Rabu, 22 November 2017

Ketika Nabi Berdo'a Untuk Pesantren Sukorejo


Foto: Istimewa
Oleh KHR. Ahmad Azaim Ibrohimy

DutaIslam.Com - Suatu saat ketika saya mau mengundang Kiai Mas Badri Panji untuk ceramah di acara Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) Desa Mojosari. Beliau bercerita kepada saya bahwa ayahandanya (Kiai Mudhar) pernah disuruh Kiai As'ad untuk melakukan haji. Maka dengan usaha yang maksimal, akhirnya kiai Mudhar berangkat juga ke tanah suci.

Sesampai ke mekkah, Kiai Mudhar hanya bisa berdoa di kamar hotel, tidak bisa bertawaf, sebab ia sakit. Ketika semua jamaah haji melakukan thawaf, tiba tiba pintu kamar hotel terbuka dan terlihat Kiai As'ad tampak marah marah kepada Kiai Mudhar. "Ma'tak atawaf bekna cong, sela depak ka mekkah bekna (kok kamu tidak thawaf, cung. sudah sampai di Mekah kok)", bentak Kiai As'ad. Dengan menyeringai, Kiai Mudhar menjawab " Abdhina tak bisa ajhelen kyea, lompo, kadhi ponapa atawafa abdhina (saya tidak bisa berjalan kiai, bagaimana, apakah saya harus thawaf?".

Dengan wajah sumringah, kemudian Kiai As'ad menggandeng Kiai Mudhar sembari berkata "Iye mara bhereng engkok (Iya, bareng saya)". Hingga  kemudian sampai di pelataran ka'bah. Ketika itu Kiai Mudhar membatin, "kok bisa Kiai As'ad ada disini, padahal beliau yang menyuruh saya untuk haji, memangnya kapan dia berangkat".

Di pertengahan tawaf, tiba-tiba Kiai Mudhar melihat di sisi ka'bah ada kolam kecil yang berisikan air. Lalu Kiai As'ad menyuruhnya untuk mandi. Berselang setelah itu, ia merasakan sakitnya perlahan sembuh, yang awalnya lumpuh, menjadi sembuh dan tanpa dipapah lagi oleh Kiai As'ad. "Beres la cong, nah..mon la beres, ayo norok sengkok ka Madina, acabisa ka kanjeng Nabi (Sudah sembuh, cung. Nah, kalau sudah sembuh, ayo ikut saya ke Madinah. Sowan ke kanjeng Nabi)," ujar Kiai As'ad.

Dengan menaiki taxi, tibalah beliau berdua ke Madina. Kiai As'ad langsung memegang tangan Kiai Mudhar untuk masuk ke area Raudlah. Lagi-lagi Kiai Mudhar dikejutkan dengan terbukanya pintu makam Baginda Rasululullah. Dan sungguh hal yang sangat menakjubkan, Kiai Mudhar melihat sosok yang sangat super istimewa, kharismatik, tampan dan mulia serta bertabur nur, beliau adalah Baginda Nabi Muhammad SAW.

"Abdhina As'ad sareng ponakan ya Rasululullah, anyoona sambungan doa kaangghuy Ahlussunnah wal Jamaah, Nahdlatul Ulama' sareng salafiyah syafiiyah sokarajjhe (Saya As'ad bersama keponakan ya Rasulullah. Saya mau minta sambungan doa untuk Ahlussunnah wal Jama'ah, Nahdlatul Ulama dan Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo)," Kiai As'ad memulai pembicaraan. Subhanallah, terdengar suara dari jawaban  lisan insan mulia baginda Nabi " ijil, ijil, ijil". Terus terang saya canggung dan aneh dengan bahasa " ijil, ijil, ijil" itu apa.

Pagi harinya saya sendiri menghadap kepada ustad Zaini Miftah. Saya bertanya kepada beliau arti ijil. Jawaban ustad Zaini Miftah, "ijil" itu Bahasa Arab Ordo (bahasa arab pegunungan yang asli) yang artinya adalah : na'am, na'am, na'am (iya, iya, iya).

Subhanallah, saya menangis pada saat itu juga, NU SAMPAI MATI TARETAN. [dutaislam.com/pin]

KHR. Ahmad Azaim Ibrohimy, pengasuh IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini