Dutaislam.com Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1439 H. Kamis, 21 September 2017

  • Habib Luthfi: Wali yang Masa Hidupnya Ahli Darok, Setelah Wafat Akan Ahli Menolong

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Senin, 05 Juni 2017
    A- A+


    DutaIslam.Com - Para wali tetap hidup di alam kuburnya seperti kehidupan mereka di dunia. Para wali yang ahli tahajjud tetap tahajjud di alam kuburnya. Yang ahli tadarus Qur'an tetap tadarus Qur'an. Yang ahli silaturahim tetap silaturahim dan seterusnya. Hal ini sebagai kenikmatan yang mereka alami di alam kubur.

    Jika ada para peziarah berdiri mengucapkan salam dan do'a-do'a, maka si wali yang diziarahi juga ikut berdiri, menjawab salam dan mengamini do'a-do'anya. Jika para peziarah membaca Yasin, tahlil, dsb, maka si wali juga ikut membacanya. Jika para peziarah tawassul, maka beliau ikut mendo'akan.

    Di antara wali ada yang ahli darok (menolong), sering keluar dari kuburnya ke alam dunia ini untuk menolong para pecintanya. Di antara wali yang ahli darok adalah Mbah Hasan Minhajul 'Abidin, Gabutan, Solo. Banyak cerita nyata dari para pecintanya yang membuktikannya.

    Di antara mereka ada yang ditolong dari kecelakaan, perampokan, dll. Sebagian mereka ada yang ingin sowan ke ndalem beliau sebagai rasa terima kasih dengan membawa oleh-oleh, layaknya orang yang akan sowan kiai. Namun, mereka kaget setelah ditunjukkan oleh penduduk setempat, bahwa Mbah Hasan Minhaj itu sudah wafat dan inilah makamnya.

    Dalil tentang hal ini diantaranya adalah ayat yang menjelaskan bahwa para syuhada' (orang mati syahid) tetap hidup di alam kuburnya, yakni ayat :

    [سورة البقرة (٢) : الآيات ١٥٤]
    وَلا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْواتٌ بَلْ أَحْياءٌ وَلكِنْ لاَّ تَشْعُرُونَ (١٥٤)

    Artinya: "Jangan kalian katakan bagi orang yang dibunuh di jalan Allah, (mereka) itu orang-orang mati! Namun, mereka adalah orang-orang yang hidup, tetapi kalian tidak menyadarinya"

    Jika para syuhada' saja mendapat karunia tetap hidup di alam kuburnya, maka para ulama' dan wali pasti mendapat karunia lebih besar, mengingat derajat mereka lebih tinggi.

    Di Indonesia jumlah makam wali sangat banyak dengan pelbagai tingkatannya, nomor kedua setelah Hadlromaut, Yaman. Banyak kitab yang menulis biografi para wali di Timur Tengah, seperti kitab Jami' Karomatil Auliya', Thobaqotul Auliya', dan sebagainya. Sebenarnya, di Indonesia waktu itu sudah banyak para wali, hanya saja tradisi tulis-menulis di tanah air belum semarak. Jadi tidak sempat terbukukan.

    Tingkatan wali tertinggi disebut Al-Quthbul Ghouts, dan hanya ada 1 orang dalam setiap masa. Beliau dijuluki Abdullah. Kemudian, di bawahnya ada Al-Imamani (dua imam), yang salah satunya akan menggantikan Al-Ghouts ketika wafat. Kemudian di bawahnya ada Al-Autad, jumlahnya ada 4 orang.

    Imam Syafi'i dulu adalah pemimpin wali Autad. Kemudian di bawahnya ada Al-Abdal, jumlahnya ada 7 orang, dan seterusnya. Keterangan tentang tingkatan para wali bisa di baca diantaranya di kitab Jami' Karomatil Auliya'.

    [Tambahan dari admin]:
    Imam Malik ra juga pernah berkata :

    بلغني أن الأرواح تسرح حيث شاءت

    Artinya: "Ada kabar sampai padaku, bahwa para arwah itu dapat bepergian ke mana pun mereka mau"

    Tentunya, hanya ruh orang-orang pilihan saja yang mendapatkan karunia di atas, seperti ruh para wali.

    Marilah kita gemar berkunjung kepada para wali, baik yang masih hidup atau yang telah wafat, dengan niat agar kita dapat ikut golongan beliau dalam mendekatkan diri kepada Allah.

    Demikian petikan dawuh Habib Luthfi bin Yahya (bil ma'na), dalam Ngaji Ramadhan, malam Ahad, 9 Ramadlon 1438 H./ 3 Juni 2017 M. [dutaislam.com/ab]

    Source: Page Facebook TintaSantri.

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: