Senin, 19 Maret 2018

Tauhid Bukan Hanya Sekedar Keyakinan, Tapi Menjadi Pewarna Bagi Kehidupan

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Ach. Tijani

DutaIslam.Com - Islam dan kehidupan adalah dua hal yang saling berkaitan. Islam bagi setiap pemeluknya adalah kehidupan itu sendiri. Kehidupan mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali adalah rangkaian kehidupan yang harus berjalan sesuai dengan norma-norma ke-Islaman. Untuk itulah, relasi Islam dan kehidupan tidak dapat dimaknai secara parsial dengan mengatakan bahwa Islam hanya urusan akhirat, sementara kehidupan adalah urusan dunia.

Memaknai Islam yang inhern dengan kehidupan adalah hal yang sangat penting, bahkan menjadi salah satu misi kerasulan dari Nabi Muhammad SAW. Dengan argumentasi yang sangat populer mengenai Islam yang inhern dengan kehidupan itu dalam bahasa yang lain biasa disebut dengan Islam Rahmatan lil’alamin (Islam sebagai penebar kasih sayang untuk semesta alam). Islam dalam hal ini harus menjadi ruh dari setiap gerak dan gemerlap kehidupan sebagai titian menuju kehidupan kekal abadi di akhirat.

Menyatukan dua hal yang seakan-akan berbeda tidak cukup mudah, setidaknya perlu konsep yang memadai. Untuk itu Islam sebagai sebuah keutuhan ajaran, didalamnya terdapat inti yang menggerakan dan mewarnai segala hal perintah dan larangan untuk setiap pemeluknya. Inti dari ajaran Islam inilah yang menempati persoalan paling penting, inti dari Islam tersebut adalah Tauhid.

Tauhid secara etimologis berasal dari kata wahhada (menjadikan satu). Jadi Tauhid ini dapat diartikan sebuah upaya melihat realitas yang beragam pada satu inti dari beragam tersebut. Realitas yang dimaksudkan tidak hanya yang bersifat bendawi, tetapi juga termasuk hal yang bersifat abstrak seperti wacana, kemauan, ketakutan dan seterusnya. Namun secara spesifik kata tersebut digunakan dalam keilmuan ketuhanan dalam Islam, yang artinya adalah konsep keesaan Allah SWT.

Dalam terminologi keilmuan sosiologi agama, tauhid itu serupa dengan ajaran. Monoteisme (ajaran yang mengajarkan konsep satu Tuhan). Monoteisme secara historis sudah dikenalkan oleh Allah melalui para Nabi yang diutus sejak Nabi Adam, Nuh, Hud, Ibrahim sampai kepada Nabi Muhammad. Walau tidak seluruh corak monoteisme dapat dikatakan Tauhid dalam konsepsi Islam.

Tauhid dalam konsepsi Islam adalah ajaran ketuhanan yang tidak hanya membimbing manusia dari sisi spiritualitas belaka, tapi juga bergerak maju hingga ke akar intelektualitas. Hal tersebut dimaksudkan agar manusia sebagai subyek penyembah Tuhan dapat menghayati intisari dari nilai ketuhanan, maka segala hal yang terkait dengan kehidupan, baik persoalan yang bersifat profan maupun yang sakral akan menemukan titik kecerahan.

Upaya untuk sekedar mencari intisari kebertuhanan telah memunculkan berbagai macam penafsiran. Keragaman penafsiran tersebut dalam konteks keilmuan klasik Islam telah memunculkan keilmuan yang kemudian dikenal dengan Ilmu Kalam. Darinya lahirlah perdebatan teologis dalam Islam yang melahirkan faksi-faksi penting dan menyejarah seperti Mu’tazilah, Jabariyah, Qadariyyah dan Ahlussunnah dan berbagai firqah kalam lainnya.

Semua perdebatan itu dalam rangka memberikan landasan teoritis dan praktis bagi umat Islam dengan harapan imannya semakin kokoh dan tak tergoyahkan. Serangkaian perdebatan berbicara tentang bagaimana Tauhid menjadi basis bagi lahirnya praktik-praktik keislaman yang sesuai dengan landasan monoteisme yang dikenalkan oleh para Nabi, khususnya bagi kita saat ini tentu adalah Nabi Muhammad SAW.

Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya Wawasan al-Quran, bahwa Tauhid adalah fitrah dari seorang manusia dalam hal relasinya dengan Tuhan. Al-Quran memperkenalkan konsep Tauhid sebagai sebuah nilai yang hidup. Dalam arti yang lain, tauhid itu tidak hanya sekadar menanamkan keyakinan, namun lebih dari itu harus menjadi pewarna bagi kehidupan.

Spirit dan motif dari segala fikir dan gerak dalam diri manusia harus dilandaskan pada konsepsi Tauhid, dimana Allah menjadi titik tolak dan terminalnya. Kehidupan ini harus dibangun dari kayakinan kepada Allah dan juga diperuntukkan kepada Allah. Konsepsi ini di dalam Islam tidak dapat ditawar, menolaknya dengan bentuk sekecil dzurrah (biji) sekalipun akan mengeleminasi ke-Islamannya.

Untuk itu, Tauhid harus sejak dini ditanamkan secara istiqamah dalam kondisi dan situasi apapun. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjaga ketergelinciran pada hal-hal merusaknya, karena Tauhid yang rusak akan merusakkan segala amal. Hal yang merusak itu bisa saja berupa sikap yang mendua, artinya satu sisi sesorang dapat saja mengaku beriman kepada Allah, namun pada sisi yang lain orang tersebut menunjukkan sikap yang berlebihan akan kehilangan harta. Gejala tersebut dapat dikatakan mendua, karena secara implisit orang tersebut menunjukkan penghambaan kepada selain Allah.

Sikap mendua ini dalam terminologi ilmu Tauhid disebut dengan syirik. Syirik dalam bentuk besar mungkin jarang sekali ditemui dalam kehidupan seorang muslim, namun hal-hal kecil seperti sikap mendua pada contoh di atas begitu sangat mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Ketakutan-ketakutan berlebihan pada hal-hal yang bersifat duniawi bisa saja merasuk pada setiap muslim, tanpa memandang status sosial. Bisa terjadi pada mereka yang awam, tapi juga dapat terjadi pada mereka yang intelek.

Dari sejumlah argumen di atas, bahwa Tauhid menjadi unsur yang cukup vital dalam keber-Islaman kita. Signifikansinya yang pertama adalah sebagai urat nadi kehidupan yang harus mendorong pada sikap yang kosntruktif. Fungsi ini berkaitan erat dengan predikat manusia sebagai khalifah fil ardl (pengatur dunia). Disinilah manusia diharapkan benar-benar diminta sebagai cerminan Allah  di muka bumi dengan cara memaksimalkan semua karunia Allah untuk kehidupan yang lebih bermanfaat sesuai dengan kapasitas yang dimiliki oleh masing-masing manusia.

Siginifikansi kedua adalah, Tauhid untuk menjaga kehidupan ini agar tidak terjebak pada jebakan-jebakan penghambaan keduniaan. Disini cermin penghambaan vertikal benar-benar harus mewujud, dengan suatu konsep kepasrahan kepada Allah. Keteguhan menjaga martabat sebagai hamba Allah yang tidak mudah terlena dengan kekuatan-kekuatan selain dari Allah. Godaan harta, wanita dan jabatan kerap menjadi batu sandungan yang harus diwaspadai. Hanya orang-orang yang tuntas bertauhid sajalah yang akan mampu melewati tantangan tersebut. Simplifikasi dari siginfikansi yang kedua ini adalah tertuang dalam ayat innalillahi wa inna ilaihi roji’un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya tempat kembali). [dutaislam.com/gg]

Ach. Tijani, Pengurus Lakpesdam PCNU Kota Pontianak

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini