Minggu, 04 Juni 2017

[Kebelet Nafsu] Dituduh Liberal, Nama AFI Banyuwangi Pun Disesatkan Maknanya


Oleh Aba Hadzifa

DutaIslam.Com - Ada-ada saja cara orang-orang suka belajar bagaimana cara perang bersaudara ke Timur Tengah itu menjajah pikiran dan opini umat Islam Indonesia. Seorang bernama Nisa Ummu Abdurrahman (Nisa, ibunya Abdurrahman), menulis status di akun Facebooknya secara ngawur dan seenak perut soal makna nama AFI.

Nisa yang mengaku sebagai lulusan Universitas Muhammad bin Al Saud Jakarta (hmm, sudah tahu kemana kiblat kampusnya!) menulis bahwa nama Asa Firda Inayah, lalu dijadikan akronim jadi AFI dan ditambahi dengan Nihaya Faradisa, ternyata dibuat main-main opini bahasa oleh Nisa.

Menurutnya, AFI Nihaya Faradisa artinya adalah "Apakah di Hari Akhir ada Syurga". Hahaha. Dia sangat lihai mretheli kalimat hingga akhirnya bermakna sedungu itu. Ia pethil-pethil, dipecah-pecah jadi tiga; 1). A fi? (أ في /Apakah ada?), 2). Nihayah: hari akhir, 3). Faradisa: surga. Jadilah makna nama bocah asal Banyuwangi itu terkesan tidak percaya surga, lalu dituduh liberal (kok tidak sekalian atheis yah).

Nisa, jebolan kampus wahabi Jakarta itu akhirnya menulis kesimpulan semprul, "Ini berarti menyimpang dari akidah Islam". Puas deh, dia yang sarjana ternyata bisa membully anak usia SMA sejak dari nama yang dipunya, nama pena yang dipilih oleh korban "jajahan opini" dari Nisa itu, yakni Afi, panggilan seharian Asa Firda Inayah yang moncer dengan tulisannya berjudul "Warisan" itu. Kita urai satu-satu.

Ini status Nisa Ummu Abdurrahman


Kata Per Kata
Pertama, kata AFI, ditransliterasikan oleh Nisa ke Arab dengan "أ" (apakah) dan "في" (di dalam). Dia menunjukkan makna itu seakan sedang belajar muqaddimah Bahasa Arab tingkat ula (dasar) yang suka mempretheli huruf per huruf. Buat apa? Ya tentu agar kasatuan makna AFI bisa sesuai kehendaknya.

Nisa tidak memilih transliterasinya ke "عا فى" yang artinya "pemberi maaf". Keduanya, antara "أ في" dan "عا فى" memiliki bunyi yang sama jika diucapkan dalam Bahasa Indonesia. Tapi Nisa lebih memilih yang pakai awalan huruf "أ" daripada "ع", yang artinya sangat jauh.

Kedua, Nisa yang pastinya ahli bahasa Arab (entah benar atau tidak), memilih makna Nihayah dengan hari kiamat. Padahal, makna tekstualnya, jika diterjemahkan, artinya adalah "pungkasan". Kamus Munjid menulis uraian tentang kata Nihayah yang berasal dari kata "نهى" (mencegah) artinya adalah غا ية الشيئ و أ خره / puncak sesuatu atau akhir darinya. (Lihat Kamus Munjid, hlm. 843).

"Akhir dari sesuatu", akhirnya dimaknai dengan "kiamat" oleh Nisa. Nisa sengaja memilih makna "نها ية" dengan makna kiamat karena setelah kata itu, di barisan nama AFI, ada kata Faradisa, yang ia maknai dengan surga. Padahal, jika Anda merujuk ke Qur'an, nama-nama Hari Kiamat tidak pernah disebutkan dengan kata Nihayah babar blas. Bid'ah itu!

Ini nama-nama hari kiamat yang ada dalam Al-Qur'an: Yaumul Qiyamah (hari kiamat), Rajifah (hari lindu besar), Sa'iqah (hari keguncangan), Zalzalah (yaitu hari keguncangan atau keruntuhan), Haqqah (hari kepastian), Qariah (hari keributan), Yaumil Akhir (hari akhir), Tammah (hari bencana agung), Asir (hari sulit), Yaumu La Raiba Fihi (hari yang tidak ada lagi keraguan padanya), Ba'ast (hari kebangkitan),

Yaumul Mahsyar (hari berkumpul), Yaumud Din (hari keputusan), Talaq (hari pertemuan), Jaza (hari pembalasan), 'Ard (hari pertontonan/ pertunjukan), Gasyiyah (hari pembalasan), Khulud (hari keabadian), Barzah (hari penantian), Hisab (hari perhitungan), Waid (hari ancaman), Yaumul Haq (hari kebenaran).

Taghabun (hari terbukanya segala keguncangan), Nusyur (hari penggiringan/kebangkitan), Tanad (hari panggilan), Mizan (hari pertimbangan), Yaumu La Tajzi Nafsun an Nafsin Syaian (hari yang tidak dapat seseorang diberi ganjaran oleh liyan), Jamak (hari pengumpulan), Fashl (hari pemisah) dan Waqi'ah (hari kejatuhan).

Kalau Nisa tidak memaknai Nihayah dengan kiamat, ia akan bingung memberi makna Faradisa. Padahal, makna Nihayah itu bisa diartikan dengan "puncak", "klimaks", atau dalam bahasa Jawa "menthog". Bukan mentok saudara bebek goreng yah!

Nama Kitab Nihayatus Zain juga tidak bisa dipakai maknanya dengan "Kiamatnya Kang Zain". Malah lucu kan artinya. Nihayatus Zain, artinya ya puncak keindahan (perhiasan). Nihayah, dengan demikian, adalah puncak segala proses. Menthog, paling jozz, paling oke, atau paling gagal. Pokoknya menthog! Ini soal rasa juga. Yang tahu kementhogan sebuah proses kan yang memilikinya. Itulah sebabnya, ada yang memaknai Nihayah dengan puncak rasa, hati. Namun oleh Nisa makna itu tidak dipakai, ia malah memaknainya secara syubhat dengan "kiamat". Dhalalah, bukan?

Baca: Qur'anisasi Kata Telolet, Analisis Bahasa Arab Tanpa Yahudinisasi

Ketiga, Nisa menyatakan juga kalau makna Firadisa adalah surga (katanya diakui AFI dari Bahasa Inggris), padahal Faradisa (فراديس) bukan hanya Inggris, tapi juga dari asal kata Arab, jamak dari kata Firdaus (فردوس) yang disebut sebagai salah satu nama tingkatan Surga tertinggi di antara 100 nama tingkatan surga lain.

Ahli Tafsir menyebut kalau Firdaus itu letaknya di bawah Arsyur Rahman. Surga inilah yang diperintahkan Rasul agar kita memintanya, tingkatan surga terbaik dari surga lainnya yang masing-masing jarak antar tingkatan itu tingginya sejauh antara langit dan bumi. (HR Bukhari).

Surga, dengan demikian, adalah simbol kebahagiaan. Makanya para penyair Arab maupun Indonesia sering menggunakan kata Firdaus sebagai simbol kebahagiaan. Ini yang tidak diketahui oleh lulusan universitas jaringan Saudi itu, Nisa oh Nisa!

Pilihan arti dari Nisa, lalu diterjemahkan sendiri olehnya itulah yang menjadikan makna AFI Nihaya Faradisa terkesan sesat menyesatkan. Bagaimana kalau nama anak blilian yang dituduh liberal itu dimaknasi begini:

  1. Apakah di dalam hatiku ada puncak Firdaus (kebahagiaan), atau
  2. Akan aku gapai puncak Firdaus
Dua kalimat di atas akan lebih dekat dengan makna ruhani sebuah nama daripada propaganda atas barisan kata AFI Nihaya Faradisa. Nisa kebelet nafsu, saking bencinya kepada AFI, dia terpaksa membuat makna syubhat nama anak itu hingga mengarah kepada tuduhan liberal.

Bukankah nama adalah doa, bukankah nama adalah harapan masa depan? Apa ada nama yang isinya malah mengutuk dan atau mempertanyakan sesuatu. Toh itu juga bukan nama asli, tapi anagram alias nama pena, semacam nama kunyah dari tradisi Arab, diawali kata Abu-Abu itu (yang kini gemar dipakai untuk afiliasi jihad jahat).

Apa yang dilakukan oleh Nisa kepada nama AFI mengingatkan kita pada upaya jajah bahasa oleh kaum sumbu pendek yang memaknai semaunya sendiri karena dengki. Ingatkah Anda ketika kaum Islam radikal tidak suka gerakan Shalawat Nariyah di Indonesia, mereka lalu menguliti makna Nariyah dengan memprethelinya satu-satu.

Shalawat: Shalawat
Nar: Neraka
Iyah: Pengikut

Shalawat Nariyah akhirnya dituduh shalawat yang mengajak pengikutnya ke neraka. Jika begitu, mari kita pretheli sesuai yang dipropagandakan mereka,

Ali: Sayyidina Ali
Iyah: Pengikut

Jadi, Madrasah Aliyah (MA) itu adalah tempat pendidikan para pengikut Ali, alias sama dengan Syiah. Wkwkwkw. Koplak juga kan?

Mereka yang suka mengotak-atik bahasa untuk propaganda itu memang suka nama-nama Arab untuk mengelabui akal kita. Coba lihat, banyak yang nama aslinya Jawa (misal Gatot), tapi karena dianggap kurang Islami, dia pakai nama pena Al Khotthot, Abu Royan, Abu Gosong, Abu Gosok.

Memang, mereka benar-benar pengikut Abu Jahal modern kayaknya. Tapi anehnya mereka mengkalim nama Arab (baru) itu sebagai nama jihad, padahal aslinya banyak yang hatinya jahat. Suka ngajak gelut. Nisa, gelut yuk! [dutaislam.com/ab]


Aba Hadzifa, bukan nama jihad dan juga bukan suami Nisa Ummu Abdurrahman, 
tapi paham bahasa Arab tanpa propaganda, tinggal di Semarang

Advertisement
edit post icon
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
POSTING LAIN Next Post
JUDUL LAIN Previous Post
 

Ketik email Anda di bawah ini