Senin, 04 Desember 2017

Kisah Imam Ahmad ke Irak Gara-Gara Istighfar Tukang Roti

Foto: Istimewa
DutaIslam.Com - Imam Ahmad bin Hambal Rahimakumullah dimasa akhir hidup bercerita, "Satu waktu (ketika saya sudah usia tua) saya tidak tau kenapa ingin sekali menuju satu kota di Irak" katanya. Padahal tidak ada janji sama orang atau tidak sedang ada hajat tertentu.

Imam Ahmad kemudian pergi sendiri menuju ke kota Bashrah. Beliau bercerita, "Begitu tiba di sana waktu Isya', saya ikut shalat berjamaah isya di masjid, hati saya merasa tenang, kemudian saya ingin istirahat."

Begitu selesai shalat dan jamaah membubarkan diri, Imam Ahmad bermaksud tidur di masjid, namun tiba-tiba Marbot masjid datang menemui imam Ahmad sambil bertanya, ”Kamu mau ngapain  disini, syaikh?" tanyanya.

(Kata "syaikh" bisa dipakai untuk 3 panggilan, bisa untuk orang tua, orang kaya ataupun orang yang berilmu. Panggilan syaikh di kisah ini ialah panggilan sebagai orang tua karena marbot taunya Imam Ahmad hanya sebagai orang tua). Marbot tidak tau kalau lelaki tua ini adalah Imam Ahmad. Dan Imam Ahmad pun tidak memperkenalkan dirinya.

Di Irak, semua orang kenal siapa imam Ahmad, seorang ulama besar dan ahli hadits, sejuta hadits dihafalnya, sangat shalih dan zuhud. Zaman itu tidak ada foto sehingga orang tidak tau wajahnya, cuma namanya sudah terkenal.

Imam Ahmad menjawab, "Saya ingin istirahat, saya musafir," kata Imam Ahmad. “Tidak boleh, tidak boleh tidur di masjid," jawab Marbot masjid.

Imam Ahmad bercerita, “Saya didorong-dorong oleh orang itu disuruh keluar dari masjid. Setelah keluar masjid, lalu dikunci pintu masjid. Lalu saya ingin tidur di teras masjid.”

Ketika sudah berbaring di teras masjid, marbot datang lagi, marah-marah kepada Imam Ahmad, "Mau ngapain lagi syaikh?" kata marbot. "Mau tidur, saya musafir"kata imam Ahmad.\

Lalu marbot berkata, "Di dalam masjid gak boleh, di teras masjid juga gak boleh." Imam Ahmad diusir. Imam Ahmad bercerita, "Saya didorong-dorong sampai jalanan."

Di samping masjid ada penjual roti (rumah kecil sekaligus untuk membuat dan menjual roti). Penjual roti ini sedang membuat adonan, sambil melihat kejadian imam Ahmad didorong-dorong oleh marbot tadi. Ketika Imam Ahmad sampai di jalanan, penjual roti memanggil dari jauh,  "Mari syaikh, anda boleh nginap di tempat saya, saya punya tempat, meskipun kecil." kata penjual roti itu

"Baik," kata Imam Ahmad. Imam Ahmad masuk ke rumahnya, duduk di belakang penjual roti yang sedang membuat roti (dengan tetap tidak memperkenalkan siapa dirinya, hanya bilang sebagai musafir).

Penjual roti punya perilaku khas. Kalau imam Ahmad mengajak bicara, dijawabnya. Kalau tidak, dia terus membuat adonan roti sambil melafalkan istighfar.

Saat memberi garam, astaghfirullah, memecah telur, astaghfirullah , mencampur gandum, astaghfirullah, dan seterusnya. Dia senantiasa mendawamkan istighfar, sebuah kebiasaan mulia. Imam Ahmad memperhatikan terus.

Kemudian Imam Ahmad bertanya, "Sudah berapa lama kamu lakukan ini?”
"Sudah lama sekali syaikh, saya menjual roti sudah 30 tahun, jadi semenjak itu saya lakukan."

Imam Ahmad bertanya, "Maa tsamarotu fi'luk (apa hasil dari perbuatanmu ini)?"
Orang itu menjawab, "(lantaran wasilah istighfar) tidak ada hajat yang saya minta, kecuali pasti dikabulkan Allah.  Semua yang saya minta, ya Allah, langsung diwujudkan." 

(Nabi pernah bersabda, "Siapa yang menjaga istighfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar baginya dari semua masalah dan Allah akan berikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangkanya.")

Orang itu melanjutkan, "Semua dikabulkan Allah kecuali satu, masih satu yang belum Allah beri."
Imam Ahmad penasaran dan bertanya, "Apa itu?"

Orang itu berkata: "Saya minta kepada Allah supaya dipertemukan dengan Imam Ahmad."
Seketika itu juga Imam Ahmad bertakbir, "Allahu Akbar..!  Allah telah mendatangkan saya jauh-jauh dari Bagdad pergi ke Bashrah dan bahkan sampai didorong-dorong oleh marbot masjid itu sampai ke jalanan, terrnyata karena istighfarmu."

Penjual roti terperanjat, memuji Allah, ternyata yang di depannya adalah Imam Ahmad. Ia pun langsung memeluk dan mencium tangan Imam Ahmad. [dutaislam.com/pin]

Keterangan:
Diambil dari Kitab Manakib Imam Ahmad


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini