ Adanya Genosida di Iraq, dulu, ada sekitar 2 juta penduduk Katolik, sekarang tersisa 200 ribuan. Pembunuhan ini dilakukan karena mereka punya mindset bahwa orang kafir halal darahnya kecuali jika ada pemimpin yang memberi keamanan. Nah setelah wafatnya Saddam Husein, maka keadaan sudah tidak aman, maka halal darah umat katolik yg dianggap kafir.

~ Di Myanmar dan Palestina, sebagian umat Islam diburu dan dibunuh

~ Di Amerika dan Eropa. ada Islamphobia

~ Di Eropa, ada muslim lewat, lalu dipukuli

~ Di London, ada muslim selesai sholat tarawih ditusuk smpe mati

~ Ada orang Yahudi, dipukul oleh imigran Islam

~ Di Amerika, ada anak-anak dipukul karena tahu anaknya orang Islam

~ Di Jerman, ada lagu anak-anak yang intinya jangan minum kopi karena buatan Turki (trauma Turki Usmani)

~ Di Swedia, ada lagu sebelum tidur untuk anak-anak, intinya mohon dijaga dari Turki.

~ Di Negara lain, menganggap Islam agama syetan.

~ Di Syiria, peperangan terus terjadi, ironisnya, 80 % yang meninggal bukanlah tentara, tapi rakyat sipil. 60 % dari 80 % terdiri dari perempuan dan anak-anak.

Melihat fakta yang miris seperti ini, Gus Yahya menantang kepada semua tokoh agama:

~ Apa betul ini fungsi agama untuk manusia?
~Apa benar Tuhan mnurunkan agama untuk membunuh manusia demi agama?
~Apa benar agama jadi klaim pembenar untuk pertumpahan darah?

Khsusus kepada tokoh agama Islam, Gus Yahya bertanya dan menantang:

~Lalu apa fungsi agama? ~Apa yg dimiliki Islam sebagai solusi? agar orang dunia internasional tahu bahwa Islam punya solusi menyelesaikan konflik.

SALAH SATU JAWABAN GUS YAHYA TENTANG TANTANGAN TERSEBUT ADALAH PRINSIP RAHMAH, yaitu nilai keagamaan yang paling trensenden di semua agama.

Sejak dulu, pnyelesaian konflik melalui militer dan politik, dan keduanya telah gagal. Maka Gus Dur 16 tahun lalu manawarkan tmbahan, yaitu moral agama.

Konflik banyak lapisnya, maka yang tertinggi lapisnya adalah RAHMAH, yang bisa diterima semua agama. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi: Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin.

RAHMAH bukan hnya perasaan, tapi sikap yang dipilih jika mampu.

Kesimpulan saya (peresensi), dalam bahasa Maqasid al Syariah yang digagas oleh Taha Jabir al' Alwani, RAHMAH adalah Maqasid al Ulya al Hakimah yang akan mempayungi semua sikap, tindakan, dan legacy yang berporos pada usaha perdamaian dunia dengan berbasiskan agama. Tidak boleh ada hukum ataupun kebijakan yang mencederai prinsip RAHMAH, karen apada dasarnya, semua agama mengajarkan RAHMAH. [dutaislam.com/gg]

Holilur Rohman, Pengkaji dan Peneliti di Maqasid Center. Disarikan dari Ceramah KH. Yahya Cholil Staquf ketika Halal Bihalal UIN SA, 21 Juni 2018.

Source: Holilur Rohman

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini