Kamis, 29 Maret 2018

Waspada Strategi Kaum Curut Menggempur Nahdliyin, Mereka Mulai Saling Rangkul

Ilustrasi: Istimewa
Oleh M Fashihullisan

DutaIslam.Com - Di waktu waktu belakangan ini banyak keanehan yang terjadi di Indonesia, utamanya keanehan yang selalu diserukan oleh para penyeru persatuan umat Islam. Seruan itu lebih banyak diarahkan pada harokah harokah minoritas di Indonesia, dan tentu saja tanpa pelibatan umat mayoritas, yakni warga nahdliyin.

Berpelukan dan bertukar senyumnya tokoh yang menuduh bid'ah dan penuduh bid'ah menjadi salah satu fakta yang sulit diterima logika. Mereka garang melabeli bid'ah, tapi tiba tiba nampak sangat manis saat bertemu muka. Ada apa gerangan mereka berusaha saling berangkulan, di saat fundamental idiologi mereka berseberangan?

Tentu saja patut kita duga, NU lah entitas yang menyatukan mereka, karena mereka sadar untuk menggerus kekuatan NU harus dengan bekerja bersama sama.

Doktrin peng-Islaman mereka di Indonesia, apabila ditelisik dari fakta historis, adalah klaim kemarin sore yang tak jelas rujukannya. Jargon dakwah mereka sebetulnya adalah bagaimana agar umat mayoritas Islam di Indonesia yang telah dijaga selama berabad abad oleh ulama pesantren dan para muridnya, dapat dibajak untuk menjadi pengikut.

Salah satu usaha yang mereka lakukan adalah dengan melakukan stigma-stigma, utamanya melalui media sosial, bahwa nahdliyin tak lebih sebagai kelompok ahli bid'ah, kelompok yang lekat dengan kemusyrikan, kelompok yang suka mendukung orang kafir, dan sebutan lainnya. Bahkan ada gerakan yang menyatakan diri mereka sebagai pemurnian NU, sambil membuat gerakan seakan akan dari dalam NU. Dampaknya, tercipta opini bahwa NU sekarang sudah menyimpang dan harus diluruskan.

Sejatinya dari semua gerakan itu adalah bagaimana agar jamaah NU terlepas dari jamiyah NU, kemudian mereka jarah dan mereka manfaatkan untuk kelompok mereka.

Tak sedikit dari gerakan itu berafiliasi dengan penyandang dana dari luar negeri, yang mengharuskan perkembangan angka nominal pasti jumlah jamaah dari hasil menggerogoti NU. Apabila semakin banyak anggota yang dapat mereka rekrut, maka penyandang dana akan semakin bahagia, dan tentunya gelontoran dana akan semakin lancar di waktu berikutnya.

Logika berfikir mereka tentu bukan tanpa alasan, karena keleluasaan finansial, akses media, sumberdaya manusia yang militan, tentunya menjadikan mereka percaya diri untuk melakukan gerakan. Tapi mereka lupa, bahwa NU lewat para ulama-ulama pesantren, secara turun temurun telah memiliki sejarah panjang untuk menjaga ummat.

Kurang apa kekuatan Belanda, dalam sejarah kolonial dengan berusaha menggempur dengan segala cara, toh nyatanya tak mampu menumbangkan para ulama pesantren, dan bahkan saat menemukan momentumnya justru berhasil menjadi salah satu mobolisator gerakan kemerdekaan melawan kolonial Belanda.

Kekuatan pesantren ada pada penyatuan tradisi dan ajaran agama. Tradisi akan menciptakan kebiasaan dan nilai, hingga saat orang menjalankan tradisi, mereka menjadi tak sadar bahwa mereka telah menjalankan amaliyah agama. Tahlilan, yasinan, selamatan, merupakan tradisi tradisi keagamaan yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Islam Indonesia, yang direproduksi oleh pesantren.

Sadar akan kekuatan tradisi, para musuh NU berusaha bersatu dan secara bersama sama akan mendeskontruksi tradisi masyarakat. Menjalankan tradisi beragama ala Indonesia dilabeli dengan bid'ah dan khurofat. Sambil menggempur, mereka menawarkan tradisi tradisi baru, yang sudah mereka kodifikasi sehingga menjadi pintu masuk dalam menawarkan ide ide baru. [dutaislam.com/pin]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini