Dutaislam.com mendukung gerakan deradikalisasi dan anti teror di media sosial!

  • Waliyullah Tanpa Nama Tanpa Gelar Tapi Setingkat Wali Qutub

    Admin: Duta Islam
    Dimuat: Sabtu, 15 April 2017
    A- A+
    Makam Wali
    Oleh Jefri Nofendi

    DutaIslam.Com - Suatu hari, aku bertemu dengan orang gila (al-majnuni murokkab) tak jauh dari makam seorang wali, ia ngoceh tidak jelas seperti sedang bicara dengan seseorang. Dia berbicara seperti ini:.

    "Andaikan mereka tahu bahwa ada wali "tanpa nama tanpa gelar" yang memiliki kemampuan seperti wali Qutub, niscaya mereka akan datang berbondong-bondong mencium tangan wali tanpa nama tanpa gelar tersebut minta dido'akan hajatnya. Jika wali tanpa nama tanpa gelar itu telah wafat niscaya mereka akan berlama-lama dipekuburannya berdzikir, berdo'a dan bermuhasabah diri meminta ampun kepada Allah Maha Pengampun atas dosa-dosa mereka selama ini. Andaikan mereka tahu jika mereka sami'na wa atho'na kepada wali tanpa nama tanpa gelar niscaya Allah SWT akan angkat derajatnya, Namun sayang sekali karena wali tersebut tanpa nama dan tanpa gelar kewalian, maka ia seringkali dilupakan dan diabaikan setiap orang"

    Aku yang dengar ocehannya kaget dan bergumam, "Hah? Ada wali tanpa nama tanpa gelar yang kemampuannya seperti wali Qutub? Siapakah wali tersebut?"

    Dengan sedikit rasa takut, aku dekati dia karena penasaran ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut? Lalu terjadi dialog:

    Aku: Maaf Mbah, tadi saya dengar mbah ada mengoceh panjang lebar dan berbicara tentang wali tanpa nama tanpa gelar, siapakah sebenarnya wali tersebut mbah? Mengapa sedemikian hebatnya wali tanpa nama tanpa gelar tersebut hingga kemampuan dan derajatnya hampir menyamai wali Qutub?

    Orang gila tersebut menoleh ke arahku dan matanya sedikit melotot lalu berkata: "Sampeyan siapa? Kamu nguping omonganku yah? Apa pentingnya kamu perlu merasa tahu tentang wali tanpa nama," ucapnya dengan nada agak tinggi. Mendengar ucapan suaranya yang agak bernada tinggi terkesan kasar membuat aku sedikit takut dan gentar,

    "Maaf Mbah, bukan maksud saya menyinggung mbah, nama saya Bolank. Saya seorang muhibbin pecinta para wali-wali Allah. Kadang-kadang saya dan teman-teman seperti M Darjo Huda Naja Suluk Ahmad Nawan Nyel berziarah ke makam para wali. Saya penasaran dan tertarik dengan wali tanpa nama tanpa gelar yang Mbah sebutkan, kalau boleh tahu siapakah wali tersebut mbah," tanyaku kemudian, memberanikan diri.

    Orang gila itu tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha ha ha.....dasar bocah goblog, namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, tentu saja aku tidak tahu nama wali tersebut dan apa gelar kewaliannya. Kamu ini tampang keliatan pintar tapi ternyata goblog yah, ha ha ha ha ha.."

    Jleb, terasa menusuk sekali perkataannya. Dia menyebut aku anak bodoh dan goblog, wajahku merah padam menahan sedikit emosi. Sepertinya aku salah sangka. Kukira orang gila tersebut orang yang bisa diajak dialog, tapi nyatanya dia sebut aku bocah goblog.

    Aku memang goblog. Namanya juga wali tanpa nama tanpa gelar, jadi siapa yang tahu nama wali tersebut? Siapa yang tahu gelar wali tersebut sedangkan wali tersebut tanpa gelar? Ah, sudahlah. Sebaiknya kutinggalkan saja dia. Aku pun mulai membalikkan badan dan membuang muka dengan wajah masam hendak meninggalkan orang gila tersebut.

    "Hai Fikri, mau kemana sampeyan. Sampeyan ini bagaimana, sudah datang tidak mengucapkan salam, malah pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Baru diejek begitu saja sudah bermuka masam. Apakah mursyidmu yang seorang wali Qutub tidak mengajarkanmu untuk mengucapkan salam saat datang dan pergi? Apakah mursyidmu yang seorang wali tidak mengajarkanmu untuk bisa bersabar menahan celaan dan hina an?"

    Langkahku terhenti, astaghfirullah! Betul sekali, aku tadi lupa mengucapkan salam sebelum memulai obrolan, dan aku juga pergi begitu saja tanpa mengucapkan salam. Dan tak kusangka, dia menyebut mursyidku seorang wali Qutub, sepertinya dia mengenal mursyidku.

    Kemudian aku kembali menghampirinya dan berkata "Assalammu' alaikum wr. wb. mbah, mohon maaf mbah atas kelancangan saya karena datang dan pergi tanpa mengucapkan salam, sekali lagi saya mohon maaf" (sambil mencoba meraih tangannya untuk menyalami dan mencium tangannya). Tapi orang gila itu menepis tanganku seraya berkata'".

    Aku jadi salah tingkah. Tiba-tiba suasana hening sejenak beberapa menit. Aku diam dan dia pun diam. Suasana serasa seperti di kuburan, "ngapain kamu masih disini?"

    Tiba -tiba suaranya memecah keheningan. Aku agak kaget lalu berkata, "Maaf, anu mbah...anu". Orang gila itu menyela kalimatku, "anu ... anu .... anu-anu apa? Ngomong yang jelas, jangan ngomong jorok, itu anu mu ada di situ, mau pamer dan adu anu? Ayo sini aku ladenin, mana anumu? ayo tunjukkan".

    Annccuuur mukaku rasanya, merah padam, merasa salah tingkah dan bodoh dihadapan orang gila tersebut. Dengan rasa sedikit menahan malu, aku tetap memberanikan diri untuk bertanya, "maksud saya bukan anu mbah. Maksud saya adalah ingin tahu siapa sebenarnya wali tanpa nama tanpa gelar yang mbah katakan saat saya mencuri dengar"

    Orang gila bertanya, "kamu ini nggak pinter pinter juga, sudah berapa lama kamu belajar tassawwuf/spritual?"

    Aku menjawab, "sudah sekitar hampir 7 tahun, mbah"

    Lalu orang gila itu berkata sambil menepuk pahanya, "sudah 7 tahun masa kamu ora mudeng dan tidak tahu wali tanpa nama dan tanpa gelar, memangnya gurumu tidak mengasih tahu?"

    "Saya sering membaca dan mendengar suhbah dari guru saya mbah. Aapi saya belum tahu dan belum pernah dengar ada wali tanpa nama dan tanpa gelar. Dan guru saya pun tidak pernah menyebutkan siapa wali tersebut," jawabku.

    Orang gila itu tertawa terkekeh-kekeh, "sebenarnya gurumu ada menyebutkannya bahkan berulang-ulang kali menyebutkannya. Hanya saja kamu aja yang tidak paham-paham atas maksud gurumu. Lagipula sebutannya wali tanpa nama dan tanpa gelar, jelas gurumu tidak tahu nama wali tersebut dan tidak tahu gelar wali tersebut tapi kamu sendiri tahu siapa wali tersebut, bahkan wali tersebut begitu dekat denganmu".

    Aku bergumam dalam hati, "Apaaa? Aku mengenal wali tersebut? Siapa dia?"

    "Maaf mbah, siapakah yang mbah maksud? Mbah katakan aku mengenal wali tanpa nama dan tanpa gelar tersebut, bahkan mbah mengatakan wali tersebut dekat denganku, siapakah yang mbah maksud?"

    Orang gila itu lagi-lagi tertawa terkekeh-kekeh, "he .. he ... he ... wali tanpa nama dan tanpa gelar itu adalah orangtuamu sendiri. Nah sekarang aku tanya kamu memangnya aku kenal siapa nama orangtuamu dan gelar orangtuamu? Yah aku mana tahu"

    Aku jadi tambah bingung lalu semakin bertanya-tanya, "Orangtuaku? Maksud mbah orangtuaku adalah wali tanpa nama dan tanpa gelar? Mengapa bisa begitu mbah?"

    Orang gila itu mulai menatap mataku dengan tajam, lalu bangkit dari duduknya lalu berkata:

    "Apakah kau tidak tahu tentang Uwaisy al Qarni, salah satu sahabat yang tidak pernah bertemu Nabi secara fisik dan juga seorang wali? Apa yang menyebabkan dia memiliki derajat yang begitu agung hingga namanya terkenal di langit walau di bumi tak ada seorang pun mengenalnya? Kau tahu!! Sahabat Uwaisy al Qarni berkata bahwa ibunya pernah berkata dan mendo'akannya 'anakku Uwaisy aku tahu hatimu begitu sangat mencintai dan menginginkan dapat bertemu Nabi Muhammad SAW, namun kini kau datang padaku dengan wajah dirundung sedih karena tak berhasil menemui Rasulullah SAW dan kau memilih segera pulang karena memikirkan dan mengkhawatirkan aku. ibumu ini, Nak, dan aku ridho padamu, Ya Allah, Kau Maha Tahu, saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah ridha pada anakku, maka terimalah ridhoku ya Allah dan ridhoilah anakku Uwaisy',
    dan apa kau tidak kau tahu bahwa Sulthanul Aulya Syeikh Abdul Qadir Jailani di masa kecilnya ketika dirampok malah berkata jujur tentang kantung emas yang ia bawa, perampok itu heran mengapa ia malah jujur mengatakan kantung emas yang dibawanya padahal setiap orang yang mereka rampok selalu berbohong tentang bawaannya dan berusaha menyembunyikannya dari mereka, lalu kau tahu apa kata Syeikh Abdul Qadir Jailani? beliau berkata 'ketika aku hendak bepergian menuntut ilmu, ibuku berpesan: anakku, bila engkau bertemu dengan siapa pun, maka jujurlah jangan berbohong, sungguh ibu lebih ridho bila engkau jujur sekalipun engkau harus kehilangan harta dan perbekalanmu daripada kau harus kehilangan kejujuranmu".

    Aku tersentak kaget, wajahku mulai pucat pasi. Teringat olehku salah satu hadist yang menyatakan bahwa kita harus berbuat baik dan berbakti pada orangtua kita sendiri. Bahkan Rasulullah SAW sampai tiga kali menyebut kata, "ibumu, ibumu, ibumu, lalu ayahmu".

    Tak kusangka, ternyata aku tertipu oleh nafsu dan egoku sendiri hingga aku tak tahu bahwa selama ini wali tanpa nama yang memiliki kemampuan layaknya wali Qutub adalah orangtuaku sendiri.

    Lalu orang gila berkata lagi:

    "Lihatlah ibumu, berapa lama dia menanggung dirimu dalam perutnya? Apakah kau sanggup menahan perih dan pedih seperti dirinya hanya untuk menginginkan kau lahir di dunia hingga bertaruh nyawa agar kau terlahir sehat dan selamat? Bahkan ketika dalam kondisi darurat ia lebih rela menerima kematian agar kau tetap hidup, apakah kau pernah memikirkan hal ini? Kekuatan apa yang membuat ibumu sekuat dan setabah itu sebagaimana kekuatan awliya yang sanggup menerima dan menanggung beban yang berat? Itu kekuatan Allah SWT yang dianugerahkan kepada ibumu melalui Rahman dan Rahim-nya. Ini adalah sumber kekuatan para auliya".

    Aku diam seribu bahasa rasa hati ini ingin menangis sejadi-jadinya, aku serasa dihakimi dalam hari perhitungan.

    Lalu orang gila itu berkata lagi dan lagi, "kau bangga dan takjub dengan karomah para wali tapi pernahkah kau banggakan dan takjub dengan karomah ibumu yang Allah SWT anugerahkan kepadamu? Pernahkah kau bangga dan takjub dengan karomah ibumu yang mengajarkan berkata-kata ketika masih bayi? Tidurnya sedikit karena kau selalu nangis dan rewel sebagaimana para auliya yang tidurnya sedikit karena memikirkan umat Nabi Muhammad SAW yang banyak berkeluh kesah dan merengek, air susunya seakan-akan tak pernah habis setiap kali kau merengek ingin netek, apakah kau tak tahu kalau itu adalah bukti karomah ibumu? Tidakkah kau pernah mendengar kalimat ini:
    ridho orangtua adalah ridho nya ALlah. Para auliya, mereka menjadi wali Qutub dikarenakan ridho dari orangtua mereka. Tidakkah kau sadar bahwa doa dan harapan kedua orangtuamu hampir setara dengan wali Qutub?"

    Astaghfirullah, ampuuunnn! Mendengar celotehan orang gila tersebut seakan petir menyambar seluruh tubuhku. Badanku rasanya hancur binasa, ingin sekali aku rasanya menangis sekuat-kuatnya.

    Orang gila itu berdiri lalu berkata sambil menunjuk ke arahku, "lihat dirimu, kelak kau akan jadi seorang bapak, apakah kau tahu karomah bapakmu selama ini? Lihat tangannya, lihat punggungnya lihat kulitnya, setiap hari ia membanting tulang agar kau tetap bisa makan, tetap bisa tertawa, tetap tersenyum, bekerja siang dan malam hanya untuk mengabulkan segala macam pinta dan rengekmu. Ketika kau kecil, dirimu melakukan kesalahan, dialah orang yang paling depan membelamu. Ketika kau dalam bahaya, dia rela menghadapi bahaya itu untuk menyelamatkanmu, dia tanggung bebanmu dan ibumu di pundaknya, walau kian rapuh, dia tetap berusaha menopang. Tidakkah kau sadari bahwa bapakmu itu seorang Mujahid fi Sabilillah? Yang setiap hari berjuang menafkahi kehidupanmu bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun. Dia, bapakmu adalah uujahidin kebanggaanmu".

    Ya Rabb, aku seperti hancur lebur mendengar ocehan orang gila tersebut. Bahkan ternyata selama ini aku yang gila, bukan dia. Aku melupakan siapa sesungguhnya orangtuaku sendiri. Aku melupakan semua yang mereka beri padaku. Bahkan aku sering takjub akan pesona dan karomah wali tapi aku tak pernah sadar dengan orangtuaku sendiri yang merupakan wali tanpa nama dan tanpa gelar kewalian.

    Sesaat kemudian, orang gila itu berlalu meninggalkanku tanpa sepatah katapun. Aku mengikuti dia dari belakang ingin tahu ke mana dia pergi. Ternyata dia mendatangi dua gundukan tanah, dan dia duduk di sana.

    Mulutnya komat kamit seperti orang yang berdialog dan berbicara, namun karena dia menggunakan bahasa daerah yang tidak kumengerti, aku tidak tahu apa yang dia ucapkan, kemudian dia tertawa kebahak-bahak sambil senyam senyum di hadapan dua gundukan tanah yang ternyata itu tanah kuburan.

    Aku tak tahu kuburan siapa itu, namun aku berhusnudzon mungkin itu kuburan seorang wali besar, karena dari celoteh orang gila itu sepertinya dia tahu betul tentang wali. Jadi aku pikir, itu kuburan seorang wali.

    Tiba-tiba, setelah selesai tertawa, dia diam, suasana menjadi hening. Kemudian kulihat dia mulai menangis, meneteskan airmata dengan suara terisak-isak. Tangisan begitu pilu sampai serasa menyayat hatiku untuk turut menangis.

    Aku tak tahu apa yang diucapkannya dalam logat daerah. Ucapannya seperti sedang curhat pada kuburan tersebut sambil tangannya mengelus-elus kuburan itu. Tangisan kian jadi bahkan meraung. Aku sedih bercampur bingung karena tak mengerti dengan bahasa yang diucapkannya, namun akhirnya aku mengerti mengapa dia meraung-raung menangis di kuburan yang kusangkakan seorang wali.

    Di tengah isak tangisnya, aku mendengar dia mengucapkan kalimat "Mbok ...", lalu pada kuburan yang sebelahnya dia berkata "Mbah...". Aku jadi ingin menangis sejadi-jadinya. Ternyata itu kuburan orangtuanya. Ternyata, itu kuburan seorang wali tanpa nama tanpa gelar.

    Kini aku baru paham mengapa orang-orang mulai menganggap gila. Sebab dia sering tertawa, menangis, meraung dan bercakap-cakap sendiri di kuburan. Seandainya aku jadi dia, mungkin aku akan sama dengannya, menjadi gila karena ditinggal pergi oleh kedua orang yang paling disayangi.

    Aku membalikkan badanku, bergegas ingin pulang ke rumah untuk menemui kedua orangtuaku yang masih hidup. Aku merasa beruntung masih memiliki wali tanpa nama tanpa gelar yang masih hidup. Sepanjang jalan aku berdoa, allahumma firlana dzunubanna waliwalidayya warhamhumma kama robbaya nishagiro!

    NB:
    Aku pernah bertengkar dan melawan kepada kedua orangtuaku dulu. Tapi ketika aku sadar mereka berdua adalah wali tanpa nama tanpa gelar aku akhirnya sadar merekalah yang selama ini yang melindungi, mengawasi, membimbing, dan berusaha memenuhi kebutuhanku. Tanpa mereka, aku bukan siapa siapa dan bukan apa-apa. Aku bersyukur, kesadaranku datang sebelum mereka meninggalkanku. Buat teman-temanku, jika "wali tanpa nama tanpa gelar"mu telah tiada, kunjungilah mereka. Kunjungi dan datanglah pada mereka. Bawalah hadiah berupa doa dan hadiah pahala bacaan Al-Qur'an. Orang tua kita mungkin bukanlah sosok ternama dan tidak dikenal. Mungkin tak pernah sekolah dan tak punya gelar, namun mereka adalah wali kalian "wali tanpa nama dan tanpa gelar". [dutaislam.com/ab]

    Terimakasih telah membaca Portal Dutaislam.com (DI). Kami bagian dari jaringan admin web Aswaja. Jika tertarik berlangganan artikel DI, silakan klik FEED. Punya naskah layak terbit? Silakan klik KIRIM NASKAH. Ingin produk dikenal luas, silakan klik IKLAN
  • BEBAS BERKOMENTAR: