Sabtu, 06 Januari 2018

Kritik Terhadap Bachtiar Nasir Soal Kencing Onta; Baik Hadits, Medis, Maupun Ke-Muhammadiyah-annya

Foto: Istimewa
Oleh Ahmad M Alim

DutaIslam.Com - “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ.
‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.’” [1]

Saya kaget bukan kepalang saat menyaksikan video seorang ustadz dan salah seorang pengikutnya minum kencing unta campur susu unta, untuk kesehatan katanya. Setelah itu teriak takbir sambil cekikikan. Terus terang saya bingung sekaligus tersinggung.

Saya bingung, tak habis pikir bagaimana bisa seorang penyandang gelar ustadz, terkenal, bisa melakukan itu. Apa dasarnya? Perilaku apa ini?

Memang ada hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah pernah menyarankan penggunaan kencing unta untuk obat, dikenal dengan hadits Urayinin [2] Namun ini bertentangan dengan hadits lain: Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian dari apa-apa yang diharamkan atas kalian’ [3], ‘Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah, dan janganlah berobat dengan yang haram’[4], dan ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berobat dengan obat yang kotor (khabits)’ [5] Dan banyak ulama yang sependapat bahwa kotoran hewan itu najis, sebagaimana misalnya diungkapkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar di dalam Fathul Bari (1/125), atau dalam Nailul Authar (1/126) menyatakan bahwa sebab dilarangnya menggunakan rauts adalah karena ia najis, dan najis tidak bisa digunakan untuk menghilangkan najis yang lain. Dan ingat, najis itu haram.

Saya paham, ada juga yang berpendapat bahwa urin unta itu tidak najis, seperti sebagian Malikiyah dan Hanabilah. Jadi kencing unta ini masih kontroversi subhat, alias tidak jelas. Tapi untuk hal ini biarlah para ulama yang berdebat. Secara khusus sy serahkan kepada Ust. Robby Karman untuk membahasnya.

Sisi Medis
Setelah saya cari-cari informasi, saya dapatkan  website-website (bahkan juga buku) yang mengungkap bahwa ada penelitian yang menggunakan kencing unta untuk menghilangkan sel leukimia yang disuntikkan pada tikus.Tapi tidak jelas apakah sel leukimia itu hilang karena kencing unta atau karena ketahanan tubuh si tikus. Ada juga kajian  untuk penyakit lain, tapi juga tidak gamblang. Jadi penelitian yg dikutip website-website ini tidak mengungkapkannya secara ilmiah sama sekali. Sampai sekarang saya juga tidak menemukan publikasi ilmiah mengenai kencing unta ini sebagai obat di pelbagai jurnal medis masyhur. Paling banter adalah uji lab (in vitro atau in vivo tikus).

Apakah kalau tidak ilmiah itu tidak bisa mengobati? Saya tidak bilang demikian, tapi juga hal itu juga tidak jelas efek berbahayanya. Perlu anda ketahui, suatu zat bila akan digunakan sebagai obat harus melalui uji berlapis. Dari uji kandungan zat, uji toksisitas uji hewan dan seterusnya hingga uji ke manusia dengan persyaratan dan prosedur yang ketat. Untuk apa semua itu? Selain untuk memastikan efek terapinya, juga untuk menjamin keamanannya! Artinya dunia medis saat ini sudah sampai pada tahap itu, tidak lagi pakai hal-hal yang belum jelas kemanfaatan dan bahayanya seperti zaman mitos dulu.

Bahaya Perilaku Ini
Ditengah kampanye anti-medis seperti anti-vaksin yang memakan korban 100an korban jiwa akibat difteri, ribuan atau jutaan korban kanker tulang akibat pananganan patah tulang yang membahayakan, ribuan mati akibat penanganan gigitan ular yang salah, muncul pula kencing unta ini yang dipame7rkan oleh ustadz terkenal. Apa jadinya kalau ternyata kencing unta mengandung toksin, bakteri atau virus berbahaya. Tau kan, bahwa virus MERS bisa ada di unta? Apalagi ada berita penjual kencing unta yang mengganti isi botol dengan kencing manusia...

Selain bisa membahayakan jiwa, sesungguhnya perilaku ini juga membahayakan perkembangan dan penyadaran masyarakat mengenai kesehatan. Masyarakat menjadi maklum dengan pengobatan-pengobatan yang belum jelas manfaat dan bahayanya. Ini kemunduran peradaban.
Terlebih lagi, bila akhirnya si ustadz bersikukuh dengan dalil-dalil, lalu masyarakat banyak percaya secara letterlijk, maka kemunduran pemikiran yang akan terjadi. Paling tidak, dalam waktu dekat akan ada pembenturan antara tafsir naqli dan tafsir aqli/ilmi, atau bahasa lainnnya, agama vs sains. Kasian umat.

Kalau memang mau pakai kencing unta, silahkan diuji dengan standar yang baik, sampai terbukti aman dan manfaat. Jangan masyarakat jadi korban pengetahuan yang masih tidak jelas dan kontroversial terkait kesehatan dan nyawanya.

Kontra-Muhammadiyah
Sesungguhnya Muhammadiyah adalah gerakan ilmu. Saat berdirinya, Muhammadiyah mengoreksi arah kiblat, menjelaskan praktek agama berdasar dalil rajih, penggunaan hisab, pengorganisasian masyarakat dalam beribadah (haji, zakat dll) sampai pendirian rumah sakit.. hakekatnya adalah gerakan ilmu. Khususnya soal pendirian rumah sakit, ini maksudnya Muhammadiyah mengajak masyarakat menggunakan ilmu dalam menjaga dan memperbaiki kesehatannya, bukan lagi dengan mitos-mitos.

Dalam pemikiran keagamaan, Muhammadiyah menggunakan 3 pendekatan: bayani (tekstual), burhani (argumentasi, riset dll), juga irfani (qalbu dst). Nah cara berpikir tekstualis ala kencing unta ini mengkerdilkan masyarakat, khususnya warga Muhammadiyah yang terpengaruh apa yang dilakukan si ustadz.

Kenapa selain bingung saya sebagai kader Muhammadiyah juga tersinggung soal ustadz minum kencing itu? Sudah 1 abad lebih usaha pengilmuan ini dilakukan oleh Muhammadiyah dengan darah, keringat dan harta warganya, kok tiba-tiba ada ustadz yang kebetulan terdaftar sebagai pimpinan Muhammadiyah pamer minum kencing unta. Saya rasa ini bukan persoalan sederhana. Muhammadiyah bisa menjadi bahan cemoohan baik dalam masyarakat, maupun dunia ilmiah, bila hal ini tidak segera dijelaskan dengan baik. Jangan sampai dibilang Muhammadiyah punya Ustadz Kencing Unta. Na'udzubillah. Allahu a'lam. [dutaislam.com/gg]

Referensi:
[1] Hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu,  Shahiih al-Bukhari, kitab al-‘Ilmu bab Raf’ul ‘Ilmi wa Zhuhuurul Jahli (I/178, al-Fath), dan Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/222, Syarh an-Nawawi).
[2] hadits Anas bin Malik, Riwayat Bukhari Muslim
[3] Disebutkan oleh al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (7/110) tanpa sanad, dan dinisbahkan pada Ibn Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Demikian juga disebutkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan ash-Shaghir (4/84).
[4] Riwayat Abu Dawud No. 3874.
[5] Riwayat Ahmad No. 8048, 9756, 10194, Abu Dawud No. 3870, dan at-Tirmidzi No. 2045.

Source: Fb Alim

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini