Rabu, 18 April 2018

Fitnah Suriah: Tabayun UAS, Pendapat Ulama Suriah, Ulama Dunia Non-Politik, Habib Rizieq dan Keadaan Ghouta Terkini

Syeikh Adnan Afyuny ketika mengunjungi Ghouta. (Foto: facebook Fauzan Inzaghi)
Oleh Ust. Fauzan (PPI damaskus)

DutaIslam.Com - Saya sengaja menunggu momen amannya Ghouta untuk menulis ini, bukan apa-apa jangan sampai saat saudara kita sedang berduka di Ghouta kita malah bertengkar dengan sesama di indonesia. Alhamdulillah sekarang Ghouta sudah menghirup udara damai, dan saya mengambil keputusan untuk menulis masalah ini.

Sebelum kita bicarakan masalah pendapat ulama, kita bicarakan dulu tentang berita, agar kita bisa membedakan mana fakta mana opini pribadi, sekalian di akhir kita ceritakan hasil tabayun dengan dai kondang Ustad Abdul Somad(UAS) beberapa waktu lalu di aceh, maaf jika sedikit panjang tapi ini penting saya sampaikan.

Fakta yang terjadi di Ghouta hari ini adalah alhamdulillah tidak ada lagi perang di sana. Fakta lainnya para oposisi bersenjata di Ghouta yang selamat setelah perang sekitar 3 minggu dan dialog beberapa hari mereka dan keluarga telah dievakuasi ke Idlib. Fakta lainnya masyarakat Ghouta yang selama ini berada diwilayah konflik mulai menghirup udara kedamaian, sebagian mereka berada di tempat pengungsian di daerah yang dikuasai pemerintah dan sebagian lagi tinggal di rumah keluarganya di daerah pemerintah yang selama ini terpisah karena konflik. Dan alhamdulillah bantuan sudah mulai mudah aksesnya karena selesainya perang di seluruh wilayah Ghouta. Itulah fakta Ghouta dan masyarakatnya sekarang.

Kita belum berbicara opini masih fakta, dan bukti bahwa itu adalah fakta Anda silahkan ke Damaskus detik ini atau ke Ghouta (15 menit dari Damaskus kalau gak macet), yang akan Anda temukan adalah seperti yang saya katakan dan mustahil ada yang bisa mengingkari fakta ini. Fakta lainnya sebelum puncak perang Ghouta adalah bahwa baik pihak oposisi dan pemerintah keduanya adalah mayoritas muslim Sunny dengan perbedaan aflisiasi politik.

Faktanya dipihak pemerintah kebanyakan tentaranya adalah Sunny hampir 85 persen tentara pemerintah adalah sunny, selebihnya adalah kristen, syiah, dll. Komposisi ini sesuai dengan komposisi masyarakat suriah secara umum, kenapa? Karena mayoritas tentara direkrut dari wajib militer karena sejak perang dunia peraturan wajib militer ada disuriah, kebetulan mayoritas masyarakat muslim Sunny ya akhirnya mayoritas tentara adalah Sunny, dan itu fakta dilapangan bukan opini, Anda boleh ke Suriah dan melihat sendiri kalau perlu berkenalan. Tanpa mengesampingkan fakta bahwa suriah didukung alat perang (bukan tentara lapangan) oleh Iran dan Rusia yang utama. Karena kesamaan kepentingan politik.

Di pihak oposisi bersenjata dalam negeri juga kebanyakan Sunny itu fakta, dan aflisiasi politik mereka kebanyakan ke IM atau simpatisannya rival pemerintah, ini opini tapi didukung dengan data. Sedangkan yang nonbersenjata ada macam-macam, mulai liberal, Sururiyah, IM, Aswaja pro IM, dll. Dengan data dan fakta seperti itu maka sulit mengatakan bahwa perang di Suriah adalah perang Sunny dan Syiah, karena faktanya tentara kedua belah pihak adalah sunny, bahkan tak jarang dari mereka dulu satu pengajian, tetanggaan, dan bahkan saudaraan, tak heran jika kemudian ketika sulh (didamaikan) mereka mudah didamaikan, maka lebih tepat dikatakan bahwa perang ini adalah antara oposisi yang ingin menurunkan pemerintah dari kekuasaan dan pemerintah yang ingin mempertahankan kekuasaan, terlepas apa hukumnya. Tentu ini diiluar fakta lain bahwa ada kelompok bersenjata yang sangat banyak dari luar Suriah turut bermain.

Lalu bagaimana pendapat ulama suriah menyikapi fitnah? Ada tiga. Pertama mendukung oposisi bersenjata, dengan alasan pemerintah banyak kesalahan dan cara memperbaiki kesalahan adalah dengan menurunkannya walaupun harus berperang, pendapat ini dari Syeikh Kuraym, Syeikh Muwafaq, Syeikh Usama dll, itu ijtihad mereka sebagai ulama dan kita hormati, tapi satu catatan fakta yang tidak bisa dilupakan bahwa kebanyakan mereka saat ini di luar Suriah sejak awal konflik, dimana keadaan di lapangan jauh berubah.

Kedua mendukung pemerintah, seperti Syeikh Badrudin Hasoun, kebanyakan mereka dalam pemerintahan, dengan alasan walaupun pemerintah ada salah dan semua pemerintah pasti salah, tapi kesalahannya masih mungkin diperbaiki secara damai, jadi jika memilih memperbaiki dengan cara perang yang ada masalah jadi lebih besar. Tanpa mengingkari satu catatan, fakta bahwa sebagian mereka terlibat politik praktis. Tapi itu ijtihad mereka, dan kita harus menghormati sebagaimana menghormati pendapat pertama.

Ketiga, dan ini pendapat mayoritas ulama Syam, dan kebanyakan mereka berada di Suriah bersama rakyat dan umat disaat tersulit. Mereka bersama kami saat perang, saat-saat kami kesulitan air minum selama beberapa bulan, saat kami tanpa listrik dan pemanas di musim dingin, saat harus makan indomie dengan air dingin karena tanpa makanan dan alat memasak, saat mencekam karena perang, saat-saat tersulit kami kala perang dan mereka ada di samping kami. Mereka juga yang memotivasi kami agar bertahan di saat tersulit, mereka selalu mengatakan kalian adalah anak kami, karena kalian merasakan apa yang kami rasakan dan selalu bersama kami dalam suka dan duka.

Mereka adalah yang berpendapat memilih diam dari fitnah atau berusaha mendiamkan fitnah (bagi yang mampu), intinya berusaha meminimalasir dampak fitnah atas masyarakat agar masyarakat terkena sekecil mungkin. Mereka tidak mendukung oposisi atau pemerintah, mereka hanya menginginkan jangan sampai pertumpahan darah berlanjut bahkan kerap jadi penengah dalam mendamaikan kedua belah pihak di beberapa kabupaten. Mereka adalah orang tua suriah yang terus menasihati kedua belah pihak yang bertikai apapun resikonya, bahkan jika dibenci siapapun. Intinya fitnah diminimalisir. Di beberapa tempat mereka berhasil mendamaikan dua pihak dengan menjadi penengah dua pihak yang bertikai, seperti yang dilakukan Syeikh Adnan Afyuny di Qudsiya, Qabun, Ghouta, dll.

Mereka adalah yang terus menjaga aqidah umat di saat-saat sulit, mereka mendampingi umat di manapun berada, di saat perang suriah, mereka malah berhasil membangun 3 Darul Hadis, Darul Qur'an, Makhad Mazhab Maliki, dan mengkader ratusan ribu hafiz Al-Qur'an yang mengajar di setiap sudut kota di Suriah, karena di Suriah kebanyakan mesjid dijadikan Makhad Tahfiz. Mereka kebanyakan adalah ulama senior yang mempunyai pengaruh besar di akar rumput, seperti Syeikh Said Ramadhan Albuty, Syeikh Wahbah Zuhayly, Syeikh Rajab Fib, muhadis besar Syeikh Nurudin Itr, faqih besar Syeikh Mustafa Bugha, para wali abdal Syam seperti Syeikh Syukri Luhafy, Syeikh Hisyam Burhany, dll, sangat banyak. Mereka sama sekali tidak terlibat politik praktis atau dukung mendukung baik ke oposisi atau pemerintah. Walaupun tak kita ingkari mereka pasti ada kecenderungan ke salahsatu pihak, tapi mereka tak menyampaikannya ke masyarakat agar bisa tetap netral, dan bisa jadi pihak yang mendamaikan dan didengarkan, karena itu untuk mauqif politik pada umat mereka memilih diam dan mengajak umat jauh dari fitnah, dan terus membimbing umat.

Dengan alasan hadis rasul tentang fitnah Syam, jika fitnah datang ke Syam maka jika sanggup menjadi batu maka jadilah batu (artinya diam dan menjauh), dan hadis berhati-hati jatuh dalam fitnah, dan hadis bahayanya jika kata-kata kita bisa menumpahkan darah apalagi jika sampai memanasi suasana sampai berperang. Ini yang selalu diulang-ulang dimimbar "jauhi fitnah". Mereka adalah mayoritas.

Saya pribadi memilih pendapat ketiga karena kebanyakan mereka ulama sepuh, dan sejak sebelum perang terkenal sebagai Madhinnatu Abdal, kebanyakan mereka fuqaha, dan tidak pernah ikut kelompok manapun dalam politik, jadi lebih netral secara ilmiyah karena tak menjadi bagian dari pihak yang berkonflik. Tapi kami juga diperintah untuk menghormati pendapat ulama lain, bagaimanapun mereka guru kami, dan ijtihad mereka harus dihormati, tapi kalau mau tau pendapat mayoritas ulama besar Suriah ya ini.

Lalu bagaimana dengan pendapat mayoritas ulama dunia? Yang berpolitik maka akan mendukung kebijakan aliansi politik masing-masing. Tapi yang tak berpolitik, seperti Habib Umar, Habib Ali Aljufri, Syeikh Abdullah bin Nayyah, Syeikh Ali Jumah, Grand Syeikh Ahmad Thayyib, Abuya Sayyid Ahmad Almaliki, dan ulama aswaja lain, mereka semua memilih diam dan menghormati ulama Suriah, mereka tidak berani berpendapat dan melangkahi ulama Suriah karena suriah dari dulu dipenuhi ulama kelas dunia, dan ulamanya tentu lebih paham masalah suriah, mereka selalu menyebut nama besar Syeikh Albuty, Syeikh Wahbah Zuhayly, Syeikh Nuruddin Itr, dll, jika ditanyakan pertanyaan tentang Suriah. Begitu juga dengan ulama aswaja senior di Indonesia. Termasuk Habib Rizieq Syihab beliau lebih memilih bersama pendapat ulama besar Suriah Syeikh Said Ramadhan Albuty. Begitu juga Syeikh Shalih Fauzan ulama besar salafi di Saudi Arabia berfatwa untuk diam dan tidak terlibat.

Lalu bagaimana hasil tabayun dengan Ustad Abdul Somad atau UAS, beliau katakan sebenarnya tidak membahas detail masalah Suriah, beliau hanya menjawab pertanyaan, dalam menjawab beliau mengaku berpendapat di dasari atas taklid kepada Syeikh Muwafaq yang membawa berita kepada beliau, dan beliau menganggap bahwa Syeikh Muwafaq tsiqah, pendapat Syeikh Muwafaq adalah pemdapat pertama yang mendukung oposisi. Dan saya dalam tabayun menjelaskan bahwa Syeikh Muwafaq adalah guru kita, dan kita hormati ijtihad beliau, untuk masalah Suriah ada beberapa catatan diperhatikan, fakta bahwa Syeikh Muwafaq adalah ulama besar tidak bisa kita ingkari tapi disaat yang sama beliau sedang berbeda pendapat dengan ulama Suriah yang jauh lebih senior, jauh lebih faqih, dan jauh lebih banyak bahkan beliau sendiri akan mengakui fakta ini, bahkan ada diantaranya di thabaqat guru beliau. Bahkan jika ulama lain disebut jumlahnya sangat sedikit dibanding yang berpendapat sebaliknya, dalam ilmu hadis disebut mukhalafatuts tsiqah man awsaq minhu.

Fakta lain bahwa Syeikh Muwafaq tidak berada di Suriah dalam waktu yang lama, sehingga sulit memahami betul keadaan Suriah, dimana kadang khabar yang sampai kepada beliau jauh dari fakta, contohnya meninggalnya Syeikh Albuty, menurut beliau berdasarkan kabar yang sampai kepada beliau bahwa tidak ada bom tapi ditembak, beliau begitu yakin dengan kabar ini seolah fakta, padahal semua yang selamat dari majlis, mulai tetangga saya yang patah kaki dalam kejadian, teman saya yang selamat, keluarga Syeikh yang juga sahabat saya dan banyak saksi mata lain yang hadir bahkan menjadi korban luka, melihat sendiri bom bunuh diri yang diledakan seorang pemuda, dan fakta lain dari keluarga Syeikh gak ada luka tembak pada Syeikh Buty, mereka sendiri memandikan jenazah, yang ada hanya luka dalam, bahkan Syeikh Buty tidak wafat di tempat tapi di rumah sakit, dan kabar ini langsung oleh anak dan cucu beliau yang ikut memandikan jenazah beliau. Jadi kemungkinan salah info seperti ini sangat mungkin terjadi bagi yang tinggal di luar Suriah.

Kita tetap menghormati pemdapat beliau tapi catatan ini harus disampaikan dan alhamdulillah telah saya sampaikan langsung. Pada akhirnya kita tetap harus menghormati pendapat Syeikh Muwafaq, walaupun kita beda pendapat. Jadi ketika kita mengkritisi suatu pendapat bukan karena kita benci dengan orang yang berpendapat, dalam hal ini UAS, tapi kita mencoba menjelaskan pendapat dan info lain dengan fakta dan data yang bisa jadi lebih kuat, toh yang berpendapat berbeda dengan UAS di indonesia di antaranya Habibi Rizieq Shihab, belum lagi pendapat ulama besar yang jelas netral seperti Habib Umar dan Syeikh Wahbah Zuhayly, apakah kemudian kita bermusuhan karena beda pendapat?

Pesan UAS diakhir tabayun juga apapun pendapat yang dipilih, dihimbau agar kita tidak saling serang, nama juga ijtihad, jangan asal beda pendapat nuduh orang lain khawarij dan diserang pribadinya, jangan juga menuduh pihak lain yang beda pendapat sebagai syiah, kafir, dibayar, dll. Himbauan UAS jangan saling serang dan pecah karena beda pendapat, toh ulama saja berbeda pendapat.

Dan jika ditanya pada saya apa yang harus kita lakukan dengan konflik Suriah, suara hati sipil Suriah yang sering curhat yang mungkin tidak berani muncul di media, dari berbagai tempat yang saya pergi baik Damaskus atau luar Damaskus, dan mereka mayoritas sipil awam yang gak terlibat politik "kami sudah lelah dengan perang ini, siapa saja tolong damaikanlah, kalau tidak bisa jangan buat keadaan makin memanas, kami sudah tidak peduli siapa yang menang, yang kami inginkan adalah berakhirnya perang, dan kami akan bersama siapa saja yang mendukungnya". Siapa saja berhentilah saling serang karena beda pendapat, mereka butuh kedamaian, bukan butuh pertengkaran kita. [dutaislam.com/gg]

Source: Fauzan Inzaghi

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini