Jumat, 19 Januari 2018

Debat Dokter Muda dengan Kiai Kampung Soal Fiqih

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Seorang dokter muda harus praktik di sebuah kota kecil di pantai utara Jawa. Keadaan masyarakat yang religius dan masih percaya hal-hal klenik sebenarnya tak pernah menyusahkan si dokter. Hal yang menyulitkan justru datang dari tokoh kampung tempat si dokter membuka praktik. Si tokoh ialah seorang kiai yang mumpuni dalam ilmu fikih alias hukum Islam tetapi terlalu konvensional dalam penerapannya.

Sialnya, pada satu malam, si dokter harus menghadapi si kiai. Kiai mendatangi klinik karena anaknya sakit.

“Bagaimana anak saya, Pak Dokter? Apakah bisa sembuh?”

“Sembuh sih bisa, Pak Kiai, tapi perlu operasi,” kata si dokter sambil memeriksa.

“Tidak masalah,” kata kiai.

Persoalan yang dibicarakan memang pelik. Anak si kiai menderita penyakit paru-paru karena sejak lahir tak punya bibir atas. Kita biasa mengenalinya dengan istilah bibir sumbing. Hanya saja, anak kiai tak cuma menyandang sumbing biasa, tapi sumbing ini membuat si anak tak memiliki rongga hidung. Itu membuat lubang mulut dan hidung jadi satu tanpa pembatas.

Dalam kesimpulan si dokter, udara tidak bisa disaring lagi, dan inilah yang membuat si anak mengalami gangguan pernapasan. Kiai sendiri mengeluhkan kondisi anaknya itu sejak membawanya ke tempat praktik si dokter.

Kesimpulan sederhana terbangun. Belahan bibir si anak harus ditutup dengan tranplantasi kulit.

“Operasi apa yang diperlukan, Dok?” tanya kiai.

“Kita perlu tranplantasi kulit, Kiai. Untuk menutup rongga hidung agar bisa dibuat jalur pernapasan sendiri. Seperti membuatkan jalur makan dan minum sendiri,” kata dokter menjelaskan dengan bahasa sederhana.

Si kiai berpikir. “Apa tadi? Tranpla…  apa tadi itu?” tanya si kiai.

“Tranplantasi kulit, Pak Kiai.”

“Nah, iya itu. Apa itu? Mau diapain anak saya?”

“Anu, Pak Kiai. Maksudnya begini. Kita mau tambal bibir anak Pak Kiai pakai kulit lain,” kata dokter.

“Dari kulit orang lain?" kata si kiai, buru-buru. "Wah, saya tidak mau, Pak Dokter."

"Bagaimana pertanggungjawaban saya di akhirat kelak kalau pakai kulit orang lain begitu? Memakai hak milik yang sudah ditentukan Allah bagi orang lain? Wah celaka saya dan anak saya nanti di akhirat. Saya enggak mau kalau begitu caranya."

Si dokter paham. Ia sudah tahu reputasi si kiai. Dalam kacamata si dokter, itu bukan bentuk kehati-hatian terhadap agama, tapi sikap kolot. Sedangkan di hadapan si kiai, dokter di hadapannya itu terlalu sembrono.

“Bukan dari kulit orang lain Pak Kiai,” balas si dokter.

“Lalu dari kulit siapa?” tanya Kiai.

“Diambil dari kulit sendiri,” balas si dokter. “Kulit anak Pak Kiai sendiri.”

Si kiai manggut-manggut. “Oh begitu. Baiklah,” kata Pak Kiai. [dutaislam.com/pin]

Keterangan:
Diambil dari tirto.id, diedit ulang oleh Radaksi Dutaislam.com


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini