Jumat, 13 April 2018

Lisan si Pandir di Depan Hati, si Alim di Belakang Hati, Kita yang Mana?

Foto: Istimewa
Oleh Kuswaidi Syafiie

DutaIslam.Com - Secara verbal, lisan merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan yang ada dalam pikiran dan hati. Lisan juga berfungsi untuk melakukan komunikasi dengan sesama.

Lisan adalah penerjemah bagi keinginan yang ingin disampaikan oleh seseorang. Lisan menjadi penanda bagi segala sesuatu yang mendesak dalam dirinya. Apakah dalam diri seseorang yang tersimpan adalah kalajengking atau bunga mawar, musim semi atau musim gugur, semua itu akan menjadi nyata lewat ungkapan dengan lisan dan tindakannya.

Mungkin ada sesuatu yang ditutupi. Tapi ketika seseorang berbicara, apa yang disembunyikan itu akan muncul lewat auranya yang kurang "beres." Penglihatan batin kita yang tajam akan dengan mudah menangkap ketidakberesan itu.

Tapi apa boleh buat, karena tidak selamanya kita menyimpan hati yang baik, maka setidaknya apa yang kita sampaikan lewat lisan kita jangan pernah membuat tersinggung atau menyakiti hati orang lain. Setidaknya, secara lahiriah kita mesti mengungkapkan kalimat yang santun kepada orang lain sembari terus berusaha untuk memperbaiki hati yang suram.

Itulah sebabnya kenapa nabi kita Muhammad SAW memberikan garansi berupa surga kepada siapa saja yang sanggup menjaga lisannya dari omongan-omongan yang sia-sia, kotor dan menyakiti orang lain. Di samping tentu saja juga menjaga anggota tubuh di antara kedua pahanya yang tak lain adalah kelamin.

"Salamatul insan fi hifzhil lisan (Keselamatan manusia berada pada kesanggupan menjaga lisannya)," demikianlah pepatah Arab menyatakan.

Dalam konteks ini, banyak uneg-uneg yang semestinya kita sensor. Tidak setiap apa yang ingin kita sampaikan mesti kita loloskan untuk disampaikan. Tidak setiap apa yang kita ketahui mesti kita ungkapkan. Bahkan jika itu bernama kebenaran sekalipun.

Mengetahui kebenaran adalah suatu hal, sementara menyampaikannya merupakan hal yang lain. Keduanya bisa tidak saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain. Kebenaran yang kerontang dan salah penempatan bisa menjadi simalakama yang getir bagi orang yang menyampaikan dan menerimanya.

Itulah sebabnya dibutuhkan kearifan untuk menyampaikan kebenaran. Diperlukan kalimat-kalimat yang santun, jauh dari idiom-idiom yang menohok dan bersifat sarkastik. Sehingga komunikan atau audien tidak kabur atau cemberut ketika mendengarkan ungkapan-ungkapan kita.

Juga penting untuk mengekspresikan kesadaran tentang konteks di mana seseorang tidak salah pilih suasana ketika menyampaikan kebenaran.  Demikian pula takaran-takaran logis atau pemahaman yang mesti kita sesuaikan dengan orang (-orang) yang kita hadapi.

Pun tidak kalah pentingnya mempertimbangkan dimensi psikis orang-orang yang kita hadapi. Ketika mereka tidak memiliki kesiapan untuk mendengarkan apa yang kita ungkapkan, maka kalimat-kalimat yang meluncur dari lisan kita adalah suatu kesia-sian yang mubazir ditelan kehampaan.

"Lisan si pandir," tulis Syekh 'Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani, "berada di depan hatinya. Sedang lisan si alim berada di belakang hatinya."

Kita termasuk kalangan yang mana? Bagian di antara orang-orang pandir atau bagian di antara mereka yang alim? Itu bisa kita cek pada ungkapan-ungkapan kita, pada kalimat-kalimat pilihan kita.

Kalau sudah terbukti dengan gamblang bahwa kita seringkali berbicara tampa direnungi dan dipikirkan terlebih dahulu, nyatalah bahwa kita merupakan bagian di antara orang-orang yang pandir.

Omongan-omongan dan berbagai kalimat muncul begitu saja dengan derasnya, sama sekali tanpa difilter dan tanpa dipikir matang-matang. Akal menjadi jumud dan menggigil kedinginan. Hati menjadi terpenjara dan meringkuk dalam kesepian yang sempurna. Tanpa sentuhan, tanpa kehangatan.

Dalam konteks suasana kepandiran itu, diam tidak saja merupakan sesuatu yang utama, tapi lebih dari itu merupakan kunci keselamatan seseorang. Andaikan seseorang bisa menahan diri dari kebodohan yang akan meletup dari dalam hatinya, tentu dia akan terhindar dari malapetaka yang diciptakannya sendiri.

Di zaman informasi seperti sekarang ini di mana sampah-sampah hoax seringkali melanda kehidupan manusia bagaikan banjir bandang,  sungguh fitnah dan malapetaka sosial itu seringkali melompat dari tenggorokan dan ungkapan orang-orang pandir yang semakin tidak tahu malu.

Ya Tuhan yang teramat santun dan bijaksana, tolong jangan gempur kami lantaran kepandiran yang sudah sangat gawat ini. Kepandiran yang diwariskan oleh sejarah yang kelam dan dirawat oleh ketidakbecusan diri kita sendiri. Tolong bimbinglah kami agar secara pasti merangkak menuju pendewasaan diri yang hakiki. Amin. [dutaislam.com/pin]

Kuswaidi Syafiie, penyair, pengasuh Pondok Pesantren Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta. Diambil dari akun Kuswaidi Syafiie.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini