Jumat, 04 Agustus 2017

Tahlilan Populer Di Makkah Dan Madinah Sebelum Datangnya Wahabi

Foto: nu online 
DutaIslam.Com - Al-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu pengarang kitab tafsir Jalalain) didalam al-Hawi lil-Fatawi menceritakan bahwa kegiatan ‘tahlilan’ berupa memberikan sodaqoh makan selama 7 hari setelah kematian merupakan amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh umat Islam di Makkah maupun Madinah. Hal itu berlangsung hingga masa beliau:

ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ، ﺑﻠﻐﻨﻲ ﺃﻧﻬﺎﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ ﺑﻤﻜﺔﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ، ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺃﻧﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﻋﻬﺪ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻵﻥ، ﻭﺃﻧﻬﻢﺃﺧﺬﻭﻫﺎ 
ﺧﻠﻔﺎ ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻷﻭﻝ

“Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari,telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. 
[al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi]

Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi:

ﺃﻥ ﺳﻨﺔ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﺳﺒﻌﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﺑﻠﻐﻨﻲ ﻭ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﺃﻧﻬﺎ ﻣﺴﺘﻤﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﺑﻤﻜﺔ ﻭﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﻨﺔ 1947 ﻡ ﺇﻟﻰ ﺍﻥ ﺭﺟﻌﺖ ﺇﻟﻰ ﺇﻧﺪﻭﻧﻴﺴﻴﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ 1958 ﻡ. ﻓﺎﻟﻈﺎﻫﺮ ﺍﻧﻬﺎ ﻟﻢ ﺗﺘﺮﻙ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻷﻥ ﻭﺃﻧﻬﻢ ﺃﺧﺬﻭﻫﺎ ﺧﻠﻔﺎً ﻋﻦ ﺳﻠﻒ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺼﺪﺭ ﺍﻹﻭﻝ. ﺍﻩ . 

ﻭﻫﺬﺍ ﻧﻘﻠﻨﺎﻫﺎ ﻣﻦ ﻗﻮﻝ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ ﺑﺘﺼﺮﻑٍ . ﻭﻗﺎﻝ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺍﻟﺴﻴﻮﻃﻰ : ﻭﺷﺮﻉ ﺍﻹﻃﻌﺎﻡ ﻹﻧﻪ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ ﻟﻪ ﺫﻧﺐ ﻳﺤﺘﺎﺝ ﻣﺎ ﻳﻜﻔﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﺔٍ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ ﻓﻜﺎﻥ ﻓﻰ ﺍﻟﺼﺪﻗﺔِ ﻣﻌﻮﻧﺔٌ ﻟﻪُ ﻋﻠﻰ ﺗﺨﻔﻴﻒ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ ﻟﻴﺨﻔﻒ ﻋﻨﻪ ﻫﻮﻝ ﺍﻟﺴﺆﻝ ﻭﺻﻌﻮﺑﺔ ﺧﻄﺎﺏ ﺍﻟﻤﻠﻜﻴﻦ ﻭﺇﻏﻼﻇﻬﻤﺎ ﻭ ﺍﻧﺘﻬﺎﺭﻫﻤﺎ 

“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M.

Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam.

Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata:

“Disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebengisannya dan gertakannya”.

[Kasyful Astaar lil-‘Allamah al-Jalil Muhammad Nural-Buqir, beliau merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh Hasan al- Yamani, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al- Kutubi, Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki, Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath dan Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani]

Istilah 7 hari sendiri didasarkan pada riwayat shahih dari Thawus yang mana sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat tersebut juga atas taqrir dari Rasulullah, sebagian juga mengatakan hanya dilakukan oleh para sahabat dan tidak sampai pada masa Rasulullah. Wallahu A'lam bis Shawab. [dutaislam.com/ed].

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini