Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Balas Dendam, Makmun Rasyid Dituduh HTI Unnes Dalang Ditolaknya Acara "Training IPK 4"

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Minggu, 07 Mei 2017
    A- A+

    DutaIslam.Com - Mahasiswa HTI Unnes Semarang yang beberapa waktu lalu keok melawan debat dengan Makmun Rasyid, yakni Aab Elkarimi, akhirnya mewek tak terperi ketika acara kurcaci Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bertajuk "Training IPK 4" yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 6 Mei 2017 di Masjid Ulul Albab (MUA) Universitas Negeri Semarang, batal karena didesak puluhan komunitas mahasiswa yang cinta NKRI.

    Namun, broadcast penolakan yang kadung menyebar di beberapa grup WhatsApp tersebut justru dialamatkan kepada Makmun Rasyid. Sebuah situs abal-abal pendukung HTI (http://news.beritaislamterbaru.org) memuat berita ngawur yang menyudutkan Makmun Rasyid sebagai penyebar broadcast yang disebutkan bodong tersebut.

    "Penyebar Khabar Bohong adu domba dan Hoax tak beretika ini adalah Akun FB Makmun Rasyid. Didalam Postingan tertanggal 4 Mei, Makmun memposting mengenai Aliansi Anti HTI dan Mencatut nama nama Organisasi Intra Kampus," begitu tulis blog ingusan bin abal-abal di postingannya berjudul "Tak Punya Moral, Anak Ingusan Liberal Ini Catut BEM Unnes Tolak HTI, Akhirnya BEM Buat Klarifikasi", dikutip Dutaislam.com pada Ahad (07/05/2017) sore.

    Padahal, jika mereka cerdas sedikit, Makmun Rasyid bukanlah penyebar pertama broadcast penolakan acara tersebut. Ketika Dutaislam.com mengetik kata kunci "Sehubungan akan terselenggaranya acara “TRAINING IPK 4” yang akan" di kotak pencian Facebook, ditemukan bahwa pernyataan tersebut sudah viral sejak Kamis pagi, 4 Mei 2017. Diposting puluhan pemilik akun Facebook.

    Ada akun Facebook yang sudah memposting broadcast tersebut pada pukul 09.51 (jelang siang). Jika Anda ingin cek ke lapangan, silakan langsung ke postingan akun Dayaxt Banyubiru (link). Sementara puluhan akun lain ikut menyebarkan pada jam-jam berikutnya hingga sampai kepada postingan Makmun Rasyid pada pukul 23.48, jelang tengah malam. (link).

    Jeda waktu 14 jam itu, oleh kurcaci HTI penolak acara Aab Elkarimi yang menyemar jadi Abdul Qadir tersebut, entah karena dendam kalah debat atau bagaimana, akhirnya dialamatkan kepada Makmun Rasyid. Sungguh perbuatan biadab dan fitnah. Mereka kalap.

    Bahkan mereka mengancam akan memeja-hijaukan. Propaganda HTI yang  menggunakan postingan blog untuk membully sangat katrok dan penuh amuk. Pemilihan nama Makmun Rasyid sebagai target sasaran, -sebagaimana prediksi Makmun sediri kepada Dutaislam.com,- adalah karena dia dianggap sebagai "dalang" diterbitkannya peraturan Rektor Kampus Unnes yang melarang segala bentuk aktivitas ormas mahasiswa anti Pancasila macam HTI pada 6 Mei 2017.

    "Sungguh tercela para pelaku provokasi tak beradab tersebut. Mungkin Meja Hijau bisa membuat mereka menyesal. Makmun Rasyid akhirnya dibully," demikian serangan yang dilancarkan pengasong khilafah kepada Makmun, penulis buku Gagal Paham Khilafah.

    "Saya juga bingung dengan tuduhan mereka. Saya kan hanya menambah nama organisasi saya yang memang menolak khilafah, yakni Harakatuna, karena saya setuju pelarangan itu. Eh, malah dituduh penyebar hoax," kata Makmun kepada Dutaislam.com, via jaringan telepon pada Ahad (07/05/2017) siang.

    Di bawah postingan  tersebut pun, sempat ada komentar yang menyangsikan para pimpinan BEM Unnes. Postingan kurangajar yang menyerang Makmun Rasyid, dianggap netizen juga abal-abal dan tidak memiliki bukti kuat. Pernyataan sikap dari BEM Fakultas Ekonomi, Fakultas MIPA, Fakultas Teknik serta Alhikmah Unnes Semarang, sebagaimana tertulis sebagai penolak HTI, ternyata ditulis menggunakan tangan dengan stempel tanpa kop surat dan tanpa materai.

    "BEM sekarang sedrastis itukah ndak punya surat berkop yang resmi, apa ada aturan yang memperbolehkan surat resmi yang menggunakan stempel resmi dikeluarkan pakai kertas Folio atau bloknote. saya dulu pernah di HMJ dan BEM belum pernah mengeluarkan surat resmi pakai Bloknote, saya hanya kasih saran saja biar elegan sebagai sebuah lembaga yang diakui dan mewakili ribuan mahasiswa... tidak seperti beli kacang di emperan toko," tulis Moch Yunus IKIP Semarang di bawah postingan situs abal-abal tersebut. Ini bukti komentar Yunus.

    Moch Yunus
    Netizen lain bernama Shoib Nur juga meninggalkan komentar di bawah postingan berjudul "Tak Punya Moral, Anak Ingusan Liberal Ini Catut BEM Unnes Tolak HTI, Akhirnya BEM Buat Klarifikasi" itu. Ia justru menanyakan niatan HTI mau tempuh jalur hukum yang dianggapnya thoghut tersebut.

    "HTI mau tempuh jalur hukum? Bukankah tidak ada hukum selain hukum Allah. Sungguh kalau demikian HTI telah keluar dari manhaj kaum salaf. Apa hukum bagi kaum yang tunduk dan ikut pada hukum selain hukum Allah. HTI gagal faham tuh!" ungkap Shoib Nur, dari Kota Semarang.

    Soib Nur

    Kedua postingan itu sempat tayang dan ditangkap kamera Dutaislam.com sebelum akhirnya dihapus karena tidak ada balasan. Maunya ingin membully Makmun Rasyid, ternyata malah balik dibully, kasihan Aab Elkarimi dan kroninya yang memang suka propaganda dan fitnah. Aab akhirnya mewek karena dia tiba-tiba menjadi "kriminal dadakan" sejak kalangan silent majority di Unnes sudah angkat bicara. Ia menulis meweknya itu di akun Facebook ppribadi miliknya.

    Acara yang sudah kadung digelar, lalu ditolak ramai-ramai tersebut, akhirnya memang terpaksa bubar jalan. Namun mereka masih mau menculik para peserta yang sudah kadung mendaftar. Ini salah satu penampakan dari SMS balasan panitia acara HTI kepada peserta.

    HTI culik mahasiswa, bergerilya
    Belum makar kepada mahasiswa saja HTI Unnes Semarang sudah berani menculik-culik mahasiswa tanpa memberi tahu tempat acara yang sudah ditolak itu. Bagaimana kalau mereka mau pegang kuasa negara. Bukan hanya mahasiswa yang diculik, kemaluan Anda mungkin saja akan dibebiri tanpa ampun jika sudah angkat senjata. Sangat tidak bermoral. Ngono kok ngaku berjuang untuk khilafah cung...cung! [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: