Kamis, 05 April 2018

Mengapa Kita Wajib Berbakti Kepada Orangtua? Begini Penjelasan Dalilnya

Kandungan Surat Luqman, wajibnya berbakti kepada orangtua
Kandungan Surat Luqman ayat 12-19, berkaitan dengan perintah tidak menyekutukan Allah SWT, dan berbakti kepada orangtua. Namun, tidak hanya Surat Luqman yang berisi tentang seruan berbakti kepada orangtua. Kewajiban berbakti kepada orangtua juga dijelaskan dalam surat lainnya, seperti Surat al-Isra ayat 123 dan 30, Surat an-Nur ayat 59, Surat al-Anam ayat 151, dan Surat al-Ahqaf ayat 15.

DutaIslam.Com - Begitu banyak ayat Al-Qur'an yang menjelaskan wajibnya berbakti kepada orangtua. Hal tersebut menunjukan betapa istimewanya Islam memposisikan orangtua terhadap anaknya. Berkata "ah" pun tidak boleh di hadapan mereka, apalagi kita membentak dan melawannya.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Surat al-Isra ayat 23)

Rasa hormat dan bakti tetap ditujukkan kepada kedua orangtua, meskipun mereka tidak seiman dengan kita. Tentunya, ketika orangtua tidak memerintahkan untuk melakukan hal maksiat.

Dalam hal ini, Prof. Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan, andaikan kedua orangtua atau salah satunya menyuruh untuk menyekutukan Allah, maka tidak ada kewajiban bagi seorang anak untuk mematuhinya. Namun, ikatan keluarga dan kewajiban menghormatinya tidak boleh ditinggalkan.

Perjuangan ibu mengandung

Apakah kita teringat bagaimana perasaan seorang ibu ketika mendapati kabar bahwa kadungan dalam rahimnya akan terlahir ke dunia. Sebuah perasaan yang dirasakan seorang ibu di seluruh penjuru dunia tatkala mendengar kabar itu. Perasaan gembira dan secerca harapan telah dinantinya.

Penantian seorang ibu akan kelahiran bayi dalam kandungannya, mempunyai lembaran kenangan yang tersendiri, mungkin tidak bisa dibayangkan oleh kata-kata. Perasaan payah, letih dan lelah menyanggah kandungannya selama 9 bulan, seakan sirna karena kehadiran sang jabang bayi.

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim, ketika kandungan mengijnak usia 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam jasadnya. Pada waktu itu, sang bayi sudah mulai bergerak bebas di perut ibunya. Tentunya, sang ibu merasa sangat gembira walau rasa sakit dan letih semakin bertambah seiring umur kandungan yang semakin tua.


إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ

Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi mudhghoh (segumpal daging) selama itu juga, kemudian diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya lalu diperintahkan untuk menuliskan empat kata : rizki, ajal, amal dan celaka atau bahagianya. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Allah SWT telah menggambarkan bagaimana perjuangan dan keadaan seorang ibu ketika menggandung anaknya. Kisah itu terekam dalam Surat Luqman ayat 14:

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِير

Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kamu kembali.  (QS. Luqman ayat 14)

Kesabaran seorang ibu ketika mengandung merupakan bentuk cinta kasihnya kepada anak. Kekhawatirannya hanya semata-mata karena anaknya. Semua yang dilakukannya ketika ia mengandung, demi kebaikan sang anak. Begitu mulia keikhlasan seorang ibu.

Akhirnya saat yang dinantikan telah tiba, sang bayi mengeluarkan jeritan tangsinya ketia ia terlahir ke dunia ini. Tangisan yang membawa kegembiraan bagi seluruh sanak keluarga.

Lalu seiring berjalannya waktu, anak itu mulai tumbuh dewasa dan punya rencana untuk membahagiakan kedua orangtua. Namun, apakah yang telah kita lakukan mampu membalas jasa budi kedua orangtua? Tentunya tidak.

Imam an-Nawawi dalam kitab syarah muslim menegaskan bahwa seorang anak tidak akan mampu membalas kebaikan orangtua. Maka, Maka janganlah pernah berhenti membahagiakan orangtua, meski mereka telah tiada.

“Seorang anak tidak bisa membalas budi orang tua, kecuali dia mendapati orangtuanya menjadi budak kemudian dia membeli dan memerdekakannya.” (HR. Muslim). [dutaislam.com/in]

Artikel Dutaislam.com

Demikian penjelasan asbabun dalil wajibnya berbakti kepada orangtua . Adapun asbabun nuzul Surat at-Taubah ayat 122, Surat At-Taubah ayat 119 dan Surat al-Kautsar, silahkan baca di artikel berikutnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini