Jumat, 06 Oktober 2017

Mencari Madzhab Kaligrafi Arab Pegon Islam Nusantara

Contoh khat Arab Pegon pada naskah kuno karya KH Rifa'i
Oleh M Abdullah Badri

DutaIslam.Com - Ada keindahan tersembunyi yang belum digali dari kekayaan khazanah Islam Nusantara. Diantaranya adalah kaligrafi Arab khas Nusantara, yang pada zaman dulu sempat menjadi aksara tulis masyarakat Jawa dan lebih popular digunakan daripada aksara Latin. Orang Jawa menyebut aksara itu sebagai huruf Pego atau Pegon.

Diakui atau tidak, cara menulis Arab menggunakan Pegon itu sudah memiliki ciri khas tersendiri sejak dari konsep huruf, titik hingga harakat. Menulis hurup "P" misalnya, Pegon menggunakan aksara Arab "Fa'" tapi dengan tambahan titik tiga di atasnya. Ini bid'ah Pegon yang digunakan massal waktu berjayanya, mengingat aksara Arab memang tidak ada "Fa" dengan titik tiga.

Hingga saat ini, jejak para ulama Nusantara yang menulis kitabnya menggunakan Pegon Jawa, Sunda, Melayu, Patani (Tahiland), Sasak, Banjar dan lainnya, masih bisa ditemukan dalam karya-karya mereka. Kebetulan saya menyimpan puluhan naskah karya ulama Nusantara yang masih orisinil menggunakan penulisan Pegon Arab.

Sayangnya, pasca rezim aksara Latin menggeser Pegon, tidak ada generasi yang mengajarkan sehingga bisa dijadikan kurikulum ajar yang terstruktur di pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya. Wajar jika unsur keindahan khat Arab Pegon tidak dipelajari secara akademis dan berstandar. Dunia sulit mengakui aksara Pegon Arab sebagai warisan Islam Nusantara karena minimnya kajian.

Ini berbeda dengan khat Maghribi. Meskipun tidak terlalu bagus menurut pandangan kita, khat Maghribi yang digunakan masyarakat Maghrib, yakni Maroko, Aljazair, Tunisia dan lainnya, mendapat pengakuan dunia internasional karena sudah menjadi "madrasah" tersendiri. Artinya, di Maghrib sana, kaligrafi sudah menjadi thariqah. Bahkan madzhab. Inilah syarat utama yang harus dipenuhi jika khat Arab Pegon khas Nusantara bisa dilombakan dalam festival kaligrafi tingkat dunia.

Untuk menjadi madzhab (aliran) khat, Pegon harus memiliki uslub (susunan kata) baku yang mampu melahirkan thariqah (metode khusus) kaligrafi di madrasah-madrasah kaligrafi di Indonesia. Uslub dalam kaligrafi artinya adalah cara menulis susunan huruf Arab sesuai karakter khat tertentu. Menulis "Muhammad" misalnya, antara khat riq'i, farisi, diwani, diwani jali, thuluts, maghribi, kufi, dan naskhi, bisa sangat beragam.

Jika uslub sudah ditemukan, lalu banyak para penulis khat (khattath) Pegon menggunakannya, dan diikuti oleh murid-muridnya sehingga sang khattath memiliki ciri khas yang membedakan dari khattath lainnya di suatu negara, maka baru muncul yang disebut thariqah khat Pegon.   

Tidak hanya cukup di situ. Dunia akan mengakui jika Pegon memiliki madzhab menulis khat tersendiri. Disebut madzhab jika muncul banyak thariqah khattath bermacam-macam di negara ini sehingga bisa memunculkan ciri khas umum antar penulis khat Pegon. Madzhab, dengan demikian bisa dikatakan sebagai aliran khat dari suatu bangsa atas tipografi khat.

Dan Indonesia, sangat bisa menggali potensi terpendam dalam jamalul hissi (keindahan intrinsik) khat Arab Pegon. Mengapa? Karena khat Arab Pegon muncul di negara yang mayoritas muslim walau dan tidak berbahasa Arab. Pegon muncul oleh faktor keimanan dan norma budaya serta politik.

Ulama dahulu menulis karyanya menggunakan khat Arab Pegon karena dekat dengan sumber utama keimanan, Al-Qur'an. Mereka juga ada yang terpaksa menulis tidak menggunakan aksara Latin karena faktor politik, misalnya KH Rifa'i (Batang) yang menggunakan Pegon agar pesan dakwah dan perjuangannya tidak bisa dipahami Belanda.

Walaupun jamalul hissi nya ulama kita tidak ada kaitan dengan tipografi tulisan Arab, namun sejarah penggunaannya akan menjadi kajian historis; mengapa Pegon harus ada dan apa saja unsur keindahannya sehingga popular digunakan masyarakat pada masa itu. 

Sayangnya, belum ada yang membedah semua permasalahan khat Pegon Arab seperti penulis sebut di atas. Para santri memang masih memakai Pegon untuk memaknai kitab kuning gundul, tapi kajian tentang tipografi khatnya, sebagaimana ada dalam buku berjudul Shon'atunal Khattiyyah (1993) karya Profesor Muhyiddin Sirin, belum ada terbit.

Kelemahan kita, para pagiat kaligrafi di Indonesia rata-rata bukan akademisi, yang bisa membedah metode menulis dan ciri khas khat Arab Pegon. Kampus pun tidak ada yang membuka jurusan kaligrafi. Jika pun ada, ia masuk dalam mata kuliah pengantar sastra Arab. Tidak ada doktor dan profesor kaligrafi dari Indonesia. Akibatnya, literatur kajian kaligrafi sangat miskin. Kalaupun ada buku kaligrafi Arab, itu masih didominasi buku-buku "how to" menulis khat yang sudah popular.

Kelemahan lain, para pegiat kaligrafi banyak yang tidak berijazah kepada guru hingga sanadnya menyambung hirarkis kepada Sayyidina Ali. Sanad ijazah kaligrafi hanya sampai ke Sahabat Ali karena Nabi Muhammad saw memiliki mukjizat tidak bisa menulis khat meski sangat cinta para penulis khat indah Al-Qur'an.

Dalam sistem ijazah, adab para khattath kepada guru juga sangat ketat dijaga. Mirip ajaran Kitab Ta’lim Muta’allim dan Thariqah. Seorang guru khath harus sesuai antara yang diucapkan dan yang dilaksanakan. Begitu ada seorang khattath yang merasa karyanya lebih baik dari orang lain, dia akan kena sangsi sosial (baca: www.dutaislam.com).

Seorang yang sudah mendapatkan ijazah lulus (mujaz) secara formal dia sudah boleh membubuhkan tandatangan dalam karya kaligrafinya. Tapi secara adab, banyak yang menunggu dawuh guru untuk menulis tandatangan itu. Konsep menulis layyinah (elastis) dalam khat sangat bisa diterapkan sebagai bahan ajar mengolah hati menjadi halus. Ini bisa menangkal radikalisme yang tidak kenal adab guru-murid.

Pegon, sejatinya adalah bagian dari naturalisasi tulisan Arab ke dalam bahasa daerah, bangsa-bangsa. Dalam sastra, Pegon disebut sebagai ilmu tipografi dan masuk dalam kajian khazanah budaya. Melihat situasi kajian akademisnya yang miskin, sepertinya kita perlu puluhan tahun untuk memasukkan khat Arab Pegon sebagai warisan Islam Nusantara, Indonesia. [dutaislam.com/ab]

Sumber:
Artikel ini dimuat di Buletin Aulawi Edisi 14 (6 Oktober 2017). Download versi mobile, klik: http://bit.ly/aulawi14

Keterangan:
Terimakasih kepada Ustadz Atho'illah dari Lembaga Sakal (Sekolah Kaligrafi) Jombang, yang memberikan inspirasi penulis dalam opini ini. 

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini