Senin, 21 Mei 2018

Radikalisme yang Menyebar Secara Senyap pada Remaja dan Pemuda

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Achmad Mukafi Niam

DutaIslam.Com - Rakyat Indonesia dikejutkan dengan serangkaian pengeboman di tiga gereja dan kantor kepolisian di Surabaya pada 13-14 Mei 2018. Yang memprihatinkan, aksi bom bunuh diri tersebut dilakukan oleh satu keluarga, termasuk mengorbankan remaja dan anak kecil. Ini merupakan fenomena baru dalam aksi terorisme yang terjadi di Indonesia. Tugas berat aparat keamanan dan masyarakatlah untuk mengantipasi agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Dari informasi yang beredar di Facebook yang diunggah teman remajanya, Ahmad Faiz Zainuddin sosok pria pelaku bom bunuh diri bernama Dita Supriyanto yang mengorbankan seluruh keluarganya tersebut sudah sejak remaja terlibat dalam pengajian-pengajian kelompok ekstrem yang menganggap pemerintah itu thaghut dan yang di luar kelompoknya adalah kafir. Dia juga berusaha merekrut para yuniornya yang sedang mencari jati diri untuk masuk dalam kelompok ekstremnya.

Setelah era reformasi yang menandai dimulainya kebebasan di Indonesia, kelompok-kelompok Islam transnasional semakin kencang memanfaatkan situasi tersebut untuk mengembangkan ajarannya. Mereka menyasar para pemuda dan remaja di kampus atau sekolah menengah atas sebagai sasaran indoktrinasi ideologi radikalnya. Jika sebelumnya, proses tersebut berjalan secara sembunyi-sembunyi dengan sistem sel, sejak itu, rekrutmen anggota baru menjadi lebih terbuka. Menyasar generasi muda yang memiliki ghirah keislaman tinggi tetapi memiliki bekal pengetahuan agama minim.

Jika dihitung, tentu potensi radikalisme dari bibit-bibit yang ditanam oleh kelompok radikal sejak era 90an sampai sekarang sudah banyak yang matang dan siap beraksi dalam berbagai bentuk. Mereka mencari momentum untuk melaksanakan aksinya. Dalam perspektif ini, sebenarnya kejadian-kajadian terorisme bukanlah sebuah kejutan. Sekalipun kelompok mereka sangat kecil dalam proporsi jumlah penduduk Indonesia, tapi tindakannya bisa menyebabkan keresahan masyarakat. Ketenangan yang ada sifatnya hanya sementara, yang setiap saat bisa terjadi aksi-aksi yang mematikan.

Survei yang dilakukan oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah pada akhir 2017 menunjukkkan adanya potensi radikalisme di kalangan generasi Z, yaitu generasi yang lahir sejak pertengahan 1990-an sampai pertengahan 2000an. Temuannya adalah sebesar 37.71 persen memandang bahwa jihad atau khital, alias perang, terutama perang melawan non-Muslim. Selanjutnya 23.35 persen setuju bahwa bom bunuh diri itu jihad Islam. Lalu 34.03 persen setuju kalau Muslim yang murtad harus dibunuh. Temuan lain, 33,34 persen berpendapat perbuatan intoleran terhadap kelompok minoritas tidak masalah. Para generasi Z ini mereka mendapatkan banyak materi Islam salah satunya dari internet dan medsos.

Kelompok radikal menggunakan internet dan media sosial dengan serius karena menjangkau warganet secara luas. Dari ratusan ribu atau jutaan yang menonton atau membaca informasi yang diunggah, dalam persentase tertentu ada yang terdoktrinasi. Dari situ, tinggal membina, membangun jejaring dan merawatnya untuk memperkuat posisi dan suatu saat dimanfaatkan bagi kepentingan kelompoknya.

Persoalan radikalisme kian diperumit dengan adanya kepentingan politik. Parpol tertentu cenderung membiarkan atau mendiamkan kelompok-kelompok radikal berkembang karena kelompok tersebut merupakan basis pemilih saat pemilihan umum atau kepentingan penekan terhadap kelompok lain yang tidak sepakat dengannya.

Dari binaan-binaan yang dilakukan oleh kelompok garis keras pada remaja dan pemuda di sekolah dan kampus, tentu tidak semuanya akan melakukan tindakan kekerasan dan terorisme. Bahkan potensi yang akan secara langsung melakukan tindakan ini hanya, tetapi ada peran-peran lain yang dijalankan untuk menjalankan agenda Islam radikal. Bisa sebagai politisi yang memberi perlindungan politik, menyandang dana untuk kelanjutan aktivitas mereka, sebagai pengajar yang akan meneruskan bibit-bibit radikalisme ke generasi yang lebih baru atau bahkan sekadar sebagai pendukung pasif yang menyampaikan simpatinya di media sosial saat terjadi aksi terorisme.

Dalam terorisme di Surabaya, terbukti terdapat sejumah akun yang tidak mengecam atau merasa prihatin terhadap kejadian tersebut, tetapi mengembangkan teori konspirasi bahwa aksi tersebut sengaja dilakukan pihak tertentu sebagai pengalih isu atau kepentingan lain yang tersembunyi. Suara masyarakat yang terpecah sekalipun banyak korban nyawa menunjukkan dalam taraf tertentu, penerimaan atas aksi tersebut yang diekspresikan secara langsung melalui media sosial.

Para remaja dan pemuda yang kini terindoktrinasi ajaran radikal ibarat bibit-bibit yang baru mau bertumbuh, saat ini mereka yang tidak menimbulkan bahaya apa pun bagi masyarakat, tapi semaian yang terus dipupuk dan dirawat dengan radikalisme akan menjadi sangat berbahaya pada 20-30 tahun mendatang ketika mereka sudah dewasa, memiliki kekuasaan, sumberdaya atau akses tertentu.

Kinilah saatnya kita berpikir secara serius upaya penanganan penanaman ajaran radikal di kalangan generasi muda. Jika tidak, Indonesia bisa menjadi ajang pertempuran tiada habisnya sebagaimana terjadi di Afganistan. Pembinaan Islam di tingkat sekolah menengah atas mungkin lebih mudah dilakukan oleh guru agama atau pihak sekolah. Mahasiswa di kampus perlu pendekatan yang berbeda karena mereka lebih dewasa dan lebih bebas dalam berorganisasi. Organisasi-organisasi mahasiswa Islam moderat harus didorong untuk lebih aktif dalam membimbing mahasiswa baru agar mereka tidak gampang tergiur dengan ajakan Islam radikal yang disampaikan dengan cara menarik. [dutaislam.com/gg]

Source: NU Online

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini