Rabu, 18 April 2018

Taktik Jitu Kiai As'ad Ajak Preman Penjaga Sandal Agar Ikut Shalat

Ilustrasi: Istimewa
DutaIslam.Com – Kiai As’ad Syamsul Arifin Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Di Nahdlatul Ulama, Kiai As'ad terakhir kali menjabat Dewan Penasehat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), sampai ia wafat pada 1990 di usia 93 tahun.

Putra dari Raden Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan KH. Syamsul Arifin ini jawara tidak hanya dalam ilmu agama, tapi juga dalam bela diri. Penguasaannya pada tradisi silat lokal membuatnya disegani, bahkan oleh para jawara-jawara kampung di daerah Situbondo.

Meskipun begitu, Kiai As’ad sama sekali tidak pernah menggunakan keunggulan ilmu bela dirinya untuk dakwah. Bahkan kemampuannya yang sudah di atas rata-rata ini jarang sekali dikeluarkan bahkan untuk mendapat tempat dari para preman-preman di sekitar pesantrennya. Reputasi Kiai As’ad sebagai jawara saja sudah membikin ciut nyali para preman.
Sebagai kiai, As’ad tidak menggunakan cara berdakwah yang lazim. Misalnya dalam urusan pencurian sandal di masjid. Hilangnya sandal jamaah adalah hal yang umum terjadi di masjid. Dalam dunia pesantren ada istilah untuk membahasakannya, yakni ghosob: “meminjam” barang milik orang lain, tapi tidak minta izin si empunya barang.
Memang, istilah ghosob dalam dunia pesantren merupakan bahasa penghalusan saja, karena sebenarnya yang terjadi adalah pencurian barang. Akan tetapi, karena barang yang dicuri adalah barang-barang remeh yang diyakini suatu waktu akan kembali lagi, kehilangan itu biasanya tidak terlalu dipersoalkan. Tentu, jika seseorang mengalaminya berkali-kali, biasanya ia akan merasa kesal.

Kehilangan sandal akan semakin massif di waktu salat jumat. Sebab, yang berjamaah tidak hanya para santri yang ada dalam pesantren, tapi juga warga sekitar. Jumlah sandal yang ada di luar pelataran serambi masjid akan berjubel banyaknya—tentu dengan beragam merek dan model yang lebih bagus dari sekadar sandal jepit atau bakiak yang digunakan santri.

Jika sudah begini, kadang yang terjadi adalah pencurian sandal betulan yang tidak dipakai hanya sebagai alas kaki pulang ke rumah, tapi benar-benar dicuri tanpa ada niat untuk mengembalikan. Untuk itulah, pada suatu Jumat, Kiai As’ad mendatangi salah satu dedengkot preman guna mengatasi hal itu.

“Sandal jamaah di masjid ini sering hilang kalau salat Jumat. Saya bisa minta tolong untuk mengamankannya agar tidak hilang?” pinta Kiai As’ad seperti yang diriwayatkan ulang secara detail oleh cucunya H. Ikrom Hasan.
Dedengkot preman yang diajak berbicara justru senang ketika Kiai As’ad berkunjung dan sama sekali tidak takut karena ilmu bela dirinya. Di dalam lingkungan di sekitar pesantren, kiai memang biasanya menjadi sosok yang sangat dihormati sekaligus disegani. Bahkan, melawannya dianggap bisa membikin kualat.

Itu juga yang membuat si preman merasa tidak keberatan dengan permintaan Kiai As’ad. “Gampang itu, Kiai. Paling yang mencuri ya masih anak buah saya. Biar saya yang jaga,” tanggap si preman, bangga karena dipercaya dan merasa berguna bagi masyarakat.

Pada akhirnya, pembicaraan itu diakhiri dengan kesepakatan. Si preman tidak apa-apa tidak ikut salat Jumat—toh dia juga tidak pernah salat sebelumnya—tetapi ia akan menjaga setiap pasang sandal yang ada di luar pelataran masjid sepanjang salat Jumat berlangsung. Terutama saat salat Jumat sudah berakhir.

Waktu salat Jumat pun tiba. Si preman datang dan berjaga-jaga di dekat masjid. Benar saja, sejak kehadiran dedengkot preman ini, tidak ada sandal yang hilang. Barangkali jamaah yang ingin “menukar” sandal jeleknya dan memilih sandal yang lebih bagus merasa jeri ketika melihat ada dedengkot preman di daerah tersebut terus mengawasi jamaah yang keluar dari masjid usai salat Jumat.

Penjagaan ini pun terus berlanjut sampai pada shalat Jumat keempat, atau sudah masuk satu bulan. Lama-lama, si preman merasa ada yang aneh. Sebagai sosok yang punya pengaruh dan ditakuti oleh banyak orang di kampungnya, si preman merasa menjaga sandal adalah pekerjaan yang hina untuk level sekelas dirinya.

Untuk itu, si preman menghadap ke Kiai As’ad karena ingin protes. “Masa saya harus jaga sandal tukang becak, penjual kacang goreng, dan orang-orang remeh gini?” gugatnya. “Justru harusnya orang-orang ini yang jaga sandal saya, bukan malah sebaliknya."

Dengan gestur seperti orang bingung, Kiai As’ad malah balik bertanya, “Kalau sampeyan ikut shalat Jumat, terus siapa yang harus jaga sandal?”

Si preman bingung. Betul juga, pikirnya. Sampai akhirnya si preman punya ide. “Tenang, Kiai. Saya punya banyak anak buah. Biar mereka yang menjaga, saya biar salat,” katanya sambil bangga karena sandalnya bakalan jadi sandal yang dijaga. Tanpa pikir panjang, Kiai As’ad pun setuju.

Proses yang sama pun berlanjut secara berkesinambungan. Si preman mengajak salah satu anak buahnya, dan memintanya untuk menjaga sandal. Sampai beberapa salat Jumat, si anak buah ini jadi jengkel. “Masa preman suruh jaga sandal preman,” gugat si anak buah yang juga ingin sandalnya ikut dijaga.

Si dedengkot preman kemudian meminta si anak buah untuk mencari temannya dulu sebelum memutuskan untuk ikutan salat Jumat. Sampai akhirnya berangsur-angsur, preman di sekitar lingkungan pesantren jadi ikut-ikutan salat Jumat hanya karena alasan sepele: ingin sandalnya dijaga orang lain.[dutaislam.com/pin]

source: tirto.id


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini