Sabtu, 07 April 2018

Jama'ah Tabligh (Jaulah) Pecah Kongsi, Ini Kelompok-kelompoknya

 Ilustrasi pengikut Jama'ah Tabligh. (Foto: Istimewa).
DutaIslam.Com - Mulanya, Kholil menyaksikan bahwa Jama'ah Tabligh (JT) atau Jaulah di Jakarta ada dua markas. Markas lama di Kebon Jeruk, dan sekarang ada markas baru di Ancol. Melihat hal tersebut, Kholil bertanya, "ada yang paham perpecahan di Jamaah Tabligh?". Demikian pertanyaan Kholil di grup diskusi Dutaislam 01, Jum'at (06/04/2018).

Menanggapi pertanyaan Kholil, Eko Yulianto yang dulunya pernah mengikuti JT, menceritakan pengalamannya sewaktu ia aktif di JT. Eko menjelaskan, sewaktu aktif di JT, dirinya setiap bulan melakukan khuruj (keluar) selama tiga hari. Dia mendatangi Penjara dan dakwah ringan tentang iman dan amal. Dirinya juga pernah mengikuti ijtima di Cikampek di bekas pabrik Timor milik Tomi Soeharto.

Namun ketika dakwah, Eko mengatakan, bahwa yang digunakannya adalah hujjah-hujjah Nahdlatul Ulama (NU). "Untuk mengikis pemahaman Wahabi di awam," ujarnya. Di kalangan JT sendiri, banyak ditemukan praktik-praktik seperti Wahabi. (Baca: Blak-Blakan Soal Jaulah atau Jamaah Tabligh)

"Tapi lambat laun karena ada perpecahan ya saya ndak ikuti," kata Eko menambahkan. Namun sebelumnya, Eko telah mengetahui bahwa JT terpecah menjadi dua. "Satu MS atau Maulana Saad yang markasnya di Kebon Jeruk dan satu lagi SA atau seluruh alam atau apa gitu saya lupa," jelasnya.

Keterangannya, SA inilah yang baru, dibentuk atas dasar kekecewaan Ahbab asal Indonesia thd JT pusat di Pakistan dan India. "Karena Indonesia yang mayoritas tapi suaranya ndak terlalu di dengar," kata Eko.

"Nah yang SA ini markasnya di sekitaran Ancol," imbuhnya. Namun ia kembali mengatakan, bahwa dirinya sekarang sudah tidak mengikuti perkembangan JT yang terbaru.

Sementara Solihin menjelaskan, bahwa JT di Magelang berpusat di Krincing, Secang, dipegang oleh Gus Muhlisun. "Dipanggil Gus karena memang putra kiai sepuh di Payaman Magelang," katanya.

Kholil yang bertanya tadi mengaku baru tahu bahwa terbentuknya SA adalah suara dari Ahbab Indonesia. "Nah ini baru tau saya kalau terbentuknya Syuro Alami (SA) ini atas suara Ahbab Indonesia," katanya, sekaligus mengoreksi singkatan SA. Ia melanjutkan, bahwa yang di Krincing sekarang bergabung dengan SA yang di Ancol.

Tidak Seperti HTI?
Dalam kesempatan tersebut, Solihin mempertanyakan, "apakah JT condong ke Khilafah atau NKRI?". Hal ini karena berdasarkan pengalamannya ngobrol dengan simpatisan JT, ia mengindikasikan bahwa mereka terkesan mendukung Negara Islam.

Menurut Kholil, dalam persoalan Khilafah, JT susah untuk ditebak. "Kebanyakan mereka masih mengamalkan amalan-amalan umum, ya mirip-mirip sama NU, hanya saja mereka punya amalan khusus seperti khuruj, musyawarah, dll," katanya.

Sementara menurut Eko, dalam amaliyah mereka masih seperti NU, dan kalau pun khilafah bukan versi HTI. "Mereka masih dalam NKRI," katanya. "Itu kalau yang saya ikuti karena saya juga menjadikan dasar NU di JT," imbuhnya kembali menceritakan pengalamannya.

Adapun terkait di Magelang, keterangan Eko, selain di Payaman, ada juga di Temboro. Keduanya memiliki cabang di Padang. Menurut Eko, di Payaman dan Temboro amalan khuruj memiliki standarisasi sendiri, seperti harus meninggalkan uang untuk keluarga. Berbeda dengan beberapa JT yang lain. "Jadi ga sembarang ninggalin anak terlantar.. Itu dawuh alm Kiai Uzairon (Temboro)," pungkasnya. (Baca: [Dialog] Kiai Kudus yang Niat Hebat Ingin Men-Jaulahkan NU). [dutaislam.com/gg]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini