Sabtu, 13 Januari 2018

Belajar Kaidah Ushul dan Kaidah Fiqh ala Mazhab Cinta

Ilustrasi: Istimewa
Oleh Nadirsyah Hosen

DutaIslam.Com - Banyak yang mengeluh bahwa belajar berbagai kaidah ushul al-fiqh dan fiqh itu sulit dan njelimet. Saya coba mengurai kerumitannya dengan metode yang ringkas bergaya bait-bait nazham ala pesantren, plus dengan humor gaya anak muda, dan diramu sedemikian rupa untuk menunjukkan belajar Qawa'id Ushuliyah dan Qawa'id Fiqhiyah itu mudah kok :)

Untuk mempermudah, kita pakai Madzhab Cinta yah.. Simak deh...dan ayo kita semangat terus belajar:

1. Meski kata cinta yang ku berikan berlafaz umum, tapi cintaku tertuju khusus untukmu (al-'am urida bihi al-khas).

2. Cintaku tidak pernah berubah karena ia bukan sesuatu yang bisa di-nasikh-mansukh.

3. Cintaku tidak membutuhkan ta'wil karena ia bukan sesuatu yang mutasyabihat. Ini cinta yang muhkamat.

4. Cintaku itu qath'i bukan zanni karena ia tidak membutuhkan lagi 'illat yang mustanbathah.

5. Rasa sayangku padamu sudah masuk kategori ma'lum minad din bidh dharurah. Aksioma!

6. Saat kamu bimbang apakah cintaku ini termasuk qaul qadim atau qaul jadid, ingatlah bahwa al-yaqin la yuzal bi al-syak.

7. Tak usah kamu gelisah jikalau ada yang mencoba mencegah cinta kita karena an-nahyu 'anis sya'i la yadulu 'alal fasad.

8. Bahkan meskipun kamu ketar-ketir dan akhirnya "terpaksa" mencintaiku ingatlah al-dharurah tubihul mahzurat.

9. Sudahlah tak perlu meng-qiyaskan cinta aku dengan yang lain, Illat cintaku dan dia jelas berbeda. Ini namanya qiyas ma'al fariq.

10. Jatuh bangun aku mencintai kamu, tapi segala nestapa akan membawa pada kemudahan kelak: al-masyaqqah tajlibut taysir.

11. Tak usah kamu tanya lagi dengan sebab apa aku mencintaimu karena al-'ibrah bi umumil lafz la bi khususis sabab.

12. Kamu sudah milikku selamanya, maka tutuplah semua celah dan jalan yang membawa kemudaratan. Ini sadd al-zariah!

13. Duhai cintaku, ikhtilaf ummati rahmat, tapi ikhtilaf akibat cinta bisa jadi laknat buat kita. Jadi, gak usah berbantah-bantahan yah.

14. Hukum boleh saja berubah ditelan zaman dan tempat (bi taghayur al-azman wa al-makan) tapi itu tak berlaku untuk cintaku padamu. Cintaku tak pernah berubah.

15. Kalau kamu terus saja diam saat ku ungkapkan rasa cintaku, apakah ini artinya kamu setuju dalam diam (ijma' sukuti)?

16. Cintaku itu utk menjaga agama, diri, akal, keturunan dan harta benda kita (kulliyatul khams). Inilah maqashid cintaku.

17. Tak usah lagi mikirin pacar mu yang dulu karena yang berlaku sekarang itu cinta kita: syar'u man qablana laysa syar'an lana.

18. Kalau banyak yang juga merayu dirimu aku minta kamu segera memakai metode tarjih saja mana cinta yang tulus dan mana yang akal bulus. Masak mau pakai al-jam'u wat taufiq?

19. Cinta itu merupakan wasilah menujuNya karena lil wasa'il hukmul maqashid.

20. Cinta tulus itu seharusnya menolak mafsadah ketimbang mendahulukan menarik maslahah; daf'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih.

21. Kalau ternyata aku salah menyintai kamu, aku dapat satu pahala. Kalau benar, aku dapat dua pahala. Ini ijtihad! [dutaislam.com/gg]

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah NU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini