Dutaislam.com mengapresiasi batalnya Permendikbud 23/2017 dan Mengutuk Keras Situs Adudomba Milik Kader Muhammadiyah Sangpencerah.id!

  • Kesan Almaghfurlah KH. Abdul Aziz Mansyur Tentang Kakeknya KH. Abdul Karim

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 19 Agustus 2017
    A- A+


    DutaIslam.Com - Saat masih kecil pada suatu hari saya diajak oleh ibu ke Lirboyo. Lantas biasanya saudara-saudara saya Kiai Idris, Kiai Anwar, Kiai Maksum dan lainnya berkumpul sambil bermain bersama hingga kami tertidur di tempat tidurnya Mbah Kiai Manab. Mbah Kiai Manab tidurnya di atas amben yang terbuat dari bambu dengan kasurnya yang jelek dan sangat tipis.

    Saat semua tertidur di situ Mbah Kiai Manab sedang mengaji di masjid biasanya beliau baru pulang dari masjid jam 24.00 WIB. Saya teringat saat beliau masuk rumah menutup pintu sampai terdengar suara jegrek, begitu mendengar suara itu saya terbangun, Mbah Manab bertanya,

    "lho le, kok durung turu" (lho nak kok belum tidur). "Nggih Mbah, kebribrenan jenengan ngilep lawang" (Iya Mbah, saya kaget mendengar pintu ditutup), jawab saya.
    "wes, turu o maneh" (sudah tidur lagi), perintah Mbah Manab.

    Sebelum memejamkan mata saya lihat ternyata beliau tidak langsung tidur melainkan pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. Saya menyangka setelah itu beliau akan tidur, akan tetapi setelah saya bangun dari tidur ternyata beliau masih sholat malam. Lama sekali beliau sholat, saya tidur lagi lantas bangun lagi, saya lihat Mbah Kiai masih saja sholat malam hingga menjelang Subuh. 

    Lalu beliau ketiduran di tempat itu sambil duduk kira-kira 15 menit sampai setengah jam lamanya itu. Sudah menjadi kebiasaan beliau setiap harinya. Oleh karena itu seringkali saya bertanya kepada Ibu:

    "Mak, mak, embah niku lak bengi kok mboten nate sare. Nopo mboten ngantuk?" (Bu, bu, kakek itu kalau malam kok tidak pernah tidur malam, apa tidak mengantuk).

    Ibu saya menjawab: "Yo iku le, mbah mu rumongso dititipi anake wong pirang-pirang. Dunga neng Gusti Allah, njaluk supoyo anak seng dititipne dadi wong seng apik-apik", ( ya itulah Nak, kakekmu itu merasa dititipi putra-putranya orang lain beliau memohon kepada Allah agar santri yang dititipkan itu menjadi manusia yang berguna), hanya itu jawab ibu saya. [dutaislam.com/gg]

    Diceritakan oleh Gus Muwafiq

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: