Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Kurban dalam Perspektif Tasawwuf

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Jumat, 01 September 2017
    A- A+

    Oleh KH Muhammad Rusfi

    DutaIslam.Com - Bismillahirrahmanirrahim
    Allah SWT berfirman : ‘Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah'.

    Bagi orang yang bertasawuf, qurban tidak saja bermakna memotong seekor kambing yang terbaik, melainkan lebih jauh dari itu, yakni mengurbankan kecintaan kepada selain Allah SWT, khususnya kecintaan terhadap sesuatu yang mendominasi ruang hati ini, agar tauhid menjadi bersih, agar Allah mengkaruniai makna dari ‘Ahadiyah’ secara hakiki. 

    Sebagaimana kisah Nabiyullah Ibrahim,as., yang begitu lama mendambakkan seorang putra dan dengan khusyu melantunkan doa-doa. Setelah dikaruniai seorang putra yang bernama Ismail, membuat hatinya berpaling, yang tadinya hanya terisi Allah SWT mulai berbagi, oleh karenanya Allah memerintahkan menyembelih putra tersayang ini, agar hatinya kembali murni, hanya mencintai Allah SWT saja. 

    Nah, orang-orang yang mengikuti hakikat kisah ini, dengan jalan memerangi hawa nafsunya (mujahadah) pada setiap kesempatan, dalam istilah tasawuf disebut mutashowif. Oleh karenanya tidaklah berlebihan jika hari ini dapat juga dikatakan sebagai hari raya-nya para muthasowif.

    Seorang salik bertanya kepada salik yang lain : ‘Kita sudah cukup lama mengikuti pengajian disini, apakah engkau merasakan sesuatu?’ ‘Ya’ jawab salik yang lain, ‘Aku merasa semakin tidak ada kemajuan dalam jerih payahku ini, jika dipuji aku merasa senang dan jika dikritik merasa tersinggung, dahulu pun sebelum mengaji aku merasakan hal yang sama.’ 

    Dialog ini sungguh apik, seorang salik yang gigih dalam menjalankan pekerjaan tarekat lebih dari sepuluh tahun lamanya berkata seperti itu. Sepintas tampak sama keadaan sang salik sebelum dan sesudah mengikuti pengajian, padahal tidaklah demikian. 

    ‘Kesadaran’ yang diperoleh bahwa dirinya merasa senang jika dipuji dan sebaliknya merasa tersinggung jika dikritik adalah karunia dari Allah yang sungguh besar. Tentunya diperoleh setelah berjuang dalam jangka waktu yang lama melawan keinginan diri dengan sekuat tenaga dan menjalankan dawamudz dzikri dan dawamun ubudiyah, melalui kaifiat-kaifiat yang benar sesuai dengan bimbingan syaiknya, lalu jujur terhadap dirinya sendiri adalah pintu gerbang ma’rifat. 

    Melihat dirinya semakin tidak berarti, adalah kemajuan yang luar biasa dalam menempuh jalan keruhanian, sebaliknya merasa dirinya hebat dan menunjukkan kepada orang lain dengan prilaku yang menjijikkan, bahwa ‘Aku’ adalah orang yang paling berbakat, ‘Aku’ adalah orang yang duduk disebelah kanan Syaikh, ‘Aku’ adalah yang memberikan tausyiah, ‘Aku’ yang memimpin pembacaan Asma ul Husna, ‘Aku’ yang duduk dekat pintu rubat Syaikh, ‘Aku’ yang memimpin doa, 'Aku' yang bertopi biru .. dan Aku .. Aku dan Aku, adalah sungguh memilukan hati. 

    Semakin banyak ‘Aku’ maka semakin buruk pula tingkat keruhaniannya. ‘Aku’ adalah tebu dan fananya ‘Aku’ adalah gula, untuk membuat teh menjadi manis tidak perlu tebu melainkan gula. Seorang salik yang gagal dalam bertasawuf adalah tebu, sedangkan ia yang telah berhasil mengalahkan keakuan adalah gula. Mencuri hati seorang Syaikh dengan melanggar perintahnya untuk kepetingan dirinya adalah pencuri sejati, sedangkan taat kepada perintah Syaikh untuk menghalangi sahabat yang lain berdekat dengan Syaikhnya, adalah perampok. 

    Tidak disadari, orang-orang yang demikian, meskipun secara lahiriyah berdekat dengan Syaikh, tetapi malah mengalami kemunduran yang luar biasa, karena egonya berkibar terus menerus. Sebagaimana ‘Yudas’ yang selalu mengikuti Nabiyullah Isa,as., namun ditakdirkan berkhianat, naudzubillah min dzalik. Karena sungguh jelas bahwa Syaikhuna (semoga Allah merahmatinya) selalu membimbing murid-muridnya untuk selalu berperang melawan hawa nafsunya, mengalahkan egonya, artinya harus mengurbankan kepentingan dirinya demi kepentingan orang lain, guna kepentingan sahabatnya bukan dirinya! Inilah salah satu makna qurban bila diaplikasikan kepada kehidupan bertasawuf.

    Kisah diatas juga pernah terjadi dalam lingkungan tarekat maulawiyah, sebagaimana yang dikisahkan oleh Hadrat Maulana Jalaluddin Rumi,r.a, yang dikisahkan secara elok dalam kitab mastnawi yang masyhur itu. Kisah itu bercerita tentang seekor keledai yang dikandangkan bersama seekor onta, keledai itu berkata : ‘Kepalaku selalu menunduk kebawah, kendati demikian, aku masih selalu jatuh. 

    Sementara kepalamu tegak, dan pandanganmu lurus serta melihat keatas, tetapi engkau tidak pernah jatuh, apa sebabnya? Sang onta menjawab : ‘Dengan kepalaku tegak dan lurus aku bisa melihat jauh. Kalau ada lubang, aku bisa menghindarinya.’Mendengar itu si keledai menangis, ‘Bimbinglah aku, tunjukkan kepadaku jalan yang lurus, sehingga aku tidak jatuh lagi.’ Sang onta menjawab : ‘Dengan mengakui kelemahan diri, kamu sudah terselamatkan. Berbahagialah sekarang, karena kamu sudah terbebaskan dari sesuatu yang jahat.’

    Terbebaskan dari sesuatu yang jahat, apa gerangan yang jahat itu? Yakni keakuan atau ego! Tujuan utama bertasawuf adalah mengalahkan keakuan atau ego, hal ini tidak boleh terlupakan oleh para salik, bukan malah membangunnya. Sebagaimana sebuah hadis yang mengatakan bahwa : 'Man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu, barang siapa mengenal dirinya (nafs-nya atau ego-nya), maka ia mengenal Tuhannya.' 

    Bagi orang yang belum pernah mengalami manfaat berdekat dengan seorang syaikh, kisah diatas terdengar absurb, sedangkan bagi orang yang tercerahkan akan mempercayainya. Dalam kisah itu, baik keledai maupun onta tidak memiliki ‘free will’ atau kehendak bebas. Allah yang berkehendak mengandangkan secara bersama-sama antara onta dengan keledai, meskipun ada sekian banyak onta dan keledai ditempat lain. 

    Keledai yang beruntung itu memperoleh ‘Kesadaran’ lantaran ia berdekat dengan onta, oleh sebab itu sungguh merupakan kerugian yang besar bilamana ada keledai atau makhluk yang lain yang berdekat dengan onta, namun tidak memperoleh kesadaran. Mursyid kita tercinta, (semoga Allah merahmatinya) telah menyampaikan begitu banyak wejangan kepada sekian banyak muridnya, lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa tidak semua murid mampu memahaminya? Lalu sudah sekian banyak murid yang hidup bersama-sama dengan Syaikh, lalu mengapa mereka tidak memperoleh kesadaran? Seorang mursyid bagaikan onta dan murid bagai keledai yang kelelahan memikul beban berat keinginan dan keterikatan tanpa ia menyadarinya.

    Oleh karena itu bila Allah SWT menakdirkan seorang salik dapat berdekat dengan syaikh, maka gunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya guna memerangi egonya, menekan kepentingan dirinya, sebab disaat itu ada 'nuurun ala nuur' yang membias kedalam dada sang salik dan membantunya untuk berperang.

    Kesadaran itu bagaikan mutiara, yang berada jauh didalam lautan yang dalam dan tertutup rapat oleh tiram. Tidaklah mungkin orang yang hanya bersantai di pantai akan memperolehnya, melainkan mesti berjuang dengan gigih dan bermodalkan ilmu. Seorang syaikh sufi mengatakan bahwa 'mereka yang mencari akan menemukan'. Oleh karenanya, tanpa seorang pemandu mustahil mutiara itu dapat ditemukan. Tentunya seorang pemandu yang pernah menemukan mutiara dimaksud, bukan pemandu yang hanya pandai membaca buku. 

    Seorang pejalan (mutashowif) mesti mengambil pelajaran dari sebuah tiram, meskipun ia hidup dilautan, tidaklah perlu serakah mengambil begitu banyak air, melainkan dengan mengambil setetes air dan memanfaatkannya dengan benar, maka berubahlah pasir didalam perut menjadi mutiara. 

    Tidak perlu merampok waktu dari Mursyid (semoga Allah merahmatinya), tidak perlu mengajak beliau kesana kemari, tidak perlu menelpon berlama-lama, akan tetapi dengan patuh dan hurmat karena cinta, yakni dengan gigih menyelam pada setiap malam kedalam lima atau tujuh lathifah yang berada disekitar dada dan kepala, lalu menaklukan berbagai keinginan (keserakahan) dan keterikatan (kebanggaan), insya Allah seorang murid akan menemukan mutiara yang tidak ternilai harganya itu, yakni keasadaran. Tidaklah heran jika pada suatu ketika Syaikh Waasi Ahmad Syaikhudin (semoga Allah merahmatinya) berkata bahwa : 'Tasawuf adalah kesadaran.'

    Mari para sahabat, qurbakanlah keserakahan dan kebanggaan kita demi sebuah kesadaran.
    Demikian semoga Allah mengasihi kita semua, Amiin Yaa Allah Yaa Rabbal Alamiin.
    SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1438 H. [dutaislam.com/gg]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: