Sabtu, 30 Desember 2017

Gus Dur dan Keberpihakan pada Kaum Perempuan

Gus Dur. Foto: Istimewa
Oleh Arofatul Ulya

DutaIslam.Com - KH. Abudrrahman Wahid (Gus Dur) merupakan kiai yang semasa hidup dikenal nyentrik, namun pemikirannya sangat luas dalam segala hal. Sebagai perempuan, Saya sangat gembira Indonesia pernah memiliki sosok kiai seperti Gus Dur.

Pemikiran, pandangan, dan perilakunya, menjadi teladan masyarakat luas. Termasuk dalam isu perempuan. Dia berani mendobrak paradigma yang jelas-jelas salah, bahkan ketika para kiai atau intelek kenamaan sekalipun, belum tentu berani mendobrak paradigma di masyarakat yang telah mapan.

Terkait isu perempuan, Gus Dur berani mengatakan, bahwa poligami itu tidak boleh. Ketegasan sikap Gus Dur itu, dengan pertimbangan betapa berat syarat-syarat yang mesti dipenuhi oleh mereka yang menghendaki berpoligami.

Gus Dur, melalui istrinya, Sinta Nuriyah, menjelaskan, orang yang mengatakan bahwa poligami itu boleh, hanya menafsirkan ayat secara sepenggal-sepenggal tanpa mendalami syaratnya yang begitu berat. Utamanya soal keadilan.

Keberpihakan Gus Dur terhadap perempuan, dilakukan secara nyata. Tidak dengan koar-koar tanpa isi yang jelas. Hal lain yang menarik, semasa menjabat Presiden RI, dirinya mengganti nomenklatur Menteri Peranan Wanita menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Pilihan diksi tersebut, menurut para aktivis perempuan, dinilai sebagai wujud nyata keberpihakan Gus Dur atas hak-hak perempuan.

Melihat keberpihakan Gus Dur terhadap perempuan, tidak peduli di zaman apa perempuan hidup, perempuan seharusnya senantiasa berusaha untuk menjadi berdaya, memahami akan kelebihan dan kekurangannya. Gesit, tangguh, cekatan, mandiri, rajin, dan sifat-sifat mendasar lainnya.

Pepatah Barat mengatakan, “Beauty maybe dangerous. But intelligence is lethal”. Kecantikan mungkin berbahaya, tetapi kecerdasan itu mematikan. Pepatah tersebut menegaskan, bahwa selayaknya perempuan harus cerdas, berani, dan tentu saja tetap berakhlak terpuji sesuai tuntunan agama. Perempuan tidak seharusnya terjebak dalam gaya hidup hedonisme, dan menjadi korban kapitalisme.

Semoga ke depan, lahir tokoh-tokoh, utamanya dari kalangan santri, yang memiliki sikap, pemikiran dan keteladanan seperti Gus Dur. Sosok yang mampu ngemong kaum perempuan tanpa mendiktenya. Ia menjadi sosok humoris jika diperlukan, dan akan hadir menyelesaikan masalah-masalah sesuai porsinya, serta menjunjung tinggi hak-hak perempuan. Wallahu a’lam. [dutaislam.com/pin]

Arofatul Ulya, kader IPPNU Kecamatan Jati, alumnus MA NU Mu’allimat  Kudus dan kini sedang studi di Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) di Universitas Muria Kudus. Artikel ini tayang pertama kali di suaranahdlyin.com


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini