Sabtu, 03 Maret 2018

Cermin Ilahi dalam Diri Nabi, Mengapa Abu Jahal Melontarkan Caci Maki?

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Kuswaidi Syafiie

DutaIslam.Com - Seluruh nabi yang juga dianugrahi pangkat rohani sebagai rasul mendapatkan risalah dan tajalli dari Allah SWT. Selain disesuaikan dengan kesiapan spiritual mereka masing-masing, risalah dan tajalli hadirat-Nya itu juga dibikin sepresesif mungkin dengan kapasitas umat dari setiap rasul di mana mereka diutus. Sehingga dapat dipastikan bahwa setiap nabi yang diutus itu memang memiliki korelasi spiritual yang "sepadan" dengan masing-masing umat mereka. Demikian juga dengan ajaran Ilahi yang disampaikan oleh para utusan itu kepada umat masing-masing.

Maka, apa boleh buat, atas nama "keterbatasan" yang menggelayut pada diri para rasul itu, mereka lalu hanya diutus kepada kaum mereka semata. Juga hanya pada periode tertentu. Tidak lebih dari itu. Menjadi jelas kemudian kenapa para rasul yang selain Nabi Muhammad SAW  tidak ada yang diutus kepada seluruh umat manusia di alam raya. "Kouta" mereka tidak cukup untuk hal itu.

Baca: Tiga Keniscayaan Tak Bisa Ditawar Para Da'i Agama

Di samping mengindikasikan tentang "keterbatasan" mereka, peta tentang kerasulan seperti itu juga mengisyaratkan adanya "ketidakterbatasan" kerasulan yang disandang oleh Khatamun Nabiyyin Nabi Muhammad SAW, baik yang berkaitan dengan cakupan horizontalnya maupun yang terhubung dengan babakan periodiknya.

Tentu saja luasnya cakupan kerasulan yang hanya dispesifikasikan kepada putra Abdullah itu dengan gamblang menunjukkan kepada kita semua bahwa segala sesuatu di alam raya ini, baik secara spiritual maupun secara material, tak lain dimunculkan oleh Allah SWT dari cahaya primordial nabi yang paling memukau secara lahir dan batin. Karena beliau merupakan satu-satunya alasan penciptaan semesta ini. Tak ada yang lain lagi.

Baca: Berselimut Allah

Karena gamblang bahwa para rasul, para nabi, para wali dan orang-orang beriman dari seluruh babakan sejarah itu "bersemayam" dalam diri Nabi Muhammad SAW, maka tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun yang mengalami makrifat bahwa beliau tak lain merupakan tajalli hadirat-Nya yang paling terang-benderang dan lengkap.

Dari sini kita bisa memahami sekaligus meresapi bahwa beliau sesungguhnya merupakan cermin Ilahi yang setiap saat bisa dipakai oleh siapa pun, selain untuk melihat substansi "kehadiran" Allah SWT, juga untuk mengaca diri. Seberapa pun kadarnya, setiap makhluk memang merupakan cermin sekaligus "realitas" dari  tajalli hadirat-Nya. Tapi tidak ada yang lebih terang, tidak ada yang lebih bening, tidak ada yang lebih indah, tidak ada yang lebih agung dibandingkan dengan Imam al-Mursalin SAW itu.

Baca: "Anggur Rohani" Maulana Jalaluddin Rumi

Itulah sebabnya, dalam sebuah sabdanya yang termaktub dalam kitab antologi hadis yang berumbul Shahih Muslim beliau memberikan garansi dengan menyatakan: "من رأني فقد راى الحق/ Siapa yang melihatku, maka sungguh dia melihat Allah Yang Mahabenar."

Tentu saja "melihat" pada hadis di atas itu bukanlah merupakan suatu hal yang serta-merta terjadi begitu saja. Akan tetapi mesti didahului oleh keimanan terhadap risalah yang diembannya dan dengan penuh kesungguhan dan ketulusan mengikuti keteladanan yang telah diwedar secara konkret oleh beliau. Melihat kehadiran Allah SWT pada diri beliau adalah menyaksikan hadirat-Nya yang tidak sepenuhnya tertampung pada makhluk apa pun yang lain.

Baca: Akulah Layla

Lantaran dua syarat itu tidak ada pada diri Abu Jahal dan kaum kafir yang lain, maka walaupun sudah bolak-balik melihat beliau, mereka tidak bisa menemukan Allah SWT hadir di situ. Setelah melihat makhluk terpilih itu, Abu Jahal hanya bisa memuntahkan kalimat-kalimat yang jorok dan caci-maki tidak karuan. Sedang setelah memandang makhluk pujaan itu, tidak ada apa pun yang terungkap dari Abu Bakar ash-Shiddiq selain sanjungan dan puja-puji.

Dalam mengarungi hidup yang sejenak ini, tidak ada cermin paling indah dan bening yang mesti senantiasa kita pandangi selain beliau. Andai kita menemukan keindahan pada cermin itu, tentu hal itu merupakan karunia rohani yang dianugerahkan oleh Allah Ta'ala kepada kita. Andai kita merasa jijik dan kita ludahi cermin itu, sesungguhnya kita berarti sedang mempertontonkan keburukan sekaligus kebusukan kita sendiri. Na'udzu billahi min dzalik. Wallahu a'lamu bish-shawab. [dutaislam.com/pin]

Kuswaidi Syafiie adalah penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta. Tulisan ini diambil langsung dari akun FB Kuswaidi Syafiie.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini