Minggu, 29 Oktober 2017

Jalan Dakwah Kiai Kampung

Ilustrasi/Istimewa
Oleh Anis Ilahi Wh

DutaIslam.Com - Sebagai seorang Kiai Kampung yang berdakwah di daerah pedalaman, ayah saya berinteraksi dengan banyak kalangan. Ada yang keras, ada yang lembut, ada yang justru lebih suka bercanda ria. Menanamkan Islam sungguh dilakukan dengan beragam cara, menantang kreativitas, penuh hikmah dan kesabaran yang luar biasa. Bagi kiai kampung, berdakwah adalah juga membuka ruang dialog yang humanis dengan beragam kalangan, termasuk dengan para Saudagar Cina pada waktu itu.

Seringkali saya lihat, ayah saya sangat ringan menyanjung sang Saudagar Cina: “Inilah salah satu  bangsa dari sedikit bangsa  yang disebut oleh Rasullulloh dalam  haditsnya, "Belajarlah hingga Negeri Cina”. Sang Saudagar biasanya juga  menyahut dengan kelakar  “Oleh karena itu, bukan Pak Kiai yang harus ngajari saya tetapi saya yang harus ngajari Pak Kiai. Nabi Muhammad kan tidak pernah menyebut Indonesia, Nusantara apalagi Jawa,” sahut Sang Saudagar sambil terkekeh.  

Dalam persahabatan yang hangat semacam itulah, terjadi diskusi tentang keyakinan dan agama. Meski saya melihat motivasi “mendakwahi”  pada diri ayah saya lebih dominan tetapi tidak ditampakkan. Keduanya penuh respek.

“Islam itu apa Pak Kiai,” tanya Sang Saudagar. “Ada 5 jalan yang bisa dicoba kalau mau menikmati indahnya Islam. Yang bagus  kelima jalan itu harus ditempuh bersama-sama, kalau tidak bisa ya dicoba satu-satu,” jawab ayah saya, yang  rupanya tahu benar sedang berhadapan dengan Saudagar ulung yang pasti pandai tawar menawar, hehe …. 

“Kalau harus berikrar, wah saya tidak sanggup Pak  Kiai takut kualat sama nenek moyang,” tanggap sang Saudagar setelah selesai mendengar penjelasan ayah saya tentang jalan pertama dalam berislam yaitu  bersyahadat.

“Kalau jalan pertama terlalu mahal, coba jalan kedua yaitu sholat,”  jawab ayah saya sambil menjelaskan apa itu sholat secara praktis dan sederhana. “Waduh berat itu Pak Kiai, subuh kepagian, saya biasa bangun tidur jam 7, duhur dan asar toko sedang ramai. Masa saya tinggal, rugi saya.  Ada jalan lain nggak?”.  “Ada jalan ketiga", maka ayah saya menjelaskan tentang puasa. “Waduh, berat juga Pak Kiai, saya tidak tahan lapar. Saya nyari uang untuk makan, masa makan dilarang, hehe …”, tanggap sang Saudagar sambil setengah bercanda.

“Ya sudah, ada jalan ke 5,  haji. Pasti berat bagi anda, ongkosnya mahal, kalau dicoba jalan keempat,  zakat bagaimana”, kata ayah saya sambil menjelaskan arti zakat, infak dan sodaqh. “Cari uang sulit-sulit, kok dibagi-bagikan ke orang lain Pak Kiai, Islam itu bagaimana ?”. “Begini …” Kata Ayah saya sabar menjelaskan “Dalam Islam, barang siapa mau memberi kaum fakir miskin  maka Tuhan akan mengganti 10 kali lipat”.  “Yang benar Pak Kyai, bisa untung 10 kali lipat” tanggap Sang Saudagar dengan antusias (memang betul-betul pedagang ulung, jadi maunya untung melulu, hehe ..). 

“Kalau mau coba silakan,  setiap hari Jum’at pagi anda sedekah berapa saja yang penting ikhlas dan niat karena Tuhan, pasti Tuhan akan membalas 10 kali lipat dalam kesempatan lain,“ jawab ayah saya.

Kesediaan sang Saudagar bersedekah tiap Jum’at pagi ternyata berdampak  positip  pada usaha dagangnya, omzetnya berlipat - untungnyapun juga berlipat – usahanya maju pesat. Sejalan dengan itu ada perubahan perilaku sang Saudaar, seperti  lebih menghargai para pembantu dan karyawannya, mudah iba dan memberi bantuan pada siapa saja yang minta tolong, sangat ringan kalau dimintai bantuan untuk masjid, sekolah, perbaikan kampung, dan sebagainya. 

Kalau tiba bulan Ramadhan, jamaah tarawih malam jum’at pasti lebih ramai dan antusias karena hari itu jadwal Sang saudagar mengirim “jaburan”  (makanan kecil) untuk santapan habis tarawih. “Jaburan”  yang dikirim Beliau sungguh luar biasa banyak dan enak-enak  sehingga  disenangi anak-anak kecil yang setia menunggu terawih 23 rekaat sampai akhir, meski sambil terkantuk-kantuk, termasuk saya, hehe ….

Kali lain, Ayah saya bercerita tentang kecerdikan Sang Saudagar bertanya tentang Islam. “Pak Kiai, di Islam menurut saya ada yang aneh?”. “Kenapa dan Apanya ?” tanya ayah saya. “Coba Pak Kiai lihat,  dalam ajaran wudlu/bersuci ketika mau sholat, yang kentut itu kan pantantnya kok yang dicuci bagian wajah?” Tanya Sang Saudagar. Sambil tersenyum ayah saya menjawab “Begini, kalau anda sedang di toko ada pembeli banyak, karyawan banyak, tamu banyak kemudian anda kentut, pasti yang tampak malu dan memerah itu wajahnya bukan pantatnya, kan? Makanya perlu disiram air biar dingin”.  Sang Saudagarpun terbawa terbahak-bahak …

Saya tidak tahu apakah Sang Saudagar kemudian mau menapaki jalan Islam yang pertama, kedua, ketiga dan kelima (Rukun Islam, secara lengkap). Saya pernah bertanya pada Ayah saya tentang ini, jawabannya “kewajiban pendakwah adalah mengenalkan Islam sesuai dengan sifat dan kemampuan orang yang akan didakwahi. Apakah kemudian Ia berislam atau tidak itu urusan Allah. Beda, kamu berislam karena orang tuamu Islam – Islam warisan, Islam sejak dalam kandungan. 

Sang Saudagar baru  mengenal Islam setelah mengenyam asam garam kehidupan. Ya, kita doakan semoga Allah memberi hidayah dan kasih sayang Nya”. Sebuah jalan dakwah yang indah, tanpa mengkafirkan, tanpa merasa benar sendiri, tanpa merasa superioritas dan tanpa merasa lebih penting dari Tuhan dan juga tanpa mengambil hak Tuhan.

Dengan tradisi dakwah Islam semacam di atas, saya agak jengah ketika melihat kecenderungan baru dakwah Islam yang sangat mendepankan perbedaan, mudah tersinggung, saling menyalahkan dan jauh dari suasana maidlotil khasanah. Salam. [dutaislam.com/gg]

Anis Ilahi Wh, Putra Kiai Kampung.
Tulisan ini dibuat dalam rangka memperingati Khaul ayahnya.

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini