Selasa, 01 Agustus 2017

Mufaraqahnya Kiai NU Pasca Muktamar 2015 Bukan Untuk Berpisah, Tapi Perintah

KH Azaim Ibrahimy
DutaIslam.Com - Untuk merawat kebencian kepada pemimpin tertinggi NU, gerakan yang selama ini suka menebar ancaman perang, lagi-lagi menyembulkan isu lama soal mufaraqah nya beberapa Kiai NU pasca terpilihnya KH Said Aqil Siraj. Berita tahun 2015 diulang untuk disebarkan pada tahun 2017 ini. Entah tujuannya apa, yang pasti hal itu sangat merugikan warga NU yang memang beberapa tahun bekalang sering jadi sasaran empuk fitnah.

Jelang masuknya Bulan Ramadhan 1438 H lalu, seorang santri alumnus Pondok Pesantren Situbondo, murid Gus Azaim Ibrahimy silaturrahim ke markas Dutaislam.com di Jepara. Ia menyatakan, mufaraqahnya Kiai Azaim yang untuk memecah belah NU adalah sangkaan tidak benar. Santri asal Jawa Tengah yang tidak mau disebutkan namanya itu memastikan kesimpulan tersebut karena dia adalah salah satu saksi (punya tugas khusus) saat acara "pembacaan mufaraqah" di pondoknya berlangsung.

Menurutnya, Kiai Azaim Ibrahimy awalnya tidak punya rencana untuk menyatakan mufaraqah. Cerita yang diterima redaksi Dutaislam.com darinya menyebutkan kalau Kiai Azaim hanya menerima kedatangan para ulama yang kala itu sengaja ke ponpes warisan pahlawan nasional, KH As'ad Syamsul Arifin itu karena bagian dari jejak sejarah berdirinya NU yang masuk bagian dari program napak tilas NU pasca Muktamar NU 2015.

Tidak ada tanda-tanda akan ada rencana pembacaan mufaraqah dari Kiai Azaim. Santri sumber Dutaislam.com yang kebetulan jadi panitia acara tidak diberitahu adanya "mufaraqah" karena forum silaturrahim tersebut memang tidak ada rencana begituan, yang terbukti di kemudian dipelintir hingga sekarang.

Kiai Azaim, ceritanya, waktu acara, sempat menghilang beberapa saat. Saat kembali, beliau membawa selembar catatan yang kemudian dibacakan dalam forum. Para santri, hadirin yang tidak mengerti apa-apa pun juga merasa heran atas apa yang dinyatakan secara "sepihak" oleh cucu KH As'ad tersebut. Kata sang santri sumber keterangan ini, Kiai Azaim tidak menginisiasi sendiri.

Cerita yang dituturkan olehnya kepada Dutaislam.com, Kiai Azaim sempat ditemui yaqadhatan (secara nyata) oleh pendiri pondok, KH As'ad Syamsul Arifin dan mendapatkan perintah mufaraqah. Tujuannya adalah menyelematkan NU dari pihak-pihak yang berkepentingan dan ingin memanfaatkan Situbondo sebagai bolokonco menentang Ketum terpilih PBNU, KH Said Aqil Siraj.

Jadi, mufaraqahnya Kiai Azaim bukan untuk berpisah laiknya mufaraqahnya suami dari istri. Mufaraqahnya Kiai Azaim adalah untuk menghindari persetruan orang-orang (terutama politisi) yang ingin memanfaatkan para sesepuh NU lebih sengit berseteru di ruang publik. Buktinya, walau menyatakan mufaraqah, Kiai Azaim hingga kini masih bersedia berjuang membantu warga NU dan acara-acara NU yang ada di daerah.

Dan, meskipun mufaraqah, Kiai Azaim tidak lalu mendukung pihak yang kalah Muktamar. Padahal, itu sangat diharapkan oleh kelompok yang datang sowan ke Situbondo dalam acara tersebut. Kata sang santri, orang-orang yang datang mencari dukungan terlihat lumayan kecewa atas pernyataan tersebut. Mufaraqahnya Kiai Azaim ternyata untuk bersikap netral dan menjauhkan dari mafsadah yang bisa jadi berkelanjutan.

Apa yang dilakukan oleh Kiai Azaim mengingatkan kisah "Cara Kiai As'ad Situbondo Selamatkan NU di Muktamar 1984", dimana NU saat itu, dalam istikharah beliau, digambarkan dalam posisi "tiang benderanya yang bergoyang keras", mirip situsasi sekarang. Kiai As'ad dulu juga sempat Memusuhi Gus Dur


KH Azaim Ibrahimy (dua dari kiri) bersama Rais Syuriah PBNU, KH Ma'ruf Amin dan Gus Sholah
Kelihatannya mufaraqah (berpisah), tapi hakikatnya musallimah (menyelamatkan). Itulah yang dilakukan Kiai Azaim, cucu beliau juga pasca Muktamar 2015. Entah yang lain, Redaksi Dutaislam.com belum mendapatkan keterangan kecuali hanya ikut-ikutan. [dutaislam.com/ab]

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini