Selasa, 25 Juli 2017

Islam Madzhab Medsos, Apa Masalahnya?

Foto: en.wikipedia.org
Oleh Komaruddin Hidayat

DutaIslam.Com - Dalam diskusi teologi Islam muncul perdebatan klasik terhadap sebuah pertanyaan, apakah manusia memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan tindakannya sendiri, ataukah nasib manusia semata wayang yang digerakkan Sang Dalang yaitu Tuhan ? Kedua kutup itu masing-masing memiliki rujukan teks Alqur'an. Lalu muncul pendapat di antara keduanya, bahwa manusia memiliki kebebasan namun tetap dalam keterbatasan di bawah kekuasaan dan kehendak Tuhan.

Ketiga mazhab teologi itu merupakan produk tafsir dan penalaran manusia atas teks Alqur'an yang kemudian berkembang dalam sejarah dan masing-masing memiliki pengikut. Berjilid-jilid kitab klasik membahas perdebatan itu.  Menjadi masalah sosial ketika perbedaan tafsir itu lalu berkembang menjadi semacam ideologi yang mematikan tradisi dialog kritis dan menimbulkan perpecahan dan percekcokan sesama umat Islam.

Perbedaan tafsir yang melahirkan perbedaan mazhab itu juga terjadi dalam pemikiran hukum Islam (fiqih) dan pemikiran politik. Misalnya, adakah Islam mewajibkan membentuk negara Islam, ataukah yang primer itu bergerak pada tataran kemasyarakatan? Adakah membentuk sistim demokrasi sejalan dengan Islam, ataukah mewajibkan sistim kekhalifahan, itu semua merupakan tafsir dan produk sejarah sepeninggal Rasulullah. Karena merupakan hasil ijtihad para ulama dan sarjana Islam, maka sulit ditemukan kata sepakat mengingat masing-masing pemikir punya argumen serta tumbuh dalam konteks sosial yang berbeda.

Tantangannya berbeda, bacaan buku-bukunya berbeda, dan lingkungan sosial, politik dan ekonominya juga berbeda. Namun para pemikir kenegaraan memandang bahwa model kekhalifahan itu sudah berakhir. Sebatas wacana sah-sah saja, tetapi pada tataran implementasi sangat sulit dilaksanakan. Kecuali ketika jumlah ummat Islam sendikit dan belum muncul negara bangsa (nation state).

Ustadz Google
Mazhab artinya jalan yang mengantarkan pada tujuan. Dalam konteks pemikiran keagamaan, mazhab (school of thought) berarti sebuah metode yang dirumuskan oleh ulama atau pemikir ahli dalam rangka membantu umat beragama untuk mendekati dan meraih pemahaman Islam yang benar dan mudah yang bersumber pada Alqur'an dan Sunnah Rasul. Ibarat Alqur'an dan Sunnah Rasul itu mata air, maka mazhab adalah jalan menuju ke sana, untuk membantu ummat mendekati ajaran agama secara benar.  Ulama ahli itu merumuskan metodenya setelah mendalami isi al-Qur'an dan Hadis secara mendalam, disertai argumen yang sistimatis untuk mendukung pemikirannya.

Dengan demikian, orang yang setuju ataupun yang menolak bisa mengikuti argumen yang dibangun dengan jalan membaca karya-karya tulis mereka. Mazhab itu sangat diperlukan agar orang awam yang tidak ahli agama mendapatkan bimbingan dan jalan yang mudah untuk memahami Islam. Bayangkan saja, bagi masyarakat awam, begitu membuka al-Qur'an dan tafsirnya,  pasti tidak mudah menangkap pesan al-Qur'an yang kadang terkesan paradoksal antara statemen ayat yang satu dengan yang lain, misalnya mengenai kebebasan manusia. Bahkan untuk menentukan awal Ramadhan saja terdapat mazhab hisab dan rukyat.

Sekarang ini muncul mazhab baru dalam memahami Islam, yaitu Mazhab Medsos. Sebuah jalan dan pembelajaran agama yang didapat dengan mudah, tanpa harus membaca kitab tebal-tebal serta beguru lama-lama pada kIai, melainkan cukup memiliki handphone yang memiliki aplikasi facebook (FB), WhatsApp (WA), Twitter, Instagram, Google, dan aplikasi lain yang berbasis internet. Muncul sebuah jargon baru: Anda bertanya, Ustadz Google menjawab. Baik untuk berdakwah maupun untuk mempelajari agama, cukup lewat WA atau FB, di sana bertebaran informasi agama. Bahkan mereka sering terlibat perdebatan dengan modal pengetahuan yang diperoleh melalui copas dan forward yang beredar di medos, terutama WA.

Apakah kelebihan dan kelemahan mazhab medos? Pertama, istilah mazhab medsos sendiri pasti mengundang pro-kontra. Kedua, bagi yang serius ingin melakukan riset kepustakaan, maka medsos menyediakan fasilitas untuk mengakses sumber informasi keilmuan yang amat kaya, seperti e-book atau e-journal  sehingga perangkat handphone bisa berfungsi sebagai mobile-ibrary. Ratusan ribu judul buku agama yang klasik dan kontemporer tersedia semuanya.

Ketiga, bagi mereka yang tidak sempat atau malas membaca buku, maka medsos menyajikan sekian banyak penggalan-penggalan informasi keagamaan, ibarat makanan cepat saji yang siap disantap. Keempat, wacana keagamaan di medsos bersifat sangat egaliter, siapapun bisa memberi taushiyah, berbantahan, bahkan sampai pada sikap mencaci dan mengkafirkan jika tidak sependapat. Pembaca tidak tahu kualifikasi dan orisinalitas pendapat keagamaan yang di-posting, apakah itu sekedar forward dan copas, hasil baca buku, atau sekedar iseng. Atau sengaja ingin menciptakan perdebatan kontroversial.

Kelima, perdebatan emosional, sampai pada taraf caci maki, mudah muncul ketika paham keagamaan dikaitkan dengan sikap dan pilihan politik serta menyangkut isu mazhab dan keyakinan di luar mainstream, misalnya Syi'ah dan Ahmadiyah. Peristiwa Pilkada DKI yang belum lama berlalu memberikan contoh dan temuan nyata bahwa paham keagamaan dan sikap politik saling berkaitan. Namun, yang menonjol adalah sikap emosional like or dislike, bukan perdebatan argumentatif ilmiah layaknya perdebatan dalam mazhab tradisional. Sikap emosional cenderung menolak berpikir panjang dan detail, melainkan langsung pada kesimpulan setuju atau tidak setuju. Jadi, siapapun yang bergabung dalam komunitas mazhab medsos sebaiknya bisa mengendalikan emosinya.

Eklektik dan Fragmentatif
Lontaran pemikiran dalam medsos biasanya fragmentatif, karena keterbatasan ruang. Kalaupun panjang orang enggan membacanya, terlebih mereka yang sibuk, tidak tertarik mengikuti argumen yang njlimet, detail. Makanya mazhab medsos pemikirannya bersifat eklektik, campuran dari berbagai tulisan orang, sambung menyambung, tidak solid dan kadang tidak sistimatis. Terserah pembaca untuk memilih, menimbang dan memutuskan sendiri, tak ada hubungan guru-murid secara langsung. Tak ada tokoh utama yang memimpin wacana publik dalam medsos.

Bahkan orangpun bisa memalsukan identitas aslinya. Atau namanya dibajak. Makanya, setiap netizen yang bergabung dalam pemikiran Islam mazhab medsos, dalam waktu yang sama bisa berperan sebagai guru atau murid. Jika tidak setuju bebas keluar dari jamaah netizen atau membantahnya, sejak dengan kalimat yang cerdas, halus, sopan sampai yang terkesan sarkastik.

Perkembangan sosial ke depan, komunitas Islam mazhab medsos diperkirakan akan semakin membesar terutama ketika bulan pilkada atau pemilu tiba, dan lebih seru serta heboh manakala para politisi mengkapitalisasi issu agama untuk mendukung salah satu paslonnya dengan menggunakan sarana medsos sebagai ajang promosi dan kampanye, apakah kampanye putih, abu-abu atau hitam.

Kita lihat saja nanti, apakah prediksi ini sahih atau meleset. Namun saya kira, dan berharap, semakin cerdas dan dewasa masyarakat, ke depan Islam Mazhab Medsos kualitasnya akan meningkat dan terjadi seleksi alamiah. Yang tidak bermutu tidak akan laku dalam pasar bebas (free market). [dutaislam.com/gg]

Komaruddin Hidayat, 
Yayasan Pendidikan Madania Indonesia.


Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini